Lilpjourney Seorang travel blogger Indonesia yang suka jalan-jalan menyusuri keindahan alam berbalut adat dengan aroma secangkir kopi.

Jurnal Kopi : Rene Coffee Banjarbaru

5 min read

rene cafe freelancer banjarmasin
Rene Coffee Banjarbaru
Rene Coffee

Lilpjourney.com | Banjarbaru Dunia kopi, terutama kopi specialty, tak ubahnya seperti tempat orang-orang dengan idealisme kopinya berkreasi. Seperti coffee shop yang kali ini gue kunjungi. Sejak pertama kali datang, I felt home. Letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Banjarbaru, Rene Coffee menghadirkan suasana ngopi rumahan bak di negeri Sakura.

Sebenarnya bukan kami yang memberi cap : coffee shop berkonsep Jepang, tapi malah dari pelanggan kami sendiri yang melabeli Rene Coffee itu berkonsep Jepang.” tutur Bang Adam Maulana, salah satu owner Rene Coffee.

BERAWAL DARI ANGKRINGAN
Rene Coffee Banjarbaru

Normalnya, untuk seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan itu istirahat total dan rela disebut “sakit”. Tapi, gue nggak mau. Hahaha. Selalu ada alasan untuk jalan-jalan : bosen di rumah, udah semingguan di rumah aja. Padahal, dari seminggu kecelakaan cuma satu hari aja gue di rumah. Dasar aku. Lalu, sampailah malam itu gue ke sebuah coffee shop di Kota Banjarbaru. By the way, ini first time gue ngereview coffee shop di Banjarbaru. Dan gue akui, coffee shop di Banjarbaru juara banget kalau masalah konsep. Kreatif.

Sejak awal pengennya memang konsep kayu. Tapi sebelumnya kami observasi dulu, ada nggak sih yang bikin coffee shop dengan konsep kayu dan design nya seperti apa kalau sudah ada. Karena kami harus menampilkan sesuatu yang berbeda dan fresh.” tutur Bang Adam.

Mempunyai halaman parkir yang cukup luas, Rene Coffee berhasil menampilkan coffee shop dengan aroma : rumah. Berlokasi di Jalan Mistar Cokrokusumo (samping Hotel Ratu Elok), dari depan coffee shop ini tampak sederhana dengan konstruksi kayu dan dikelilingi bambu pada sisi kirinya. Aroma kopi pun menyeruak saat pintu masuk dibuka, surga. Konsisten dengan konsep kayu, pada bagian lantai Rene Coffee juga menggunakan kayu dan dindingnya dihiasi dengan botol-botol kaca yang tertata rapi. Mesin espresso Simonelli pun duduk cantik di meja bar beserta alat-alat tempur barista untuk menyeduh kopi specialty-nya. Selain out door pada bagian depan coffee shopnya, Rene Coffee juga punya area out door di belakang. Pada out door dibelakang ini, pengunjung akan benar-benar merasa banget kalau : ngopi di belakang rumah.

outdoor Rene Coffee
Out door belakang Rene Coffee sore itu | Dok Pribadi
4 Penikmat Kopi

Didirikan oleh empat orang penikmat kopi, Bang Hafid, Bang Fajar, Bang Adam dan Bang Rizki, siapa sangka dibalik image “coffee shop ala Jepang”, Rene Coffee menyimpan cerita unik diawal karirnya.

Kami dulu angkringan loh dan kamipun nggak menyangka bisa menjadi coffee shop seperti sekarang. Kalau ditanya arti Rene, penafsiran sederhananya sih (translate dari Bahasa Jawa) ‘sini’, tapi kalau arti agak kompleksnya Rene itu merupakan nama seorang filsuf ‘René Descartes’ yang terkenal dengan kutipannya : aku berpikir, maka aku ada. ” kenang Bang Fajar.

 

indoor Rene Coffee
Bar Rene Coffee | Dok Pribadi

Ya, coffee shop yang sudah berdiri sejak tahun 2016 dan resmi grand opening Mei 2018 ini pada awalnya hanya sebuah angkringan. Seiring berjalannya waktu dan minat terhadap dunia kopi, akhirnya mengantarkan Rene bertransformasi menjadi coffee shop. Mempunyai prinsip : tumbuh bersama pelanggan, Rene Coffee tak hanya ingin menyediakan kopi yang berkualitas, tapi juga mengedepankan interaksi dengan pelanggan.

Kami bukan hanya menjual kopi, tapi juga interaksi dengan pelanggan. Agar mereka betah dan datang lagi ke Rene Coffee. Karena interaksi inilah, kami yang ada di bar jadi hafal ketika si A datang misalnya : mau pesan kaya biasa atau mau cobain yang lain nih?” tutur Bang Fajar, barista sekaligus owner dari Rene Coffee.

KOPI DAN IDENTITAS
Fajar Rene Coffee
Bang Fajar nyeduh kopi | Dok Pribadi

Pada dasarnya menu kopi itu kalau bukan espresso base ya manual brew. Dari espresso bisa berkembang menjadi cafe latte dan cappucino dengan latte art cantik atau menjadi es kopi susu kekinian yang seger diseruput saat musim kemarau seperti sekarang. Manual brew pun menjadi tempat barista mengasah ideologi dan ketajaman indranya untuk menyediakan kopi yang bukan hanya tentang hitam dan pahit kaya orang habis putus. Jadi, pada dasarnya setiap coffee shop punya tuntutan untuk menciptakan signature menu-nya sendiri.

Sebenarnya kami berempat berawal dari orang-orang penyuka kopi sampai akhirnya kami ingin punya kedai kopi sendiri yang punya identitas. Identitas ini artinya menu yang kami sajikan, pelayanan yang kami berikan pada pelanggan kami dan tentunya identitas “kami” yang lebih ke personal branding sih kalau yang terakhir ini.” tutur Bang Adam.

roast beans
Roast beans dari Rene Coffee | Dok Pribadi
Micro Roaster

Sebagai konsistensi dan wujud dari pembentukan identitas yang Rene Coffee ingin wujudkan, Rene Coffee tak hanya menyeduhkan kopi, tapi juga punya micro roastery sendiri dengan label JR Coffee. Bahkan uniknya, sebelum mengadopsi Simonelli sebagai partner di bar, terlebih dahulu Rene Coffee membeli mesin roasting.

Kalau ditanya nekad, ya nekad banget lah. Beli mesin roasting dulu baru mesin espresso. Hahaha. Tapi kami punya alasan tersendiri kenapa memilih membeli mesin roasting terlebih dahulu. Jadi, untuk mempertahankan kualitas kopi, kami memilih untuk membeli kopi (green beans) langsung dari petani kopi dan memprosesnya sendiri. Karena walaupun berasal dari green beans yang sama, tapi bisa menciptakan rasa yang berbeda. Akhirnya cerita kopinya pun berbeda. Dari memproses kopi sendiri, kamipun banyak belajar dan akhirnya bisa memberikan informasi secara lebih detail ke pelanggan kami.” tutur Bang Adam.

 

bar coffee
Tenunnya bikin kangen Toraja | Dok Pribadi

Setiap coffee shop pasti punya standar operasionalnya sendiri. Seperti Rene Coffee yang punya standar menyediakan tiga jenis beans yang berbeda untuk manual brew, baik dari jenis beansnya ataupun karakter rasanya.

Karena setiap pengunjung punya selera kopiya sendiri, jadi kami menyediakan minimal tiga jenis roast beans dengan karakter rasa yang berbeda. Tapi pada dasarnya Rene Coffee itu kopi santai, kalau ada pengunjung yang suka body silahkan. Selain itu, kami juga konsepnya open bar sih. Kalau ada yang ingin seduh kopi sendiri kami persilahkan.” tutur Bang Hafid sambil menyeduhkan kopi di meja bar.

BUKAN HANYA KOPI
latte art
Cafe latte Rene Coffee | Dok Pribadi

Puas mengusir kantuk perjalanan Banjarmasin-Banjarbaru dengan single origin Pulu-pulu Rene Coffee dan secangkir Cafe Latte, perutpun mulai berontak untuk diisi dengan kalori dan gula. Menyelesaikan deadline video, tulisan dan design nggak cuma perlu asupan cafein ternyata. Hahaha.

Bang aku laper, ada cemilan apa aja Rene Coffee? Yang signature nya ya.” tanya gue saat ke dua kali ke Rene Coffee.

Cobain Curros Rene Coffee. Anjur Bang Fajar saat itu. Selang 15 menit, curros yang jadi cemilan signature di Rene Coffee pun tersaji lengkap dengan coklat dan ice cream. Yummy! Honestly, gue bukan penikmat jajanan manis, tapi curros di Rene Coffee ini bukan cuma manis tapi juga gurih! Must try banget kalau kalian datang ke Rene Coffee. Nah temennya curros itu yang enak Es Kopi Senja atau Teh Kerampu yang seger banget.

Rene Coffee Banjarbaru
Kerja sambil ngopi di Rene Coffee | Dok Pribadi

Teh Kerampu Rene Coffee ini recomended banget untuk kalian yang nggak doyan kopi. Kata temen gue yang merekomendasiin Rene Coffee ke gue sih, Teh Kerampu Rene Coffee ini paling juara dari tempat lain. Oh iya selain itu, sebagai wujud nostalgia pada “angkringan” yang dibalut dengan sentuhan cafe, menu rice bowl ‘Japanese Curry’ dengan rempah khas Indonesia berpadu Jepang pun sudah bisa diorder. Mungkin lain kali gue akan coba saat kesini lagi. Sepulang dari Toraja bulan depan mungkin?

TUMBUH BERSAMA PELANGGAN 
Rene Coffee Banjarbaru
Bang Fajar, kok nggak ada panda di bambunya? | Dok Pribadi
Industri kopi Banjarbaru dan Banjarmasin sangatlah berbeda. Dari mata seorang awam seperti gue ya. Konsep coffee shop di dua kota yang walaupun tak terlampau jauh jaraknya ini juga sangat berbeda. Kalau di Banjarmasin sempat berhembus isu perang mesin, menurut gue Banjarbaru punya perang ‘konsep’. Mungkin karena Banjarbaru merupakan kota pelajar, dimana banyak anak-anak muda yang perlu tempat fresh untuk nongkrong dan mencipta ide-ide kreatif. Rene Coffee merupakan salah satu coffee shop yang sangat-sangat gue rekomendasiin untuk kalian.
Cuma Ada Di Rene

Masalah konsep, fresh banget lah ya. Menu? Signaturenya bener-bener bikin gue bilang : cuma ada di Rene Coffee aja nih. Apalagi saat gue sadar selain open bar, mereka juga open kitchen loh. Kitchen yang biasanya tersembunyi, mereka bikin santai dan pengunjung bisa melihat proses pembuatan pesanan makanan mereka. Tentunya sisi positif dari open kitchen ini selain menegaskan konsep : coffee shop rumahan, tapi juga menjamin kualitas makanan kita. Karena secara nggak langsung koki akan terdoktrin untuk berhati-hati ketika memasak : ada yang nonton, ada yang ngeliatin. Hahaha.

Oh iya, bagi kalian yang punya komunitas dan mau ngumpul bareng, bisa banget di Rene Coffee ya. Bisa menghubungi nomor 081254955021 untuk booking dan informasi lainnya.

Enam jam di Rene Coffee, berbincang dengan Bang fajar, Bang Adam dan Bang Hafid, gue mengaamiini penuturan mereka, bahwa Rene Coffee bukan hanya coffee shop, bukan hanya kopi, bukan hanya tempat kerja freelance, tapi Rene Coffee benar-benar tumbuh bersama pelanggannya, menjawab kebutuhan pelanggannya, mengedukasi dan berbagi tentang cerita kopi. Bahkan kata Bang Adam, Rene Coffee di design oleh pelanggan
mereka. Keren bukan?

Karena sebuah coffee shop akan berkesan ketika di dalamnya tidak hanya bercerita tentang rasa kopi tapi juga sentuhan manusia dengan manusi, interaksi.

By the way, cerita Rene Coffee masih bersambung ya: Kenalan dengan micro roastery JR Coffee.

## RENE COFFEE 10 AM – 11 PM ##

Instagram : @renecoffeeofficial
Signature Menu :
– Kopi Senja
– Rice Bowl : Japanese Curry
– Teh Kerampu

PS
Peluk dari jauh

Lilpjourney Seorang travel blogger Indonesia yang suka jalan-jalan menyusuri keindahan alam berbalut adat dengan aroma secangkir kopi.

36 Replies to “Jurnal Kopi : Rene Coffee Banjarbaru”

  1. Wahhh kami selalu terpesona dengan suguhan tulisannya nih mbak. Selalu ada waktu buat ngopi apapun kondisi. Salut!
    hahaha

  2. Senang sekali melihat coffee culture berkembang di seluruh negeri. Bukan hanya budayanya saja tapi Komunitas & arus bisnisnya jadi jalan mendukung produsen Lokal, dari petani , roastery sampai ke ujung. Suasananya nyaman ya kayak di belakang rumah. Jadi betah

    1. bener banget kak. seneng aja kalau ada cafe yg open bar and kitchen. soalnya pengunjung bisa lihat proses di dalamnya
      bahkan kalau di coffee shop, open bar memperbolehkan pengunjungnya untuk seduh kopi sendiri

  3. Jadi mereka berempat orang Jawa?

    Aku setuju dengan servis mereka yang nggak hanya membuat kopi, namun juga mengajak interaksi. Supaya saat seratus kedai kopi lain berdiri, pelanggan tetap akan berdatangan sebagai kawan. Bukan sekadar datang karena kopi, namun ikatan hati.

    Aku malah penasaran sama rice bowl, kalau ke coffee shop lebih memilih main course sekalian karena harganya nggak jauh beda sama cemilan 😀

    1. bukan sih. org banjarmasin sih (kayanya, tapi campuran jawa)

      bener banget kak. karena interaksi bikin pelanggan jadi kawan. akhirnya ke kedai bukan cuma ngopi, tapi ketemu 'kawan'.

      aku belum cobain sih rice bowlnya. nanti aku cobain pas kesana. aku update artikelnya. hehehe

  4. Aku baru sekali ke Banjarbaru lalu makan di Mie Bancir Agus Sasirangan dan ke cafe jamu di daerah apa itu aku lupa. Ini oke nih buat referensi baru kalo ke Banjarbaru lagi.

  5. Wah, dari cerita Bang Adam, tampaknya usaha coffee shop ini memang step by step ya. Alhamdulillaah disukai para pelanggannya. Konsep serba kayu menambah suasana romantis di tempat ngopi ini. Aku jarang ngopi sih tapi kalau diajak mb Putri ke Banjarbaru mau loh hihihi 🙂

  6. Kecuali sederet pohon bambu dan wajah baristanya yang mirip aktor dari negeri Sakura, kafe Rene ini belum saya temukan nuansa Jepangnya hehe Tapi ya suka-suka pengunjung aja mungkin.

    Btw, konsep selaras dengan pelanggan memang oke. Itu yang membuat beragam pengelola kuliner bertahan hingga begitu lama.

  7. Aku tuh selalu kagum lihat tampilan kopi-kopi yang digambarin gitu
    Keren banget sih bisa bentuk macam-macam. Itu pastinya butuh keahlian khusus
    Btw ini tempatnya enak banget ya. Nyaman gitu

  8. Selalu bingung kalau mau komen soal kopi karena saya nggak punya perasaan yang sekuat itu terhadap kopi.

    Namun betul adanya, hubungan antara penjual dan pembeli itu harus "mesra" bagaikan teman, bukan seperi atasan dan bawahan yang terkadang ada jarak. Karena media mulut itulah cara terbaik untuk promosi. Kalau banyak orang yang bilang enak dan nyaman, pasti akan mengundang yang lainnya untuk datang dan membuktikan.

    Semoga Rene Coffee bisa terus bertahan di tengah menjamurnya coffee shop yang ada di Indonesia 🙂

  9. Wahh kbetulan aku tinggal di banjarbaru nih, kapan2 boleh nanti coba ke rene cofee ini hehe bdw ad coffe shop jg di banjarbaru namanya soringin brew, ud prnh cobaa blm ya ksna? Hehe

    1. coba in kak ke Rene Coffee. rekomended banget kak.
      udah pernah 3x kalau gk salah ke Soringin. but belum pengen ngereview. blm nemu feel disana. hehehe
      pelayanannya sedikit kurang kalau menurut aku. tapi kembali lg masing2 coffee shop punya SOP nya masing2. hehehe

  10. Suasana Cafe nya berasa kayak di rumah yah kak namun tetap cozy, emang paling bikin nyaman dan betah nongky itu di Cafe kopi ��

  11. Suka dengan tempatnya, aku paling suka dengan yg ada pohon bambu nya gitu. Oh ya jarang-jarang ya ada interaksi sama pengunjung biasanya yg kaya gini yg bikin betah dan bikin rajin kesana buat ngopi

  12. Interaksi jadi sesuatu yang langka untuk ditawarkan. Enak kan tuh ngopi sambil ngobrol daripada asik ma dunia sendiri padahal datangnya barengan. Makanya unik nih konsepnya

  13. wah keren. jadi pengen nyoba nongki di situ. sambil ngedraft atau ngerjain hal-hal yang perlu diketik atau sekedar nonton youtube. karena baca komen-komen di atas tu, wifinya kenceng jar.

  14. sekarang kulihat warung kopi makin banyak aja ya. kalau cafe di Banjarbaru aku pernahnya ke Big Coffee doang. Hihi. sayang nih Putri nggak ngasih informasi harga kopi di sana

  15. Sorry sdkit OOT nih Put, ini keknya lokasinya cocok deh buat foto-foto ya. Aku lagi nyari lokasi buat foto di cafe, tema santai sambil minum kopi gitu. Di sini susah ey nyarinya.

  16. Wah, Nemu aja kak kedai kopi yang homey, berawal dari kecintaan pada kopi dan suka ngumpul bareng malah jadi angkringan dan berkembang jadi kedai kopi ya..

  17. Suka liat konsep coffe shop-nya.. Berlama-lama di sana nyaman ya.. Kadang aku juga mumet, bosen kerja di rumah langsung ke tempat kopi.. Sekarang bukan lagi soal rasa tapi juga konsep yang ngena ke customer jadi bikin betah dan mau balik lagi..

  18. Didirikan oleh orang-orang yang suka dengan kopi maka pendirian sebuah cafe biasanya selalu mengandung hawa yang positif. Karena para pendirinya membangun usaha dengan modal cinta. Semoga Rene Cafe ini makin maju di Banjarbaru.

  19. Ini sih konsep designnya memang cozy banget,buat santai atau mengerjakan pekerjaan pun bisa ya secara di sudut area ada yg asri jadi ketika suntuk bisa sekalian refresh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.