Lilpjourney Seorang travel blogger Indonesia yang suka jalan-jalan menyusuri keindahan alam berbalut adat dengan aroma secangkir kopi.

Landorundun Toraja, Menginap di Tongkonan

3 min read

LilPJourney.com | TORAJA – Sebab pada detik kesekian aku telah jatuh cinta. Bukan tentang kamu, tapi tentang kehidupan masyarakat disini. Seolah banyak yang harus aku telusuri disini. Mencari yang belum orang ceritakan. Dan uniknya, semakin aku banyak tau tentang kota ini, semakin banyak teka-teki yang belum aku selesaikan. Selamat menikmati cerita Landorundun Toraja, menginap di tongkonan Toraja.

Banjarmasin, November Tahun Kedua

Neng, ketemu di Thousand Feets Coffee yaaa. Tulis gue di kolom chat whatsapp.

Pukul 8.00 malam gue ketemu Koneng di Thousand Feets Coffee. Awalnya kami hanya membahas seputar perjanjian kerja dan tagihan pembayaran. Setelah satu jam berputar dengan pembicaraan ‘kantoran’ kami mulai
percakapan tentang ‘liburan’, ah oase. Dan entah darimana kami tiba pada topik ‘TATOR’, Tana Toraja. Ketertarikan Koneng pada kota ini tak jauh dari dunia arsitek yang digelutinya sehari-hari, maklum dia seorang
arsitek yang jasanya bisa kalian booking.

Walau pada awalnya pesimis apakah kaki ini akan melangkah (lagi) ke kota dimana banyak kenangan bersarang ini atau tidak, tapi toh ternyata rencana ini bukan hanya wacana. Karena saat tiket sudah dibayar dan kode booking telah terkirim ke email, gue bisa apa? Mundur? Oh tidaaaaak. Hahaha

Desember, Tahun Kedua

tongkonan kale landorundun toraja
View Belakang Tongkonan Kale Landorundun | Dok Pribadi

Drama Toraja kali ini di awali dengan delay pesawat hampir dua jam dan hujan deras yang membuat pesawat kami terlambat landing 30 menit. Yang bikin gugup adalah saat pesawat nggak bisa mendarat dan berputar-putar di langit Makassar. Sebenernya, yang lebih bikin cemas itu bukan (cuma) hujannya, tapi ketinggalan bis ke Toraja. Waktu menunjukan pukul 10.30 malam ketika kami sampai di Rumah Makan Putri Minang untuk menunggu bus Bintang Prima yang selanjutnya akan membawa kami ke Toraja.

Selamat Pagi Toraja

Morning tante Koneng, welcome to Toraja

Sapa gue ke Koneng yang baru saja membuka mata setelah perjalanan 8 jam dari Makassar dengan sleeping bus yang super nyaman. Karts, tongkonan dan alang menjadi penyambut kedatangan kami. Lalu ‘rindu’ itu datang tanpa permisi. Ah Toraja, aku kembali, aku kangen kamu om kura-kura. 

Setelah menghubungi om Cokopacu rental motor dan tanda tangan ‘kontrak’ sewa, kamipun langsung menuju ke Desa Landorundun Toraja. Sebuah desa di ketinggian hampir 1500 mdpl yang akan menjadi rumah kami di Toraja. Berdasarkan informasi dari maps, waktu tempuh ke Landorundun dari Rantepao sekitar 50 menit dengan jalan yang cukup mulus. Ya kami akan menginap di Tongkonan Kale Landorundun Toraja.

rambu solo' toraja
Rambu Solo di Sesean Suloara | Dok Pribadi
Nyasar di Acara Rambu Solo’

Drama kedua pun dimulai : kami nyasar. Untung nyasarnya keren, di acara Rambu Solo’. Singgahlah kami untuk melihat barang sekilas, ‘pesta’ kematian masyarakat Toraja ini. Salah satu misi gue kembali ke Toraja kali ini memang untuk melihat acara Rambu Solo’. Berdasarkan beberapa sumber, acara Rambu Solo’ banyak diselenggarapan pada bulan Desember.

Seberes mendokumentasi beberapa foto dan video, kamipun pamit undur diri pada anggota keluarga dan warga. Mereka telah berbaik hati menerima kedatangan kami. Menyajikan makanan dan minuman untuk gue dan koneng. Perjalanan ke tongkonan Kale Landorundun dilanjutkan.

Jak Koffie, Satu Tempat Seribu Cerita

Ketika sampai di tongkonan mama Sarjani, pemilik tongkonan Kale Landorundun, kami disambut acara Rambu Tuka’ peresmian alang (lumbung) baru. Tapi karena koneng masih sedikit lelah dan memerlukan mandi, kamipun memilih untuk skip acaratersebut.

Kak Micha Jak Koffie
Coklat untuk om Kura-kura dan Kak Micha, owner Jak Koffie | Dok Pribadi

Ke’te Kesu’ menjadi destinasi pertama yang akan kami kunjungi. Menurut Calendar of Event Toraja, saat itu sedang berlangsung ‘Festival Kopi’ dan ‘Malam Kesenian’ yang merupakan bagian dari Lovely December, acara tahunan Dinas Pariwisata Toraja. Sebelum ke Ke’te Kesu’, terlebih dahulu kami mampir ke Jak Koffie, salah satu tempat ‘wajib’ yang harus gue datangi saat ke Toraja. Celakanya si Koneng merasa nyaman disini. Oh Kak Micha, kau telah menjebak satu hawa lagi untuk nyaman di coffee shopmu.

Alhasil kamipun baru berangkat ke Ke’te Kesu jam 4.30 sore, dimana acara Festival Kopi nya sudah selesai. Tak apa, masih ada satu acara lagi nanti malam. Sambil menunggu acara ‘Malam Budaya’ gue ngajak Koneng berkeliling Ke’te Kesu’ (cieee jadi guide). Dress code kami hari itu adalah kaos ‘Kopi Indonesia’ dari W Kopi.
 

bersama mahasiswa UNHAS Makassar
Umar, Chaliq, Koneng dan Mitha| Dok Pribadi

Setelah menjelajah hingga Buntu Kesu’ dan ngobrol dengan bapak-bapak SatPolPP yang sedang bertugas menjaga acara, gue duduk di alang. Sambil menunggu, gue mengambil beberapa video dan nungguin Koneng yang asik hunting foto ukiran di tongkonan Ke’te Kesu.

Bertemu Mahasiswa DKV

Maaf mba, itu buku tentang kopi? (sambil nunjuk notes yang gue pegang) – Sapa cowok tak dikenal yang tiba-tiba menghampiri gue.

Namanya Chaliq, dia di Toraja untuk menggarap sebuah film tentang kopi untuk tugas akhir kuliahnya bersama kedua rekannya, Asmitha dan Umar. Mereka bertiga merupakan mahasiswa semester akhir jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) disalah satu perguruan tinggi di Makassar. Ada sebuh benang merah unik diperkenalan kami yang ngingetin gue pada buku merah Fiersa Besari : Catatan Juang. Buku yang sengaja gue bawa dari Banjarmasin sebagai obat jenuh.

Di buku merah itu menceritakan tentang petualangan tiga sahabatSuar, Eli dan Fajar, mahasiswa lulusan DKVberlatar  Desa Utara yang sedang membuat film dokumenter tentang skandal pabrik semen di Desa Utara. Sedikit mirip bukan? Desa Utara : Toraja Utara dan mahasiswa DKV. Hehehe.

 

simbuang batu tikala dekat landorundun toraja
Simbuang | Dok Pribadi

Setelah saling bertukar akun instagram dan nomor HP (kali aja bisa trip bareng selama di Toraja), gue dan Koneng pamit undur diri. Menginat lokasi kami menginap yang cukup jauh dari Ke’te Kesu. Angin malam sudah mulai menggigit saat kami sampai di daerah Batutumonga. Jam 9 malam, semoga sampai tepat waktu dan nggak nyasar, batin gue. Sebenernya saat itu gue agak was-was karena jalan yang kami lalui berbeda dengan jalan yang pertama kami lewati tadi siang. Tapi karena om wartawan yang saat itu meliput Rambu Tuka’ di rumah mama mengatakan ada tiga jalur menuju rumah mama, jadi gue slow aja sih. Dan alhamdulillah kami sampai tongkonan dengan selamat. Hehehe.

Empat Kali ke Toraja
Kebun Kopi Landorundun | Dok Pribadi

Dua hari tinggal di tongkonan Kale Landorundun Toraja membuat gue sadar bahwa Toraja bukan hanya tentang wisata dan upacara adatnya. Ada sisi ‘magis’ yang selalu menarik gue untuk menyebutnya ‘rumah’. Sisi magis yang seakan tak pernah habis untuk ditelusuri dan diceritakan.

Sepertinya setelah empat kali (September 2017, Agustus 2018, Desember 2018 dan Maret 2019) ke Toraja, akhirnya gue menemukan zona ternyaman disini. Di rumah ‘mama’ Sarjani. Keramahan beliau dan keluarga, kebun kopi di bawah tongkonan beliau, hutan bambu, situs simbuang dan masyarakat disini yang sangat ramah (sampai nggak dibolehin pulang dan mau dijodohin hahaha).

tongkonan kale landorundun
Kopi Pagi di Landorundun | Dok Pribadi

 

Pada detik kesekian, akhirnya gue harus mengakui : AKU JATUH CINTA UNTUK PERTAMA KALINYA (PADA KOTA ORANG).

Cerita di atas adalah pengantar dari perjalanan di ‘istana’ Sang Putri ‘Rapunzel’ Landorundun. Tunggu artikel selanjutnya ya. Akan menceritakan lebih banyak ‘sisi’ dari Toraja yang (mungkin) akan membuat kalian ingin melihat langsung : legenda Putri Landorundun, dunia kopi Toraja dan kehidupan masyarakatnya.

Segera Kembali ‘Pulang’

PS
Peluk dari jauh

Lilpjourney Seorang travel blogger Indonesia yang suka jalan-jalan menyusuri keindahan alam berbalut adat dengan aroma secangkir kopi.

28 Replies to “Landorundun Toraja, Menginap di Tongkonan”

  1. wah aku kalah nih sama kakak, aku aja yg stay brp tahun di mksr blm pernah ke Toraja hikss, but next time semoga rencana ygselalu gagal ke sana gak gagal lagi, happy trip kak

    1. iya nih bolak balik ke Toraja…hampir 3 bulan sekali selalu 'pulang' ke Toraja. cari makanan halal gampang kok kak, asal di kota. kalau berencana melipir sampai ke dalam, saran sih bawa buntelan bekal hehehe

      happy trip ^^

  2. perjuangan jalan ke Toraja kalo dibaals sesuatu yang kaya gini sih gak akan menyesal dan merasa rugi.
    Hope, someday i can go there 😀

    salam,

    rizkyashya.com

  3. Seru…biasanya tempat-tempat seperti ini memang membuat rindu dan ingin selalu kesana..rasanya 1 minggu pun kurang waktu nya untuk menjelajah

  4. Aku selalu ingin berada di posisi Putri yg bebas menjelajah daerah orang. Travelling impianku bgt sjk kecil. Syg skrg sdh terjebak di dunia yg serba monoton. Ternyata Landorundun itu nama desa ya. Unik sekaliml.

    1. Gk tau juga sih kak sejak kapan doyan traveling. Dulu sukanya ke tempat iconic, tapi sekarang suka yang bersentuhan dengan masyarakatnya.

      Iya kak nama 'desa' atau dalam bahasa sana 'lembang'

  5. Mantap banget cerita travelingnya. Yang jelas aku belum pernah sih ke Toraja. Baca-baca postinganmu jadi bisa ikutan tau gimana cerita di Toraja. Nice!

  6. Keren ya ka putri menjelajah terus, kapan-kapan boleh dong ikut nih. Ditunggu ya kak cerita yang lebih seru tentang Toraja. Penasaran sih, karena aku belum pernah ke Toraja hahahhaa

    1. Boleh kalau mau ikut. Tapi tiketnya bayar sendiri yaaa hehehe
      Sebenernya Toraja itu keren banget, kota dengan paket lengkap. Mereka cuma nggak punya pantai aja sih. hehehe

  7. Kadang dari perjalanan kita bisa banyak belajar dan jadi tau hal baru, ini bagian yg aku cari juga kalo travelling .. Toraja ini suasana alamnya juga indah ya ..

  8. Waduh, baca ini cuma bisa bilang.. Iri.. Iri.. Iri.. Bener loh mba, mumpung lagi single nikmati aja dulu traveling ke tempat2 kece begini. Aku jd pengen nyasar kesana juga deh liat upacara kematian itu. Cerita detail ttg ini dong mba..

    1. Iya mba, katanya sendiri itu waktu yang teoat untuk traveling hehehehe.
      Tenang mba cerita tentang ini bersambung kok. Kan ini masih pengantar

    1. Hehehe dijamin betah deh mba kalau tinggalnya di kampung bukan di kotanya
      Bayangin aja : rumah adat, kopi panas, udara dingin, awan yang menyelimuti gunung. hohoho

  9. Gara2 Putri sering nulis tentang Toraja, belakangan aku googling sama nonton video soal Toraja di youtube. Ternyata budayanya unik banget ya, sayang yg biasanya dikenal hanya kopi dan adat upacara kematian ya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.