Lilpjourney Seorang travel blogger Indonesia yang suka jalan-jalan menyusuri keindahan alam berbalut adat dengan aroma secangkir kopi.

Rambu Tuka’, Pernikahan Adat Toraja

6 min read

Rambu Tuka Pernikahan TorajaLilPJourney.com | TORAJA – Sebuah perjalanan yang tak kunjung menemui ‘ujung’. Jika kota lain hanya sebatas alam dan tempat wisatanya, entah kenapa kota yang perlu waktu tempuh 8 jam dari Makassar ini mengundang gue untuk datang lagi (dan lagi). Munginkah karena ‘magis’ kota ini? Cerita kali ini tentang Rambu Tuka’, pernikahan adat Toraja.

Pengertian Rambu Tuka’

Rambu Tuka’ terdiri dari dua kata yaitu rambu yang artinya asap dan tuka’ yang artinya mendaki. Secara harfiah rambu tuka’ mempunyai arti asap yang naik atau arahnya ke atas, yang artinya asap persembahan yang naik ke langit sebelum matahari mencapai rumah tongkonan (wikipedia).

Waktu Pelaksanaan Rambu Tuka’

Tarian Pagelu pada rambu tukaWaktu pelaksanaan rambu tuka’ di Toraja ini ialah saat matahari mulai naik (pagi hari) disebelah timur dari tongkonan utama. Itulah sebabnya rambu tuka’ disebut juga Aluk Rampe Matallo atau ritual matahari terbit dari timur. Rambu tuka merupakan acara adat yang berkaitan dengan kehidupan. (visittoraja)

Jenis Rambu Tuka’ Toraja

Rambu tuka’ yang diselenggaran sebagai bentuk syukur untuk Puang Matua dengan memotong ayam, babi atau ayam di bawah pimpinan upacara adat atau tominaa terbagi menjadi beberapa jenis :

1# Rambu Tuka’ Mangrara Banua

Merupakan upacara adat yang diadakan sebagai wujud syukur masyarakat Toraja atas selesainya pembuatan tongkonan (dibangun atas biaya bersama dari seluruh keluarga). Rambu tuka’ mangrara banua ini dilakukan beriringan dengan pembangunan rumah tradisional Toraja yang dikemas dalam bentuk upacara adat dengan

Upacara mangrara banua terbagi atas beberapa tingkatan :

  1. Mapadao para yaitu pelaksanaan pemasangan atap rumah dengan kurban satu atau dua ekor babi sebagai lauk pauk
  2. Mangrara banua disangngalloi. Ini dilakukan di mana seluruh keluarga tongkonan dengan membawa kurban babi dan makanan sebagai tanda selesainya pembangunan rumah. Upacara dilakukan sejak pagi hingga sore hari
  3. Mangrara banua di talung alloi adalah upacara syukuran rumah yang dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Upacara mangrara banua di tallung alloi dilakukan dengan tingkatan acara
    • Pada hari pertama dilakukan ma’tarampak yaitu pemasangang atap-atap kecil.
    • Hari kedua disebut ma’papa atau allo matanna (hari puncak), dimana seluruh keluarga datang berbondong-bondong dengan membawa babi dan makanan
    • Terakhir, yaitu hari ketiga disebut ma’bubung sebagai tanda bahwa rumah sudah selesai dan akan dipasangkan bubungan tongkonan.

2# Ma’ bugi’

Ma’bugi’ merupakan salah satu upacara adat Toraja yang terdiri atas prosesi tarian/nyanyian yang di laksanakan dalam acara rambu tuka‘ (ucapan syukur). Sepintas, nyanyian yang diserukan dalam upacara ini seperti Ma’badong (nyanyian kesedihan atau belasungkawa di rambu solo’), tetapi syairnya berisi ucapan syukur atau kebahagiaan. Upacara ini dilaksanakan sebagai bentuk syukur setelah panen. 

Puncak acara ma’bugi’ dilaksanakan pada siang hari, di mana seluruh hasil bumi dari daerah lokasi acara dibawa dalam acara tersebut. Hasil bumi itu kemudian digunakan untuk makan bersama seluruh masyarakat yang hadir dalam upacara tersebut. 

3# Maro

Upacara adat maro’ biasanya dilaksanakan untuk menyembuhkan orang sakit yang diganggu oleh roh halus. Maro’ juga dapat diadakan pada acara mangrara banua.

Saat melaksanakan maro untuk orang sakit, selama jangka waktu untuk penyembuhan (biasanya dua atau beberapa minggu), orang yang sakit diobati setiap malam dengan dikelilingi orang yang melakukan tarian maro’. Di tengah kerumunan penari pada malam hari, saat si orang sakit mulai berkeringat dan tominaa kemasukan roh halus, selanjutnya tominaa akan meneteskan darah dari dahi dan lidah. Luka tominaan akan segera sembuh setelah pengobatan dan diobati dengan daun pohon tabang.

4# Merok

Adalah suatu pesta besar untuk melengkapi upacara adat rambu solo’ seorang bangsawan. Dengan diselenggarakan upacara adat ini, keluarga berharap almarhum menjadi anggota keluarga dewata. Upacara adat ini dilaksanakan di rumah tongkonan dan biasanya dilaksanakan selama beberapa hari dengan memotong seekor kerbau.

5# Rambu Tuka’ Ma’bua

Beberapa waktu lalu Mama Sarjani telpon. Beliau menceritakan upacara adat ma’bua ini. Ma’bua merupakan rambu tuka’ paling menarik dan paling besar. Akan tetapi tidak semua daerah di Toraja melakukan upacara adat ini. Biasanya yang mengadakan acara adat ini adalah lempo Batutumonga. 

Satu hal yang menarik tentang upacara adat ini adalah waktu pelaksanaannya yang bisa memakan waktu sampai 1 tahun atau 365 hari. Well, gue cukup tertarik untuk melihat upacara adat ini jika nanti diselenggarakan.

6# Rampanan Kapa’

Rampanan kapa’ merupakan upacara rambu tuka’ pernikahan adat Toraja. Sebelum upacara rampanan kapa’ diselenggarakan, kedua mempelai terlebih dahulu menikah di tempat ibadah. Dengan menggunakan pakaian adat khas adat Toraja kedua mempelai menjalani tahapan demi tahapan yang ada. Setelah disahkan secara agama, kemudian kedua mempelai akan disahkan secara adat dengan suatu perjanjian dihadapan pemerintah adat dan seluruh keluarga yang hadir.

Menghadiri Rambu Tuka’ Pernikahan Toraja

Ini adalah kali keempat gue ke Toraja. Beberapa teman bertanya : apa sih istimewanya Toraja sampe lu bolak balik kesana? Entahlah. Seperti ada ‘hal’ yang selalu menarik gue untuk balik (lagi). Dan uniknya, semakin banyak gue tau tentang Toraja, semakin banyak yang gue belum tau. Sebelum cerita rambu tuka’, pernikahan adat Toraja, ada juga cerita tentang rambu solo’ dan ma’ nene’ dengan latar ‘kematian’.

Pagi kedua di Toraja sepulang dari bersih-bersih di sekolah SDN 8 Tikala, gue di ajak Ne’ Lembang (Pak Kades) untuk pergi ke acara rambu tuka’. Oh iya, kali ini gue tinggal di rumah mama Sarjani di Landorundun. Ne’ Lembang excited banget ngajak gue ke acara rambu tuka’. Sayangnya, mama kurang enak badan jadi harus absen di acara ini.

Acara rambu tuka’, pernikahan adat Toraja, yang kami datangi berada di Batutumonga, berjarak kurang lebih 8 km dari rumah. Sepanjang jalan menuju Batutumonga, Ne’ Lembang cerita tentang prosesi ‘pernikahan’ Toraja ini.

Ramai sekali ini Putri acara Rambu Tuka’, acara bahagia, nanti kamu lihat boleh ambil foto sama video” tutur Ne’ Lembang antusias.

Gue merasa beruntung banget. Kemarin, hari pertama gue di Toraja ada acara Rambu Solo’ penyembelihan kerbau. Sorenya acara Ma’kaburu’, proses pengantaran jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Sekarang gue punya kesempatan datang acara Rambu Tuka’ ditemenin Ne’ Lembang Landorundun.

Perbedaan Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’

Selain memang beda konsep. Ada satu perbedaan dari dua acara adat Toraja, Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’, yang gue tangkap. Yaitu warna yang digunakan untuk ‘dekorasi’ acara. Jika di Rambu Solo’ menggunakan warna hitam, maka di acara Rambu Tuka’ didominasi oleh warna kuning. Mungin ini ada kaitannya dengan masyarakat Toraja yang mengenal tiga warna yaitu merah, kuning dan hitam. Ukiran di tongkonan juga hanya ada tiga warna tersebut.

Warna hitam untuk acara duka dan warna kuning untuk acara bahagia. Jadi ada yang menyarankan ketika kalian datang ke acara Rambu Solo’ hindari memakai baju warna kuning.

Pondok Keluarga di Acara Rampanan Kapa’

Seperti pernikahan pada umumnya, pernikahan Toraja juga terdapat ‘pelaminan’. Dekorasinya didominasi warna merah dan kuning. Selain itu juga ada pondok untuk tempat duduk para undangan. Uniknya, pondok yang telah disekat-sekat ini terdapat gantungan kertas bertuliskan nama keluarga. Sehingga keluarga yang datang akan langsung duduk lesehan bersama anggota kelurga yang lain.

Selain pondok dengan tempat duduk lesehan, juga disediakan kursi yang biasanya digunakan untuk tamu undangan selain keluarga (teman mempelai dan pejabat). Nah, karena gue dateng bareng ne’ lembang, jadi ikut beliau duduk bareng keluarga beliau.

Gotong royong dan kekeluargaannya masyarakat disini membuat gue takjub. Acara pernikahanpun bak reuni keluarga besar. Semua hadir, menyambung silahrurahmi dan saling mengenalkan anggota keluarga baru. Seperti gue yang saat itu jadi kenal dengan banyak warga, terutama keluarga papa.

Jujur, awalnya sempat khawatir akan di cap aneh, karena penampilan gue : rambut hijau. Hehe. Tapi gue salah besar. Gue malah disayangin banget disini. Hehehe. Para ibu-ibu disani pun heboh dengan pertanyaan : kamu masih sendiri kan (red : single, jomblo)? Dengan bangga dong gue jawab : iya bu. Dan alhasil mulailah perjodohan di acara pernikahan.

Waaah pas banget. Itu Uppe juga jomblo. Bisa to dijodohkan sama Uppe – tutur salah satu ibu.

Uppe itu ponakan Ne’ Lembang. Temen gue kemana-mana selama disini. Dia yang anterin gue pagi-pagi ke Loko Mata. Anterin ngejar penguburan rambu solo’. Kami yang mendengar cita-cita para ibu-ibu ini cuma bisa tersenyum simpul. Hahaha.

Terimakasih sudah menjadi bagian dari cerita gue di Toraja. Tidak banyak memang. Tapi kamu membuat hari-hari di Toraja lebih seru. Hehehe.

Ballo, Bagian dari Adat di Acara Rambu Tuka’

Sembari menunggu mempelai memasuki area pelaminan, para tamu keluarga yang berkumpul akan saling bertukar cerita sembari menikmati ballo yang telah disediakan dalam jerigen. Ballo merupakan minuman khas Toraja yang berwarna putih dan (katanya) rasanya manis. Ballo terbuat dari hasil fermentasi pohon enau. Seperti minuman khas arak daerah pada umumnya, minuman ini mengandung alkohol dalam jumlah kecil. Untuk menikmati ballo disediakan bambu yang telah dipotong sekitar 30 cm sebagai gelas. Tradisional banget kan?

Sambutan Pernikahan dalam Bahasa Toraja

Sambutan Pernikahan Menggunakan Bahasa TorajaSekitar pukul 13.00 mempelai yang sebelumnya telah melaksanakan ibadah dan pemberkatan di gereja, dengan menggunakan pakaian adat Toraja memasuki area ‘pesta’. Kedatangan mempelai diiringi musik dari kesenian Ma’ Lambuk (batang bambu dipukul ke lesung kayu).

Dibarisan paling depan ada tiga gadis penari yang disebut pa’ doloan yang menari sambil berjalan menuju pelaminan. Dibelakangnya ada barisan ‘pagar ayu’ yang terdiri dari pemuda dan gadis berpakain adat Toraja. Disusul pengantin dan anggota keluarga.

Saat proses pengantin memasuki area acara ini, pembawa acara akan memberi sambutan dan membaca semacam syair dalam bahasa Toraja. Acara selanjutnya adalah kesenian tari Pa’ Gellu. Nah serunya, disaat para penari cantik tadi menari, akan ada tamu yang ‘nyawer’. Tak lupa pengantin dan kelurga juga akan memberi saweran untuk para penari.

Misteri Ikan pada Menu Makanan di Rambu Tuka’

Setelah acara sambutan keluarga, acara selanjutnya adalah makan bersama. Adatnya disini memang kaya banget. Semua tamu nggak boleh makan sampai ‘waktunya’. Jadi acara makan dilaksanakan bersamaan. Berbeda dengan acara pernikahan lainnya dimana tamu datang, ambil makanan, bersalaman dan berfoto bersama lalu pulang. Di Toraja semua acara dilaksanakan bersama-sama. Jadi terasa sekali kekeluargaannya. Makanan yang disediakan biasanya pa’piyong (daging babi yang dimasak dalam bambu), sate, ayam kare dan ikan mas.

Selain daging babi, pa’piyong juga ada yang dari ayam dan ikan.

Diacara ini pertanyaan gue tentang ikan mas terjawab. Kata Mama Lia (salah satu ibu-ibu keluarga Ne’ Lembang), ikan mas merupakan menu wajib untuk menyambut tamu di acara-acara adat Toraja. Itulah sebabnya setiap gue dateng ke acara adat selalu ada menu ikan mas. Di acara Ma’ Nene’ waktu itu juga disediakan ikan mas. Lalu waktu ada acara Rambu Tuka’ untuk syukuran alang juga dihidangin ikan mas.

Ikan mas adalah wujud orang Toraja memuliakan tamunya. Karena mereka sadar, ada saudaranya yang tidak makan babi – tutur salah satu orang Toraja yang pernah gue temui

Indahnya Toleransi

Waktu itu ada kejadian gue mau ambil mie. Tiba-tiba ada ibu yang menarik mienya. Beliau berkata : sebentar Putri, takut ini dia bikin pakai lemak babi. Kamu kan tidak boleh makan. Dan benar saja, mie tersebut ada minyak babinya. Seketika gue merasa terharu.

Ya mereka menjaga tamunya dengan sangat baik. Terimakasih untuk kalian yang menjagaku saat itu.

Membersihkan Sampah Sebelum Pulang

Saat diacara seperti ini, piring yang digunakan biayanya dari kertas nasi yang dilipat ujungnya, lalu makan dengan khitmat menggunakan tangan. Setelah acara makan selesai, para tamu akan membereskan ‘piring’ dan sampah lain untuk dikumpulkan dalam kardus bekas minuman gelas, lalu menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada mempelai.

Berbeda dengan Rambu Solo’ yang menggunakan tedong (kerbau) dan babi dalam acaranya, di Rambu Tuka’ hanya menggunakan babi.  Jumlah babi yang dipotong bisa mencapai puluhan. Tapi kemarin pernah baca dari sumber online kalau ada juga yang memotong kerbau di acara Rambu Tuka’. Tergantung kemampuan keluarga.

Mempertahankan Adat

Kesimpulan dari acara Rambu Tuka ‘Rampanan Kapa’ ini adalah begitu luar biasanya rasa kekeluargaan masyarakat disini. Dimana setiap acara bukan tentang ‘menyelenggarakan’ tapi tentang mempertahankan adat dan ikatan. Baru ini gue dateng di acara pernikahan dimana kita nggak cuma dateng buat lihat dan foto sama mempelai, tapi benar-benar mengikuti acara dari awal sampai akhir bersama-sama dengan tamu yang lain.
Kalian tau, mungkin inilah magisnya Toraja.
Terimakasih untuk Ne’ Lembang ‘papa’ yang sudah bersedia mengajak gue menikmati sisi indah Toraja. Terimakasih untuk Mama Sarjani yang telah menerima gue di rumah dengan sangat baik. Kangen sarapan sama telur ceplok dan beras merahnya.
Segera kembali
PS
Peluk dari jauh
Lilpjourney Seorang travel blogger Indonesia yang suka jalan-jalan menyusuri keindahan alam berbalut adat dengan aroma secangkir kopi.

52 Replies to “Rambu Tuka’, Pernikahan Adat Toraja”

  1. Kok acara adatnya kek seru banget ya, aku sering bolak balik ke Makassar tapi belum pernah ke Toraja, liat beginian jadi pengen kesana juga. Hehe

    1. Sesekali mampir ke Toraja kak. Apalagi bulan Desember, banyak banget acara adat 'pesta' penguburan yang biayanya sampai milyaran itu.

  2. Aku pernahnya ke makassar doang, kalo ke toraja belum hehe Taunya yg adat kematian itu aja sih, tp trnyata msh bnyk ya adat toraja yg lain hehe Wisata yang ad di toraja apa aja nih? Hehe

    1. Kebanyakan orang biasanya memang sampai Makassar aja sih kak. Soalnya ke Toraja kan perlu waktu 8 jam dari Makassar. Tapi disana tempat wisata alamnya keren-keren loh. Ada Ke'te Kesu', Pallawa, Patung Yesus Burake, dll. Klik category : Toraja untuk tempat wisata di Toraja

    1. Iya kak, jadi setelah selesai acara makan-makannya, bekas tempat makannya sudah dikumpulin disatu tempat terus nanti tinggal di buang (karena menggunakan kertas nasi untuk piring).
      Pokoknya beda banget adatnya sama yang di tempat lain. Semua serba barengan, jadi kerasa banget rame dan kekeluargaannya.

  3. Kalau melihat adat-adat Toraja yang sering Putri tulis di blog ini tuh kerasa banget ya kalau mereka itu kompak dan rasa kekeluargaannya super kuat. Aku suka banget Indonesia yang begini, hangat 🙂

    Ah, semoga nanti bisa main juga sekeluarga ke Toraja! 😀

    1. Iya mba…filosofi orang disana harus selalu gotong royong karena adat mereka yang besar mba.
      Iya mba…rekomen banget ke sana. Karena salah satu tempat wisata yang tiket pesawatnya termurah dari Banjarmasin hehehe

  4. Waaah, Toraja. Tanah Toraja ini memang magis ya. Adat istiadatnya kental bgt. Acara ga sekadar rutinitas tapi ada isinya ya. Mbak Putri beruntung bisa ke sana berkali2.

    1. Iya mba… Orang disana ramah banget. Walaupun disana jadi minoritas, tapi saya bebas menjalankan ibadah dan insyaAllah makanan halal mudah ditemui di kota. Kalau misal kita datang di acara adat pasti di tanya : maaf muslim ya?
      Jadi jangan takut datang ke Toraja. Kalau mau kesana bisa kontak saya, nanti ngina di rumah mama angkat saya disana.

    1. Iya mba. Magis dengan caranya sendiri membuat orang suka culture seperti saya jatuh cinta. Hehehe
      Kemaren malah pas datang ke acara penggantian baju mayat, 50% turis mancanegara, 40% orang keluarga dan orang lokal Toraja, 10% nya baru turis luar Toraja >.<

  5. Budaya yang unik. Tapi dengan suasana yang crowded aku biasanya mlipir ke pojok yang adem2 gitu dan seperti biasa akan merasa nyaman dengan sendirian di tengah keramaian. Hehe

    1. iya sih mba kesannya crowded tapi karena digunung, jadi tetep aja ade. Jadi, yakin mau melipir di pojokan? 1600mdpl looooh…hehehe

  6. Wah, baru tau kalo nikahan di Toraja kaya gini.
    Sampai kalo habis makan beresin sendiri hehe

    pengen banget ke Toraja, apalagi kalo bisa lihat upacara pernikahan gini. uwuuuw

    salam,
    rizkyashya.com

    1. Lebih langka acara nikahan sih kak dari pada acara pemakaman. Kalau acara pemakaman kita bisa liat jadwalnya di dinas pariwisata Toraja.

  7. SEnangnya bisa halan-halan sambil party pulak! Keberagaman budaya dan alam yang keknya cuma Indonesia yang punya, ya? Sebagai blogger, jadi punya banyak ide yang bisa digali.

    1. Sebenernya acara pernikahan nggak langka sih kak. Tapi karena pernikahan itukan sifatnya pribadi, jadi nggk ada di acarakalender event gitu kan. Jadi kalau bisa nemu dan bisa dapet cerita kesannya kaya seru gitu

  8. Eaaa, berawal dari kondangan, dimulailah ajang perjodohan. Siape tau jodoh lu memang di sana, Put 😀

    Gue percaya, setiap traveler punya jodohnya masing-masing dengan satu tempat. Ada yang bolak-balik Papua di saat traveler lain empot-empotan buat ke sana. Ada yang bolak-balik Turki, Jepang, atau Cirebon wkwkwk.
    Wah, gue jadi penasaran buat cobain ballo, Put!

    Sama seperti di pernikahan tradisional Jawa. Seluruh makanan dihidangkan oleh petugas (disebut "sinoman") kepada hadirin. Dimulai dari appetizer, main dish, desert, minum, dll. Jadinya lebih tertib dan tenang, kita tinggal duduk. Seneng banget saat kondangan ke Solo akhir Maret lalu, temenku masih mengaut pernikahan tradisional kayak gitu.

    1. Jauh kali bang menyebrang lautan dan bis 8 jam. Hahaha. Eh tapi katanya jodohnya orang yang suka jalan-jalan itu bisa ketemu di jalan #eeeaaaa

      Bener banget. Pasti ada satu tempat yang bener-bener nagih buat balik dan balik lagi. Entah dengan beribu alasan apapun. Hahaha

      Disini makannya disediakan sama keluarga sih kak. Jadi emang peran keluarga penting banget. Dan semua makannya itu barengan. Jadi makan bareng, pulang bareng. Keliatan ramenya. Kalau di jawa memang bisa sampe ada pagelaran wayang kulit juga loh.

  9. Beruntung Mbak bisa beberapa kali ke Toraja. Saya jadi bisa baca kisahnya dan itu nambah wawasan saya. Bagi saya ke Toraja sama dengan mau umrah. Biayanya gede hehehe… Belum tahu adakah kesempatan bisa menginjakkan kaki di Toraja atau tidak…

    1. Waah kok bisa sama dengan umrah kak? Kakaknya tinggal dimana nih? Karena wisata di Toraja sebenernya gk mahal. Yang mahal itu mungkin tiket pesawat aja sih. hehehe
      Semoga bisa nerkunjung ke Toraja yaaa kak ^^

  10. Meriah yaa warnanya merah kuning. Aku suka liatnya kekeluargaannya erat banget ya.. Apa-apa dilakuin bareng-bareng pas pesta adat. Apa ikan mas itu simbol keberuntungan juga di sana ya? Makanya jadi sajian Kalo ada perayaan. Pingin banget ke Toraja, kayaknya banyak banget yang bisa dieksplor disana sampe dirimu bolak-balik. 😀 Tapi mungkin juga kayak ada magnetnya ini daerah ya.. 😀

    1. Iya kak kekeluargaannya bikin aku jatuh hati.
      Dan kalau folosofi ikan mas belum aku telisik lebih lanjut nih. Hehehe.
      Magnet Toraja besar banget buat aku. Bikin nyaman hahaha

  11. Oooooh begitu ya? Makan2 kudu berbarengan dengan waktu serempak? Berasa bener kekeluargaan dan kekompakannya. Serba tertata dan disiplin kayaknya. Ini untuk menghormati penyelenggara dan tentu toleransinya kuat sekali. Ada ikna mas asik dong 🙂

    1. Iya kak harus bareng-bareng makannya. Kalau satu makan, makan semua.
      Kalau urusan toleransi mereka memang juara deh. Jadi tamu yang datang, yang bukan orang Toraja biasanya di tanya : muslim ya? kalau muslim makan yang ini yaaa. Jadi mereka memang sangat menjaga tamu dan menjaga toleransi.

  12. Papiyong gue sudah coba dan enak.
    Dari bacaan ini, gue menyesal waktu ke Toraja nggak cobain Ballo. Kalau ada kesempatan balik lagi, gue harus cobain minuman satu itu. Ahahaha

    Btw, desain pelaminannya itu bagus ya. Barubliat yang model itu 🙂

    1. mungkin kalau ada yang bikin pa'piyong ayam aku pengen coba hehehe. soalnya beberapa kali kesana dihidangkan yg ikan mas. saya gk bisa makan ikan >.<

      aku juga penasaran sama ballo sih. pengen coba deh nanti

      iya kak desainnya unik. dan walaupun di gedung masih pakai desain kaya gt. mempertahankan culture banget kan

  13. Warna khas Toraja itu Colourful banget ya jadi makin meriah acaranya, aku belum pernah ke kawinan di Toraja, ternyata unik banget ya

    1. iya kak meriah acaranya karena makannya rame-rame sih. jadi perlu spend waktu 2-3 jam sih kemaren. tapi karena asik dokumentasi sampe gk berasa nunggu sekian jam

  14. Putri beruntung ya bisa lihat acara adat duka dan suka sekaligus..,
    rasanya pasti dirimu akan kembali lagi ke sana ya, ada papa dan mama yang begitu baik…
    kapan2 cerita tenun Toraja Put, aku pernah lihat pameran Toraja Mello di museum Tekstil
    kainnya keren2 banget deh

  15. Toraja jadi wishlist aku banget nih, Kak. ku sering lihat di tv yang bagian upacara mengganti pakaian orang yang sudah meninggal. Semoga berkesempatan ke sana

  16. Seru ya… punya kesempatan buat menikmati budaya yang masih begitu kental. Saya baca tulisan Mbak Putri aja udah seneng banget rasanya, apalagi kalau bisa merasakan langsung. Semoga… suatu hari nanti.

  17. Indonesia ini memang kaya akan adat istiadat dan budaya ya mba.. sala satunya Toraja. Aku selalu kagum sama keindahan dna kesakralan dalam budayanya. Sneng bisa baca tulisan ini jadi makin banyak wawasan. Thks for sharing mba

  18. Setelah acara makan selesai, para tamu akan membereskan 'piring' dan sampah lain untuk dikumpulkan dalam kardus bekas minuman gelas, lalu menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada mempelai.

    Mbak, saya terkesan sekali membaca yang part itu. Masyarakat adat Toraja ternyata punya tradisi cinta kebersihan ya, mantep deh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.