Lilpjourney Seorang travel blogger Indonesia yang suka jalan-jalan menyusuri keindahan alam berbalut adat dengan aroma secangkir kopi.

Mengamati dan Menikmati Pergeseran Wisata, Belajar Kritis

2 min read

belajar kritis

Lilpjourney.com | Lilstory – Masih teringat jelas tatkala Jembatan Meredeka Banjarmasin diwarnai dengan warna pelangi dan menuai banyak kritik. Ada yang mengatakan latah, ada pula yang berpendapat norak. Mengamati dan menikmati pergeseran wisata dan budaya, mencoba untuk belajar kritis.

Latah Dunia Pariwisata

Malam itu grup whatsapp komunitas travel blogger sedang ramai membahas tulisan blog phinemo.com “Banyak Tempat Wisata Warna-warni, Latah?”. Sewaktu kampung Pelangi Jodipan Malang dan Klenteng Sam Poo Kongnya Semarang naik daun di dunia per-instagram-an. Tapi apakah harus diterapkan pada semua sektor wisata? Apakah hasilnya sama indahnya?

Hasilnya belum tentu indah. Seperti warna tangga Batu Caves Malaysia yang awalnya berwarna natural tampak menarik untuk dikunjungi. Namun saat gue ke Malaysia, alangkah terkejutnya ketika tangga Batu Caves sudah berwana bak pelangi. Indah? Setiap orang punya perspektinya masing-masing. Jadi izinkanlah gue sedikit beropini dan mencoba berpikir kristis. Hehehe.

Sejujurnya, hal tersebut sangat kurang pas di aplikasikan pada sebuah objek wisata alam yang sudah mempunyai warnanya sendiri. Karena mereka akan terlihat cantik dengan warna naturalnya.

Mendongkrak Pariwisata dan Ekonomi 

Warna-warni pelangi ini sebenarnya mampu mengdongkrak pariwisata dan ekonomi lokal. Terlebih di era industri 4.0 ini, dimana media promosi ada dalam genggaman semua orang. Ketika sebuah tempat wisata baru muncul, tampak cantik atau biasa disebut “instagramable” biasanya akan banyak orang yang penasaran dan akhirnya berkunjung.

Tentu hal ini sangat bagus untuk pamor wisata suatu kota. Dan dari segi ekonomi, tentu mampu membantu perekonomian masyarakat sekitar dari wisatawan yang berkunjung. Biasanya akan ada warga yang menjual makanan dan minuman, membuat spot foto yang berbayar serta menyediakan lahan parkir.

Belajar Kritis di Kota Sendiri

Sebenarnya tulisan ini sedikit sensitif. Karena saat ini pun gue sedang berusaha dengan kota tempat tinggal gue ini. Hanya kadang saat pulang kerja atau saat jalan-jalan dan melintas di Jembatan Merdeka, ada rasa “sayang”.

Jembatan ini lebih indah tatkala masih berwarna putih. Tampak kokoh menghubungkan Jalan Lambung Mangkurat dan Jalan Veteran. Apalagi disebelah jembatan ini ada hutan kota yang menyegarkan atmosfer Kota Banjarmasin saat siang hari.

Sayangnya pada tahun 2017, jembatan ini mengikuti arus zaman. Warna-warni pelangi dengan motif sasirangan telah melekat pada jembatan ini. Bahkan seorang praktisi urban design yang juga dosen Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Akbar Rahman menilai jika pengaplikasian warna ini norak. Dia mempertanyakan konsepnya apa? Karena Jembatan Merdeka ini berdekatan dengan Masjid Raya Sabilal Muhtadin, simbol keagamaan di Banjarmasin.

Siang di Museum Ne’ Gandeng

Er kenapa ya kok alang di Toraja dan ukiran rumah tongkonan tidak dari kayu lagi?, tanya gue ke Erli yang seorang arsitek. 

Siang itu kami singgah ke Museum Ne’ Gandeng. Sebuah museum yang juga mempunyai penginapan. Dibangun untuk mengenang sosok Ne’ Gandeng, wanita yang punya rasa peduli tinggi pada masyarakat disekitarnya.

Hujan turun tidak lama setelah kami sampai di museum. Banyak hal yang kami bicarakan. Mulai cerita nyasar 6 jam tadi malam hingga mengamati renovasi di Museum Ne’ Gandeng. Salah satu yang menjadi kami amati adalah penggunaan beton untuk tiang alang. Padahal pada alang di Kale Landorundun menggunakan palmae untuk tiangnya.

Erli dengan sabar menjelaskan, bahwa tidak selamanya kita bisa mempertahankan arsitektur dulu. Salah satu penyebabnya ialah semakin langkanya kayu. Sebagai bentuk peduli pada alam, memang ada yang harus digeser dalam dunia arsitektur.

Belajar Kritis Diawali dengan Bertanya

Semua guru selalu memberi nasihat yang sama : jangan malu bertanya. Bertanya menandakan bahwa kamu penyimak yang baik. Bertanya juga melatih kamu untuk lebih belajar kritis karena ada banyak hal yang ingin kamu ketahui.

Sampai saat inipun gue masih mempertanyakan apakah ada pengaruh konkret konsep kuburan warna-warni di Madiun dengan hilangnya kesan angker? Karena sejujurnya jika gue disuruh memilih konsep foto, gue lebih suka memoto kuburan dengan suasana angker, dimana nisan-nisannya mempunya warna alami dihiasi lumut.

Gue juga sedang menunggu pembangunan rumah lanting. Rumah lanting merupakan rumah terapung di atas air di Banjarmasin. Karena berdasarkan webinas cagar budaya Banjarmasin, saat ini sedang ada pengkajian pembangunan rumah lanting ini.

Gue tidak memaksa kalian untuk mempunyai pemikiran sama. Karena pada dasarnya beda kepala, beda persepsi dan beda ide. Hanya saja, alangkah baiknya sebelum menerapkan konsep amati, tiru dan modifikasi melibatkan pihak-pihak yang kompeten. Agar tidak terjati latah yang tidak pada tempatnya.

PS
Peluk dari jauh

Lilpjourney
Lilpjourney Seorang travel blogger Indonesia yang suka jalan-jalan menyusuri keindahan alam berbalut adat dengan aroma secangkir kopi.

One Reply to “Mengamati dan Menikmati Pergeseran Wisata, Belajar Kritis”

  1. Iya sepakat, tidak semua konsep yang bagus diaplikasikan di suatu objek, akan nampak bagus juga di objek yang lainnya. Ibarat gaya berpakaian, mungkin di orang lain nampak bagus tapi belum tentu cocok kalau kita yang pakai.

    Lagipula, kalau semua dibikin sama atau bahkan menyontek konsep/ide lain, apa pembeda yang bisa kita tunjukkan kepada orang lain.

Tinggalkan Balasan

Hi! Terimakasih telah berkunjung. Silahkan isi nama dengan link blog (contoh lilpjourney.com) biar bisa blog walking. Jika ada pertanyaan dan diskusi silahkan tinggalkan komentar ya