Toraja Never Ending Story

Terjebak Rindu pada Magisnya Toraja

Toraja adalah kota yang berhasil membuat aku jatuh cinta. Kadang saat memikirkan kota ini saja, ada rindu yang menggebu. Hingga rapalan kata magis terucap : aku rindu, ingin kembali ke Toraja.

“Setiap traveler akan menemukan jodohnya masing-masing pada satu tempat. Yang akan membuatnya bolak-balik ke tempat tersebut dan mungkin tempat itu adalah Toraja buat kamu Put,” tutur Kak Nugi

Tak peduli sudah ada berapa banyak cerita tentang Toraja di blog ini. Aku memang masih terjebak magis kota ini. Kota yang letaknya cukup jauh dari Banjarmasin. Perlu perjalanan 1 jam dengan pesawat menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, lalu dilanjutkan perjalanan dengan sleeping bus antar kota selama 8 jam. Tapi tenang saja, saat ini Bandara Buntu Kunik Toraja sudah beroperasi.

Dan inilah ceritaku yang saat ini masih terjebak rindu pada magisnya Toraja. Entah karena aroma adatnya atau alamnya atau kopinya yang nikmat. 

logo lilpjourney
kete kesu toraja

12 jam di Toraja : jalan-jalan, ngopi, dan tidur di kursi cadangan

Dua belas jam di Toraja yang mengubah pandanganku tentang kota ini. Terlebih saat sapaan “Halo” berhasil membuatku kembali ke Land of the Heavenly Kings dan menciptakan Toraja, never ending story.

Perjalanan pertama ke Toraja bermula saat long weekend bulan September 2017. Entah ada angin apa hingga aku ditawari libur oleh bos.  Tidak hanya itu, beliau juga memberikan hadiah berupa tiket pesawat dan juga hotel.

“Putri sama Cece pilih aja mau ke mana, tapi hari Senin masuk ya,” tutur beliau. 

Sulawesi menjadi destinasi incaran aku dan Cece. Aku yang waktu itu sedang keracunan dengan upacara adat di Toraja mengusulkan pergi ke Toraja.

Sedang si Cece mempunyai usul lain : rugi kalau kita satu minggu cuma di Toraja melihat kuburan aja kata teman ku, jadi kita ke Morowali aja sekalian toh gratis.

Dua hari setelah diperintahkan liburan, kami pun berangkat. Menginap satu malam di Makassar, kemudian berangkat ke Kendari. 3 hari bermain dengan laut Morowali, kami kembali ke Makassar.

Sebagai seorang traveler, kami terbiasa mencari informasi di Google. Jika di Kendari semua perjalanan wisata sudah di handle oleh jasa tour, di Toraja kami mandiri. Berbekal ponsel pintar dan informasi teman.

Kabar dari Google menyebutkan bahwa kami harus ke Terminal Daya Makassar untuk mendapatkan bus ke Toraja. Aku kira naik bus ke Toraja seperti naik bus pada umumnya.

Menunggu di terminal, kemudian mencari bus yang sesuai jurusan dan duduk di kursi yang kosong. Ternyata harus beli tiket di Perusahaan Otobus (PO) dulu.

Kesalahan informasi yang kami dapatkan akhirnya mengantarkan aku dan Cece duduk di kursi paling belakang bus. Kursi ini biasanya menjadi tempat tidur supir bus cadangan.

Padahal kalau kami beli tiket bus, tentu kami bisa tidur nyaman di sleeping bus Makassar-Toraja. Setiap kursi di sleeping bus ini dilengkapi dengan bantal dan selimut. Cukup nyaman untuk membunuh waktu 8 jam perjalanan.

Sekitar pukul 06.30 pagi, aku sampai di pemberhentian bus Rantepao. Saat aku dan Cece turun dari bus, ada banyak supir becak motor menawarkan jasa.

Usut punya usut becak motor ini merupakan salah satu transportasi khas Toraja. Di sini  becak motor itu bernama “sitor”, taksi motor.

Rentetan kalimat dalam bahasa Toraja yang baru pertama kali aku dengar membuat kebingungan. Mereka yang melihat pun pasti tau kalau aku dan Cece baru pertama kali ke Toraja.

Toraja dalam 12 Jam

Perjalanan kami di Toraja baru dimulai saat sepeda motor yang kami sewa datang. Signal handphone yang timbul tenggelam menjadi kendala kami waktu itu.

Akhirnya aku mencoba untuk minta tolong om rental motor untuk membuatkan denah dan rekomendasi wisata di Toraja. Om rental motor memberikan pesan : nanti pas di jalan tanya saja dengan warga sekitar, masyarakat Toraja ramah kok.

Alhamdulillah 12 jam di Toraja berjalan dengan lancar. Aku dan Cece juga berhasil mengunjungi beberapa destinasi wisata seperti :

  • Ke’te Kesu
  •  Lemo
  • Kalimbuang Bori’
  • Batutumonga (hamparan sawah cantik)
  • Lo’komata
  • Jak Koffie
  • The House Coffee

Hingga akhirnya aku sadar, bahwa Toraja bukan hanya sekadar Ke’te’ Kesu. Tapi di kota ini, kalian dapat menemukan banyak komplek tongkonan. Jadi jangan menjadi “turis”, tapi jadilah “traveler”.

ma nene toraja

Halo papa mummy! Datang ke upacara adat ma’nene’ di Pangala’

Terimakasih sudah menjadi guide super baik, aku beri bintang 5 untuk kamu. Pada akhirnya Ma’nene’ bukan sekadar upacara “seram”, tapi ada banyak makna kehidupan yang dapat kalian temui saat menghadiri upacara ini. Dan juga ada penggalan kenangan manis di dalamnya.

Ternyata 12 jam di Toraja tidak cukup. Masih ada perasaan ‘kurang’ yang membuat aku harus kembali ke Toraja. Namun, sejujurnya aku pesimis. Jauhnya jarak dan membayangkan traveling ke Toraja sendiri, sepertinya bukan pilihan tepat.

Tapi setelah sebuah pesan masuk di aplikasi chat Line, seketika seperti Tuhan sedang memberi jalan untuk kembali ke Toraja. Menyelesaikan apa yang aku mulai dan menggali beberapa informasi untuk aku tulis di blog.

Jadi saat aku pulang dari Toraja kemarin, nggak sengaja kenalan dengan orang Toraja di dalam bus. Dia menyapa karena “Jak Koffie” (sekarang berganti nama menjadi Djong Koffie). Ah nama coffee shop ini tentu sudah aku catat dalam sejarah perjalanan aku ke Toraja.

Pesan singkat yang awalnya hanya sekadar kata ‘halo’ berganti dengan informasi upacara adat mayat berjalan atau ma’nene’. Upacara adat ini termasuk langka dan hanya diselenggarakan setiap 3 tahun sekali.

Awalnya aku cukup ragu. Terlebih saat melihat video di YouTube tentang upacara adat ma’nene. Pertanyaan siap atau nggak siap ke Toraja sendirian dan bertemu mummy terus terngiang.

Tapi semua ragu itu sirna saat akhirnya aku menginjakan kaki lagi di Toraja pada Jum’at pagi 23 Agustus 2018. Tenang, kali ini aku sudah memesan tiket bus.

Upacara adat ma’ne’ ini dilaksanakan di Desa Pangala’. Awalnya aku cukup deg-degan. Apalagi saat satu persatu peti dikeluarkan dari patane.

Berasarkan penelusuranku saat menghadiri upacara adat ini, sebenarnya ma’nene’ tidak hanya menyimpan cerita magisnya Toraja. Tapi bagaimana cara orang-orang Toraja sangat memuliakan leluhur mereka.

Jika kalian menghadiri upacara adat ini tentu kalian akan merasakan bagaimana haru saat bertemu orangtua atau nenek kalian yang sudah meninggal dan merasakan harmoni toleransi di Toraja.

rambu solo

Rambu Solo’ Toraja

Kau datang, tatkala sinar senjaku telah redup. Dan pamit ketika purnamaku penuh seutuhnya – Ku Kira Kau Rumah (Amigdala)

Awalnya aku kira kau rumah, hingga akhirnya aku menemukan arti sesungguhnya dari perjalananku di Toraja. Bahwa Toraja bukan sekadar tentang “kamu”. Hai! Aku berhasil jalan-jalan, ngopi, dan menikmati acara Rambu Solo’ tanpamu.

Ternyata kalimat om rental motor dulu tidak salah. Orang Toraja itu ramah. Bahkan mereka mempunyai toleransi yang tinggi.

Kemarin saat ke upacara ma’nene’, aku yang seorang muslim disediakan makanan yang halal. Mereka juga menjelaskan menu makanan apa yang mereka sediakan.

Saat ketiga kali aku datang ke Toraja, lagi-lagi rapalan doa ku terkabul. Aku ingin merasakan hidup seperti orang Toraja : tidur di tongkonan, bangun pagi disambut gumpalan kabut, dan menikmati secangkir kopi di tongkonan.

Kali ketiga aku ke Toraja mempunyai tujuan untuk melihat upacara adat rambu solo’. Katanya di Bulan Desember banyak diselenggarakan upacara adat ini.

Berbekal nomor telpon penginapan tongkonan yang diberikan seorang traveler, aku pun berangkat lagi ke Toraja. Saat aku datang, Ibu Sarjani (pemilik penginapan) menyambut dengan ramah.

Beliau langsung mempersilahkan aku masuk ke tongkonan dan memilih kamar. Aku memilih kamar paling belakang. View pegunungan yang dapat dilihat dari kamar tersebut membuat aku langsung jatuh hati.

Setelah istirahat dan menyantap kopi, Ibu Sarjani mengajak aku makan siang. Lagi-lagi aku terpesona dengan toleransi masyarakat Toraja. Sebelum mereka menyediakan makan, mereka selalu bertanya : muslimkah?

Jika kalian mengira ini adalah kali pertama dan terakhir aku menginap di tongkonan Landorundun, maka kalian salah. Karena desa ini seakan punya magisnya sendiri yang membuat aku jatuh cinta dan ingin kembali.

mama sarjani dan masyarakat toraja

Harmoni Toleransi di Desa Landorundun Toraja

Maaf ya mama, kemarin tak sempat mengirim berita bahagia atas pernikahanku. Semoga jika ada umur dan rezeki, kita bisa bertemu kembali.

Setelah kunjungan bulan Desember, aku kembali lagi ke Toraja. Kali ini aku kabur dari rotasi bumi selama 7 hari. Selama seminggu inilah aku sembunyi di Toraja, tepatnya di rumah Ibu Sarjani.

Bahkan temanku yang orang Toraja saja bingung. Kamu ngapain bolak balik ke sini lagi? Hahaha. Jika aku ditanya seperti itu, hanya ada satu kalimat : semakin aku tau tentang kota ini, semakin aku tidak tau apa-apa. Jadi sudah taukan kenapa aku kembali.

Bahkan dulu sempat tersirat pemikiran paling “normal” : apa aku nikah sama orang Toraja aja ya, jadi bisa menetap di sini. Tuhan memang merealisasikan keinginan itu, menghadirkan “holiday fling” yang membuat aku lebih betah di Toraja.

Baiklah mari kembali ke cerita di Landorundun. Karena kali ini aku sendirian ke Toraja, jalan-jalannya semakin istimewa. Jujur kadang jalan-jalan bareng travelmate memang menyenangkan, tapi kalau tidak satu frekuensi hanya membuat liburan terasa menyebalkan.

Pernah merasakan jalan-jalan dengan VIP card? Yang bisa masuk ke mana pun bak presiden? Nah kali ini walaupun nggak seistimewa presiden, tapi merasakan feel itu.

Jalan-jalan ditemani Mama Sarjani dan Ne’ Lembang (suami beliau). Bahkan sampai diajak ke acara keluarga seperti upacara rambu solo dan rambu tuka! Well, tentu saja ada candaan mama-mama di sana : sudah Putri menikah sama orang Toraja saja.

Pada upacara rambu tuka, lagi-lagi aku terpesona dengan harmoni toleransi di Toraja. Waktu itu setelah acara ‘temu manten’, dilanjutkan dengan acara makan bersama. Sewaktu aku mau mengambil mie goreng, tiba-tiba seorang ibu-ibu mengambil mienya. Lalu beliau berkata :

Sebentar Putri, saya cek dulu. Takutnya ini pakai minyak yang tidak boleh Putri makan.

Seketika hatiku luluh. Aku sendirian di kota ini, aku orang asing. Tapi begitu dijaga di sini. Kalian tau kan rasanya. Perasaan hangat sewaktu kita diberi perhatian.

Saat aku akan pulang, ada sedikit drama terjadi. Suami Mama Sarjani keberatan. Kata beliau besok seharusnya kami datang ke pernikahan kerabat mereka. Kali ini konsep rambu tuka’nya berbeda. Tapi dengan berat hati aku tetap harus pulang.

Putri akan kembali lagi. Ada rindu yang aku selip di pojok tongkonan ini. Bersama dengan perasaan sedih saat harus pulang.

pasar hutan bambu toraja

Pasar Hutan Bambu To’Kumilla Toraja

Kabur dari rotasi bumi dan kembali ke Toraja. Aku masih ingat sosok di balik kaca mata hitam itu, yang pernah menatap mataku seraya berkata : I’ll gonna miss you.

Sebuah pesan singkat masuk ke WhatsApp. Mama Sarjani mengirim sebuah foto berisi pengumuman Grand Launching Pasar Hutan Bambu To’kumila. Selang beberapa menit, teleponku berdering. Nama Mama Sarjani Tongkonan Kale Landorundun, terpampang. Segera aku mengangkat telepon.

Putri masih ingatkan hutan bambu yang kita kunjungi tempo hari? Saat kita baru pulang dari sekolah. Nah itu mau resmi dibuka bulan Juni 2019 ini.

Kalian bisa menebak apa kelanjutannya? Yap! Aku langsung memesan tiket pesawat ke Toraja LAGI. Jika dipikir-pikir aku bisa saja pergi ke lain tempat, tapi entahlah. Mungkin seperti kata om Fyant, aku sudah kena magis Kota Para Raja ini.

Pada kesempatan kali ini, akhirnya misi melihat berbagai pentas seni di Toraja selesai. Pada acara grand launching ini, ada banyak pentas seni yang dihadirkan. Tidak hanya itu, ada pasar tradisional yang menjual berbagai produk hasil alam di Toraja. Semua makanan yang disajikan insyaAllah juga halal.

Tanpa membuang waktu, aku langsung menyantap susu tedong dan piong bo’bo’. Ternyata menikmati susu kerbau Toraja hangat dan ketan yang dibakar bisa senikmat ini ya. Apalagi hawa Tikala pagi itu lebih dingin dan syahdu dari biasanya.

Aku bersyukur sudah mengambil langkah besar dengan meninggalkan Banjarmasin dan kembali ke Toraja. Walaupun pada hari Senin aku mendapatkan : surat pindah. Sejujurnya aku malah lega. Terlalu lama berada di satu pekerjaan akan terasa membosankan dan kadang bos juga jadi posesif.

Setelah pindah kerja, toh aku masih bisa ke Toraja lagi. Nggak bosan? Entahlah. Karena Toraja, never ending story.

toraja art coffee

Toraja, Never Ending Story

Aku ingat pernah ke Toraja enam kali. Tapi dari semua timeline perjalananku, aku nyaris lupa kenapa aku harus pergi ke Toraja pada bulan September 2019. Perjalanan terakhirku ke Toraja sebelum pandemi datang.

Mungkin perjalanan ini adalah firasat bahwa aku akan kembali lagi tapi entah kapan.

Tapi ada penggalan yang aku ingat pada perjalanan ini. Ialah mengunjungi Toraja Art Coffee. Sebuah coffee shop yang direkomendasikan oleh barista Makassar.

Saat masuk ke coffe shop ini, aku langsung tertegun. Coffee shop ini berada di rumah seorang pecinta kopi dan juga seniman Toraja Om Fritz Allo Karaeng Pongsamma. Di area depan rumah, ada kolam ikan dan pendopo kecil. Di terasnya ada beberapa hasil seni seperti lukisan.

Secangkir kopi specialty Toraja Sapan aku pesan. Dikalangan pecinta kopi, kopi Toraja Sapan merupakan salah satu kopi mahal dan terbaik dari bumi Indonesia. Belum selesai kopi Toraja Sapan aku santap, Om Fritz dan Kak April (istri om Fritz) menyajikan cold drip coffee. Kali ini kopi diolah dengan gula aren. Tentu saja rasanya sangat “pas”.

Percakapan kami tentang kopi sangat menarik. Saking menariknya, Om Fritz sampai mengeluarkan semua koleksi green beansnya! Sewaktu kami sedang membicarakan kopi, tiba-tiba aku menemukan sebuah cerita menarik. Ternyata Om Fritz dan Mama Sarjani masih bersaudara. Waah sungguh benang merah yang menarik.

Lagi-lagi waktu yang selalu memisahkan. Kali ini aku punya janji dengan Om Fritz. Mendaki Gunung Sesean dan ke perkebunan kopi Toraja Sapan. Ya ampun, saat mengetik kalimat ini rasanya aku ‘terbang’ ke Toraja dan berada di tengah perkebunan kopi, berbincang dengan petani kopi, serta menyeduh secangkir kopi Toraja.

Sayangnya pandemi dan PPKM darurat membuat aku harus duduk diam di depan komputer. Bak mimpi buruk yang tidak memberikan pilihan selain bangkit dan menerima semua kehidupan baru dengan bingkai masker serta menjaga jarak. Jika kalian bertanya apakah aku rindu? YA! Tentu saja! Aku bahkan belum sempat mengucapkan terimakasih dan memeluk Mama Sarjani.

Toraja Never Ending Story

Rekomendasi Tempat Wisata dan Coffee Shop Di Toraja

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, aku mau memberikan rekomandasi tempat wisata dan juga coffee shop di Toraja yang sayang jika kalian lewatkan saat ke Toraja.

Jak Koffie Toraja

1# Djong Coffee

Dulu namanya Jak Koffie. Lantas berganti menjadi Djong Coffee. Jika kalian seorang pecinta kopi, sebaiknya tidak melewatkan coffee shop yang berada di Rantepao ini.

Sajian kopi di sini selalu berhasil membuat aku tersenyum sembari memutar semua memori perjalananku ke Toraja. Sejujurnya Jak Koffie mempunyai jasa besar atas perjalananku di Toraja. Bagaimana tidak, gara-gara cerita tentang Jak Koffie aku kenalan dengan orang Toraja pertama dan akhirnya bolak-balik ke Toraja.

Sajian kopi komunal di Djong Koffie juga tidak pernah membuat aku bosan. Apa itu kopi komunal? Sebaiknya langsung tanyakan ke Kak Micha, owner Djong Coffee.

Semoga kalau aku ke sini lagi, masih diterima dan disajikan kopi komunal.

cerita landorundun toraja

2# Tongkonan Kale Landorundun

Sebuah komplek tongkonan yang ada di Desa Landorundun, Sesean Suloara, Kabupaten Toraja Utara. Jika kalian suka membaca buku dongeng, tentu tidak asing dengan cerita Putri Landorundun. Seorang putri bangsawan dari Toraja yang punya paras rupawan dengan rambut panjang bak Rapunzel.

Kenapa aku merekomendasikan Tongkonan Kale Landorundun? Jika kalian tertarik menginap di rumah adat Toraja, tak ada salahnya untuk memilih menginap di sini. Pilih kamar bagian belakang yang menghadap ke gunung. Sewaktu pagi kalian akan disambut gumpalan awan bak tinggal di negeri di atas awan.

3# Erong Lombok Parinding

Pertama kali ke Erong Lombok Parinding ini setelah acara Ma’nene. Saat itu Om Fyant tanya mau ke mana hari ini. Karena aku sudah pernah ke Ke’te’ Kesu, jadi dia membawaku jalan-jalan ke situs pemakaman kuno yang lain. 

Sepanjang jalan aku melewati desa-desa yang indah dengan masyarakat yang ramah. Bahkan ada komplek tongkonan yang sangat cantik. 

Untuk sampai ke pemakaman ini, kita harus berjalan meniti anak tangga dengan cor semen. Gunakan sepatu yang nyaman, jangan sampai terpeleset. Saat sampai di sana, aku langsung terpukau. Ada banyak erong atau peti dengan umur ratusan tahun.

Jika kalian ingin berkunjung, Kuburan Erong Lombok Parinding ini berada di Dusun Parinding Matampu Kecamatan Sesean. Jaraknya kurang lebih 7 km dari kota Rantepao.

buntu burake

4# Buntu Burake

Buntu Burake, merupakan salah satu wisata religi yang terletak di Kabupaten Tana Toraja. Disini terdapat patung Yesus dan jembatan kaca. Wisata yang telah diresmikan pada 31 Agustus 2015 ini memang tengah menarik perhatian pengunjung.

Tak hanya karena mengusung tema wisata religi, tapi juga jembatan kacanya yang pada Desember 2018 kemarin resmi di buka oleh Presiden Ir. Joko Widodo. Jadi jangan lupa berfoto di jembatan kacanya ya!

museum ne'gandeng

5# Museum Ne’Gandeng

Museum Ne’ Gandeng merupakan museum yang berada di tengah hamparan sawah. Tempat ini awalnya merupakan tempat pelaksanaan prosesi pemakaman Ne’ Gandeng, leluhur kampung, di tahun 1994.

Ne’ Gandeng semasa hidupnya dikenal sebagai wanita yang memperhatikan kehidupan masyarakatnya. Maka sebagai bentuk penghormatan, dibangunlah museum ini. Selain dijadikan tempat wisata, museum ini juga tempat diselenggarakannya acara adat bagi masyarakat sekitar. Oh iya disini juga ada hotelnya loh.

toraja art coffee

6# Toraja Art Coffee

Jika kalian pecinta kopi, maka wajib hukumnya mampir ke Toraja Art Coffee. Coffee shop ini menyajikan kopi dengan kualitas terbaik.

Tidak hanya itu, pasangan yang mengelola coffee shop ini sangat humble. Ada banyak cerita tentang Toraja dan kopi yang bisa kalian dapatkan saat ke mari. Jangan lupa untuk membeli beans kopi Toraja.

Tidak hanya menyeduhkan kopi, Om Fritz juga turun langsuku ke perkebunan kopi, melakukan proses kopi sendiri, dan roasting juga dilakukan secara independen. Yakin mau melewatkan Toraja Art Coffee?

7# Lo’lai

Saat pertama kali ke Toraja tahun 2017, salah satu tempat wisata yang aku incar adalah Negeri Di Atas Awan Lo’lai Toraja. Yang membuat aku ngiler sama tempat ini adalah view Toraja berbalut awan dengan Tongkonan yang kokoh di antara hamparan sawah dan hutan.

Sejak tahun 2016 destinasi wisata yang berada sekitar 11 kilometer dari Ibukota Kabupaten Toraja Utara, Rantepao ini selalu ramai pengunjung. Berada di ketinggian 1300 mdpl membuat Lo’lai dijuluki Negeri di Atas Awan. Akses jalan ke Lo’lai ini sangat mulus dan bisa dilalui dengan berbagai macam kendaraan, termasuk matic dan vespa.

Daftar Tempat Wisata dan Coffee Toraja Lainnya

kampung ollon toraja

Kampung Ollon Toraja

Desa Buakayu, Tana Toraja

kete kesu toraja

Ke’te Kesu

Pantanakan Lolo, Kesu, Toraja Utara

goa londa toraja

Goa Londa

Desa Sandan Uai, Kec. Sanggalangi, Kab. Toraja Utara

kalimbuang bori toraja

Kalimbuang Bori’

Bori, Sesean, Kabupaten Toraja Utara

pango pango toraja

Agrowisata Pango-pango

Kelurahan Pasang, Kec. Makale, Kab. Tana Toraja

loko mata toraja

Lo’ko’ Mata

Sesean Matallo, Sesean Suloara, Kabupaten Toraja Utara

kaana coffee

Kaana Toraya Coffee

Jl. Pongtiku No.8, Karassik, Rantepao, Kabupaten Toraja Utara

kaa coffee toraja

Kaa Coffee Toraja

Jl. Poros Rantepao – Makale No.171

kapitoo toraja

Kapitoo

Kalimbuang, Ka’do, Sikuku, Kapala Pitu, Kabupaten Toraja Utara

Mengenal Tiga Upacara Adat Toraja

rambu solo toraja

1# Rambu Tuka'

Tarian Pagelu pada rambu tuka

Rambu Tu’ka adalah upacara adat yang dilakukan keluarga, desa, dan orang Toraja untuk merayakan kebahagiaan. Kata Rambu Tu’ka secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai ‘asap naik’. Upacara adat ini selalu dikaitkan dengan kehidupan. 

Ada banyak Rambu Tuka’ seperti Aluk Tanaman (pesta ritual yang diadakan setelah panen berhasil), Aluk Ma’lolo (diadakan untuk merayakan kelahiran), Mangrara Banua (merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan). Acara pernikahan juga termasuk dalam Rambu Tuka’.

Saat kemarin aku menghadiri acara pernikahan orang Toraja. Ada banyak sekali budaya Toraja yang tersaji seperti tarian, lagu, dan prosesi adat menggunakan bahasa Toraja. Sungguh upacara adat yang sayang untuk dilewatkan jika kalian ke Toraja.

2# Rambu Solo'

rambu solo' toraja

Rambu Solo’ adalah upacara kematian Toraja yang diselenggarakan dengan meriah dan makna budaya yang mendalam. Rambu solo merupakan tanda bahwa seseorang berpindah dari yang hidup untuk bergabung dengan leluhur. Tidak menghilang atau dilupakan, tetapi diangkut ke wujud lain.

Bagi masyarakat Toraja, kematian dipandang sebagai tujuan akhir kehidupan. Maka tidak heran jika seorang Toraja meninggal, keluarga dan teman-teman akan merayakannya di pemakaman. Tidak heran bukan jika upacara adat yang satu ini diselenggarakan dengan sangat meriah dan bahkan bisa menghabiskan uang ratusan bahkan sampai milyaran rupiah. 

Sejujurnya hingga sekarang aku belum pernah menyaksikan proses Rambu Solo’ dari awal hingga selesai. Ada sebersit rasa penasaran tentang prosesi adat ini. Kelak kalau aku sudah resign, aku akan mencoba menetap di kota ini barang 2 bulan untuk menyaksikan upacara adat ini. 

3# Ma'nene'

ma nene toraja pangala

Mengutip dari beberapa sumber, yang terlepas dari cerita faktual atau bukan, masyarakat Toraja percaya bahwa memuliakan orang yang sudah meninggal akan membawa keberkahan bagi kehidupan.

Berawal dari cerita seorang pemburu yang menemukan jenazah di tengah jalan dengan kondisi yang memprihatinkan. Hatinya tergerak untuk memakaian jenazah yang telah menjadi tulang belulang tersebut dengan baju yang ia kenakan dan memindahkannya ke tempat yang lebih layak. Alangkah terkejutnya si pemburu ketika ia sampai di rumah, ia mendapati ladangnya sudah siap panen, padahal belum tiba waktu panen. Tak hanya sampai disitu, keberuntungan demi keberuntungan terus terjadi di kehidupan si pemburu tersebut.

Dari cerita tadi, akhirnya tradisi ma’ nene’ ini lahir dan berlangsung hingga saat ini. Bagi masyarakat Toraja ma’ nene’ mempunyai dua makna dalam pengartiannya. Pertama, seperti keyakinan orang Toraja pada umumnya, istilah ma’ nene‘ dipahami dari kata nene’ alias “nenek” atau leluhur/orang yang sudah tua. Dan kedua, ada yang yang memaknainya dengan arti yang sedikit berbeda. Nene’ artinya orang yang sudah meninggal dunia. Baik mati tua maupun mati muda sama-sama disebut nene’.

Toraja, Never Ending Story

Seperti yang sering aku sebut dalam tulisanku tentang Toraja : sebuah perjalanan yang tak kunjung menemui ujung. Karena semakin banyak aku menggali cerita tentang Toraja, maka semakin banyak pula hal yang tidak aku ketahui.

Mungkin sudah banyak tempat yang aku kunjungi di sini. Ada banyak kenangan yang aku titipkan disetiap bangku kedai kopi yang aku singgahi dan juga aku sudah punya banyak teman di sini. Bahkan jika kalian meminta rekomendasi tempat wisata di Toraja, aku akan punya banyak list tempat wisata yang tidak akan cukup kalian kunjungi dalam satu minggu.

Cerita aku dan kamu, mungkin pada akhirnya menemui ujungnya. Sayangnya, aku memang sudah jatuh cinta pada Toraya dan orang-orang Solata. Dan mungkin Toraja adalah tempat yang ceritanya tak akan menemui titik akhir. Karena hingga detik ini, aku masih jatuh cinta dengan Toraja. 

Jika Aku ke Toraja Lagi, Mau Ngapain Lagi Putri?

Jika aku memutar kembali timeline kunjungan ke Toraja, sepertinya perjalanan ini sangat panjang tapi sekaligyus terasa singkat. Bak potongan puzzle yang harus dilengkapi. Karena setiap bagian perjalanan ke Toraja selalu meyimpan cerita yang berbeda tapi saling melengkapi satu sama lain.

Masih ada bebeberapa rencana yang belum teralisasi hingga saat ini. Jadi jika aku ke Toraja lagi aku harus menyelesaikan misiku.

kopi arabika

1# Mendaki Gunung Sesean & Melihat Perkebunan Kopi

Process means everything. Begitulah seharusnya dunia kopi dipandang. Toraja merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbaik di dunia. Bahkan kopi Toraja yaitu Sapan mendapat julukan Queen of Coffee.

Kecintaanku pada kopi 3 tahun belakang ini telah mengantarkan aku pada banyak petualangan. Bahkan cerita tentang Toraja tidak bisa lepas dari kopi. Andai waktu itu aku tidak ke Jak Koffie, muyngkin aku tidak akan berkenalan dengan orang Toraja dan kembali ke Toraja untuk kedua kalianya.

Kopi juga yang membuat aku duduk santai dengan bapak-bapak TNI dan perangkat daerah di Kampung Ollon. Kopilah yang membuat aku bertualangan di Toraja.

Jadi tidak salah bukan jika aku ingin melihat proses kopi di Toraja tidak hanya di depan meja bar sebuah kedai kopi, tapi juga perkebunan kopinya.

Rasanya aku ingin mengucapkan : terimakasih petani kopi, karena kalian aku bisa ngopi enak di rumah.

2# Menikmati Kesenian Toraja

Sebagai kota dengan kekayaan adatnya, tentu Toraja tidak bisa lepas dari seni. Aku sempat melihat pentas seni saat pembukaan Pasar Hutan Bambu To’kumilla. Tapi rasanya masih ada yang kurang. Mungkin kurang lama? hehehe. Ah bukan hanya itu, tapi saat pentas seni kemarin aku merasa kurang mendapatkan informasi.

Jadi jika nanti aku ke Toraja lagi, tentu aku ingin melihat lagi pentas seninya. Tidak hanya itu, aku juga akan mencari tau asal usul atau cerita di balik kesenian tersebut. Lalu akan aku tuangkan di blog.

Oh iya, aku juga ingin pergi ke tempat pengrajin di Toraja, entah tenun atau pemahat. Sepertinya aku akan mendapatkan cerita seru saat berkunjung ke sana.

pelatihan
literasi digital pintu masa depan

3# Sharing Tentang Literasi Digital

Saat ini dunia digital sudah berkembang pesat. Hampir semua orang akrab dengan smartphone. Kita juga sudah memasuki zaman literasi digital. Di mana kita bisa mendapatkan informasi dari perangkat seluler. Ada dua pilihat saat ini menjadi penikmat saja atau juga berkontribusi menjadi pejuang literasi digital.

Literasi masyarakat Indonesia dapat dikatakan masih rendah. Maka dari itu, harus ada kepedulian dari kita untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Karena saat literasi masih rendah, maka akan sangat mudah termakan berita hoax.

Pun di dunia pariwisata. Peningkatan kemampuan literasi digital remaja daerah akan memberikan dampak positif. Contohnya saat ada tempat wisata hits di Instagram. Jika orang ingin berkunjung, maka meraka akan mencari iformasi perihal tempat wisata tadi di internet. Itulah fungsi dari literasi digital.

Remaja daerah dapat membuat portal berita yang isinya tentang informasi tempat wisata di sekitar mereka. Seperti lokasinya di mana, bagaimana akses jalannya, berapa biaya retribusnya.

Toraja adalah ‘negeri di atas awan’ yang kaya. Ada banyak cerita di dalamnya yang seharusnya bisa diceritakan secara luas bukan hanya oleh traveler seperti aku. Tapi juga dari masyarakat ‘Solata’ nya langsung. Jangan sampai cerita yang disimpan itu akan hilang karena si pencerita menua dan meninggal. Harus ada anak-anak atau remaja yang menceritakannya di dunia digital.

Langkahku dalam dunia digital mungkin tak sebesar blogger dengan nama besar lainnya. Tapi aku ingin berbagi secuil ilmu yang aku punya. Agar banyak remaja yang lebih peduli pada literasi dan kemudian daerahnya bisa lebih dikenal oleh banyak orang. Siapa tau dari tulisan mereka akan mendatangkan banyak petualang baru ke Toraja.

4# Toraja Highland Festival 2021

Bulan depan, di Toraja ada event seru yang wajib kalian datangi. Toraja Highland Festival! Kegiatan ini diselenggarakan oleh Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) Toraja dan Geopark Toraja serta didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Kegiatan ini diselenggarakan dengan tujuan menggeliatkan kembali pariwisata di Toraja dengan melibatkan masyarakat dan desa. Masyarakat sejatinya merupan penggerak utama pariwisata. Sedangkan desa adalah pusat pertumbuhan dalam upaya pemulihan ekonomi daerah khususnya dan nasional pada umumnya disaat pandemi seperti sekarang.

Toraja Highland Festival 2021 ini akan diselenggarakan pada tanggal 9-15 Agustus 2021 (semula tanggal 12-18 Juli 2021 tapi karena saat ini terjadi lonjakan kasus Cov-19 dan penerapan PPKM Darurat, maka acara ini ditunda). Mari kita sejenak berdoa, agar negeri ini lekas sehat dan cobaan lekas berlalu. Aamiin.

Event Toraja Highland Festival ini rencananya akan di buka langsung menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A.

Adapun rangkain kegiatan pada event Toraja Highland Festival adalah :

  1. Lomba Kategori Lokal (Lomba Foto Wisata, Lomba Musik Tradisional, Lomba Tari Tradisional, Lomba Vlog Wisata);
  2. Lomba Kategori Nasional (National Cross Country Photo Competition dan National Blogger Competition);
  3. Seminar Nasional (Dengan tema “Sinergitas Program Pusat, Provinsi, dan Kabupaten di Bidang Pariwisata”);
  4. Pekan Raya Toraja (Pameran UMKM, Pameran dan Klinik Fotografi, Semiloka dan Pentas Seni Budaya Toraja, Festival Band, dan Lomba DJ);
  5. Experiential Learning/TOT Outbound; dan
  6. Torajazz.
toraja highland festival

Kesimpulan

Pada akhirnya, sampai sekarang aku masih merasa bahwa Toraja adalah jodohku. Cinta pertamaku pada suatu tempat. Harmoni yang Tuhan titipkan di Toraja rasanya sangat pas.

Semoga dengan diselenggarakan event Toraja Highland Festival ini semakin mengharumkan nama Toraja di dunia pariwisata. Sudah seharusnya negeri di atas awan ini dikenal tidak hanya karena kopi dan upacara kematiannya yang fantastis, karena Toraja lebih dari itu.

Ada masyarakat dan budayanya yang begitu lekat dan tak goyah oleh semua perkembangan zaman. Alamnya yang mempesona dengan banyak tempat wisata. Lalu aroma kopinya yang wangi. Dan semua hal tersebut dibalut dengan toleransi masyarakatnya yang begitu lembut tanpa melupakan aturan adat yang ada. Well, tak ada alasan untuk tak jatuh cinta dengan Toraja.

Jangan lupa selalu terapkan protokol kesehatan ya teman-teman dan segera daftar vaksin juga.

Yuk ke Toraja! Aku tunggu kalian di Toraja.

PS
Segera ‘pulang’ ke Toraja

5 Replies to “Terjebak Rindu pada Magisnya Toraja, Never Ending Story”

  1. aku terkesima membaca ceritanya mbak put, tampilannya post ini juga bikin betah untuk baca.

    Aku paling takjub dan kaget itu pas denger cerita tentang Ma’nene’ ini. Temanku yang orang Toraja bilang, mereka harus bekerja keras untuk mati mereka. Karena ingin mati secara terhormat dengan melakukan proses Ma’nene’ ini.

    Ya, ampun semoga nanti kesampean yang mbak untuk naik ke gunung Sesean. Thanks untuk cerita tentang keindahan Toraja ini mbak put. Sehat selalu yaa…

    1. oh mungkin maksudnya rambu solo mba. karena rambu solo’ bisa sampai milyaran rupiah
      ma’ nene’ ini setau saya biayanya gk fantastis. dan bisa patungan beberapa keluarga yg makamnya akan dibuka dan di upacara ma’nene’

      aamiin mba
      pengen nih ke sesean hehehe

  2. Bener-bener jatuh cinta sama Toraja ya, gak akan bosan untuk kembali lagi ke san adan menuliskan perjalanannya di blog. Duh kapan aku bisa ke Toraja juga ya.
    Asyik banget ke Toraja pertama ditawarin si boss, baik banget. PIngin deh mengenal Toraja juga dari dekat

  3. Sempet beberapa kali baca postingan temen tentang keseruan Toraja, udah merinduuuu. Terus baca tulisan ini, jadi beneran wish list banget buat destinasi setelah pandemi. TErkenal dengan Rambu Solo’, juga bagian incaran kalau mau ke Toraja. Nabung duluuuu.

  4. Rupanya hampir setiap wilayah punya adat istiadat yang mirip ya. Hanya namanya saja yang berbeda. Eh tapi mungkin konsepnya juga berbeda, tapi tujuannya tetap sama, yakni sama-sama bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan.

    Wah asyik sekali bisa datang dan melihat langsung adat Toraja. Sementara saya hanya bisa melihatnya lewat internet atau youtube saja, hehehe… SEmoga saja suatu saat nanti, saya juga bisa ke Tana Toraja, aaamiiin…

Tinggalkan Balasan

Hi! Terimakasih telah berkunjung. Silahkan isi nama dengan link blog (contoh lilpjourney.com) biar bisa blog walking. Jika ada pertanyaan dan diskusi silahkan tinggalkan komentar ya