Lilpjourney Seorang travel blogger Indonesia yang suka jalan-jalan menyusuri keindahan alam berbalut adat dengan aroma secangkir kopi.

Book Review : Dokter di Medan Lara

8 min read

dokter di medan lara
[us_separator size=”huge”]
[us_separator]
[us_separator size=”huge”][us_separator size=”huge”]
[us_separator]
[us_separator]

Review buku biografi Prof. Idrus Andi Paturusi

[us_separator]

Lilpjourney.com | Book Review – Cerita tentang Toraja telah mengantarkan buku biografi Prof. Idrus Andi Paturusi ke Banjarmasin. Buku biografi sebenarnya bukan genre asing buat gue, tapi bukan pula genre buku yang paling gue suka. Buku pendiri Apple, Steve Jobs karya Walter Isaacson adalah buku biografi pertama gue. Sampai saat ini, buku Dokter di Medan Lara adalah buku biografi ke 11 yang tinggal di rak buku gue.

Keterlibatan Idrus dalam berbagai misi kemanusiaan dimana pun di dunia ini yang tertimpa bencana. Saya yakin itu semata karena mengharapkan keridhaan Allah SWT. Karena dokter bencana tidak mendatangkan keuntungan material bagi Idrus bahkan saya pernah mendengar Idrus mengeluarkan uang pribadinya demi membiayai operasional timnya di daerah bencana – Jusuf Kalla

[us_single_image image=”2363″ size=”full” style=”shadow-2″ animate=”fade”]
[us_iconbox icon=”fas|book” style=”circle”]Judul :
Dokter di Medan Lara
Penulis :
Sili Suli dan Hurry Hasan
Penerbit :
Arti Bumi Intara
ISBN:
978-602-5963-77-3
Tahun Terbit :
Cetakan I, Maret 2020
Jumlah Halaman :
xvi  + 354 halaman
Dimensi :
22 x 30
Berat :
-+ 2 kg
Kategori:
Biografi[/us_iconbox]
[us_iconbox icon=”fas|pen”][/us_iconbox]

Paksaan yang Kebablasan

Awalnya gue kira cover buku ‘Dokter di Medan Lara’ ini hasil editing. Tapi asumsi gue patah ketika membuka halaman pertama buku ini. Foto asli dari cover ini tersaji. Sosok Prof. Idrus yang sedang berjalan dengan tas jinjing dan kopernya berlatar pasukan tentara, menggambarkan beliau siap untuk berperang dalam pengabdian.

Pada halaman berikutnya, ada tiga foto orang penting dalam hidup beliau. Kedua orangtua beliau dan sang kakek. Beliau yang mempunyai garis keturunan bangsawan dari kedua orangtuanya lahir pada 31 Agustus 1950. Ia merupakan anak sulung dari 9 bersaudara. Tumpuan pertama harapan sang ibu.

Jarak Kematian 

Kalian tau, saat membaca perjalanan hidup seorang tokoh besar melalui biografinya, seakan berjalan pada lorong waktu. Tidak ada yang namanya kebetulan. Sesekali, ah bukan, tapi seringkali saat keberuntungan menyertaimu, saat itulah Tuhan sedang membuktikan kekuatan doa seorang ibu.

Di awal cerita buku biografi ini, Prof. Idrus pernah hampir celaka karena tiang listrik yang roboh. Tidak hanya itu, balok kayu bangko bahkan pernah mengantarkannya pada ruang dingin rumah sakit. Bekas lukanya masih ada sampai sekarang. Tapi seperti mitos yang beredar : kalau kepala seseorang terkena benturan keras, orang tersebut akan berubah.  “Idrus, kayaknya pintar ko, sejak kepalamu dipukul”, tutur Asrul Aziz sahabat Idrus di bangku SMA.

Ayah Prof Idrus bertugas di militer. Inilah yang membuat Prof. Idrus berpindah-pindah sekolah sewaktu sekolah dasar. Tercatat ada 6 sekolah dasar pernah menjadi tempat ia mencari ilmu. Di masa SMA, seperti remaja pada umumnya, Prof. Idrus tidak lepas dari kenakalan. berbekal ilmu bela diri yang ia pelajari, beliau tidak pernah menolak ajakan berkelahi. Bahkan beliau mendapat julukan Jenggo (Jagoan) SMA Katolik Cendrawasih.

Menjadi dokter bukanlah cita-cita Prof. Idrus. Impiannya adalah menjadi seorang insinyur. Kedua orangtuanya, terutama sang ibu, tidak menentang mimpinya. Walau beliau punya impian lain. Beliau ingin Idrus menjadi seorang dokter. Tapi, Siti Hasnah tidak langsung menentang impian sang putra. Ia memperbolehkan Idrus mengejar mimpinya dengan syarat terlebih dahulu mendaftar di Fakultas Kedokteran UNHAS.

Walau berjulukan Jenggo, tapi jika berkaitan dengan ibu, Idrus adalah anak yang patuh. Satu peristiwa  menegangkan tergambar jelas di halaman 16 buku ini. Idrus mengikuti tes kedokteran, berbarengan dengan jadwal kapalnya ke Jakarta untuk tes di ITB. Kejar mengejarpun terjadi. Saat itulah, mereka yang berada di pelabuhan telah melihat, bagaimana kegigihan seorang pemuda yang tengah mengejar mimpinya.

Doa Ibu

Kegagalan dalam mengejar mimpinya menjadi seorang insinyur, serta doa seorang ibu yang telah mencapai langit, mengantarkan Idrus pada berbagai kemudahan di pendidikan dokternya. Saat membuka halaman demi halaman buku ini, hati ini bergetar. Betapa kuatnya doa seorang ibu hingga mengantar Prof. Idrus pada kesuksesannya. Tuhan selalu bersama doa seorang ibu.

Walau awalnya ia hanya ingin menuruti keinginan sang ibu, ingin berontak saat masa pelonco, akhirnya pada satu titik ia sadar. Bahwa semua usahanya akan sia-sia jika ia hanya mendengarkan egonya. Pada saat membaca bagian ini, satu hal yang membuat gue ingin semua orang membaca buku ini. Terutama untuk anak-anak muda. Bahwa gejolak kawula muda tidak bisa dijadikan alasan untuk selalu memenangkan ego di atas logika.

Satu permintaan (ibu) dan kebablasan yang akhirnya menyelamatkan banyak nyawa – Lil P Journey.

[us_single_image image=”2360″ size=”full” style=”shadow-2″ animate=”fade”]

Pendidikan dan Karir yang Mulus

Ketika Idrus bertemu Jendral M. Yusuf, saat itu gue sebagai pembaca sadar bahwa (calon) orang besar mengisahkan cerita orang besar lain. Dunia bukan sempit, tapi Tuhan sedang menciptakan kesempatan untukmu, wujud dari doa ibumu.

Kehangatan mengalir dalam hati saat membaca buku ini. Memang, dibuku ini tidak diceritakan secara detail bagaimana perasaan sang ibu saat Prof. Idrus berhasil menjadi seorang dokter. Tapi, beliau pasti sangat bangga saat sang putra mampu menyelesaikan pendidikannya tepat waktu. Satu hal yang tercerita dengan jelas, saat sang ibu sangat antusias menata ulang kamar sang putra, memberikan fasilitas dan menciptakan kenyamanan tempat belajar.

Semangat Misi Kemanusiaan

Ende, kota terbesar di Pulau Flores ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata. Selain Danau Kelimutu, di kota ini juga ada jejak sejarah, rumah pengasingan Bung Karno. Tahun 1992, kota ini pernah dilanda gempa tektonik disertai tsunami. Tim medis UNHAS yang dipimpin oleh Prof. Idrus berangkat untuk memberikan bantuan penanggulangan bencana. Ini adalah misi kemanusiaan pertama yang dipimpin Prof. Idrus.

Keberhasilan misi ke Ende mengantarkan Prof. Idrus pada misi-misi kemanusiaan lain. Bukan hanya misi kemanusiaan saat bencana alam, tahun 1999 Prof. Idrus menjadi pemimpin tim medis UNHAS pada misi kemanusiaan di Ambon. Saat itu di Ambon terjadi konflik. Suasana mencekam selama dua minggu bertugas di Ambon ia rasakan. Dimana ia dan timnya melakukan penyelamatan pada nyawa yang nyaris lepas dari tubuh atau menjahit bagian tubuh agar dapat dimakamkan secara layak.

Kapokkah Prof. Idrus berhadapan dengan misi kemanusiaan disaat konflik? Tidak. Masih di tahun yang sama, ia berangkat ke Timor-Timur. Saat itu suasana disana juga tidak kondusif. Kubu pro integrasi dan pro kemerdekaan tengah bersitegang.

Spot Jantung dan Konflik Internasional

Saat kalian berada dilokasi konflik, dilokasi yang bukan tanah kalian, tentu perasaan was-was mengintai. Tidak ada yang tau seberapa dekat kita dengan kematian. Seakan tak mengenal lelah dan takut, Prof. Idrus kembali ke medan lara.

Ternate, kota yang menjadi tujuan traveling gue selanjutnya, dikenal sebagai kota yang mempunyai banyak benteng bekas penjajahan ini pernah berkonflik. Saat itu Prof. Idrus dan timnya lagi-lagi melakukan misi kemanusiaan untuk menolong para korban konflik. Pengalaman di todong senjata oleh pasukan tentara pernah dirasakan oleh Prof. Idrus dan teman-temannya.

Jejak misi kemanusiaan Prof. Idrus ternyata tidak hanya di dalam negeri. Tahun 2001 terjadi bentrokan di perbatasan Pakistan dan Afganistan. Perang saudara ini telah menelan ribuan korban jiwa. Melakukan misi ditengah perang dengan ledakan bom dan raungan pesawat tempur tak meredupkan semangat kemanusiaan Prof. Idrus dan timnya.

Tantangan Karir

Setahun setelah misi kemanusiaan internasional, Prof. Idrus terpilih menjadi dekan FK UNHAS. Setelah dilantik, banyak PR yang dihadapi. Setiap pemimpin selalu mempunyai sudut pandangnya sendiri untuk memperbaiki masalah yang ada. Gebrakan baru ia buat untuk memajukan FK UNHAS. Perbaikan sarana belajarpun menjadi salah satu prioritasnya.

Selama 4 tahun menjabat sebagai dekan, Prof. Idrus berhasil merubah wajah FK UNHAS menjadi lebih asri dengan didukung sarana, prasarana dan tenaga pengajar yang baik.

Pada tahun 2006, Prof. Idrus terpilih menjadi Rektor UNHAS. Tantangan merubah wajah UNHAS ia hadapi. Di Bagian 22 buku ini, foto-foto Prof. Idrus berjuang merealisasikan program dari visi misinya tersaji. Ada foto pelantikan beliau, saat beliau berdialog dengan mahasiswa yang berunjuk rasa, penanaman pohon bersama SBY dan masih banyak sekali foto-foto yang menunjukan perjuangan beliau untuk memajukan UNHAS di masa jabatannya.

[us_single_image image=”2345″ size=”full”]

Buku Kedua

Toraja adalah awal dari perkenalan gue dengan Kak Sili. Semenjak menerima buku Surya, Mentari dan Rembulan tahun lalu, kami beberapa kali bertukar kabar. Saat itu beliau memberi informasi tentang kesibukannya menggarap buku kedua. Sebuah buku biografi seorang tokoh.

Tidak heran jika Kak Sili dipercaya untuk membuat buku biografi. Beliau yang merupakan mantan wartawan Harian Ujungpandang Ekspress tentu mengenal banyak orang besar dan penting. Kejelian beliau dalam menggambarkan suatu peristiwa dalam paragraf sangat tergambar di buku Dokter di Medan Lara ini.

Sejujurnya, gue nggak menyangka bisa masuk daftar orang penerima buku ini. Buku yang tidak dijual dan dicetak hanya 1000 eksemplar. Suatu kehormatan tersendiri saat menerima buku ini. Terlebih buku ini gue terima 11 hari setelah ulang tahun. Terimakasih atas kadonya Kak Sili Suli.

Sewaktu memasang cover buku Dokter di Medan Lara pada status whatsapp (17/3), beberapa teman di Makassar memberi tanggapan. Salah satu dari mereka berujar : rektor aku waktu kuliah itu dik. Beliau sekarang sedang sakit dan dikarantina karena covid-19.

Penasaran dengan kabar tersebut, gue menelusuri di pencarian google. Benar saja perihal kabar tersebut. Semoga sekarang beliau sudah sehat dan bisa beraktivitas kembali. Aamiin.

Ritual Membaca Buku

Siang itu, 18 April 2020, seorang kurir JET Express datang. Wajah gue langsung berseri saat dia mengeluarkan bungkusan plastik transparan berisi buku bercover merah. Buku ini sudah familiar saat Kak Sili membocorkan covernya di email yang beliau kirim.

Dengan sangat antusias, buku itu langsung gue buka. Sayangnya, hari ini gue sudah terlajur ada janji. Baiklah, cukup diintip hari ini. Keesokan paginya, Minggu pagi di teras rumah, ditemani secangkir kopi true brew 15 gr robusta, dengan 200 ml air bersuhu air 92oC dan lagu beraliran Japanese Rock dari Miyavi terlantun di iMusic lewat earphone, gue siap membaca buku Dokter di Medan Lara.

Tidak lupa, seperti pesan guru matematika gue sewaktu SMK, Pak Suwita, untuk membaca al-fatihah dan doa untuk penulis buku. Kata beliau, berdoa sebelum membaca buku akan mempermudah kita dalam belajar dan mendapatkan ilmu dari buku tersebut.

[us_separator][us_single_image image=”2361″ size=”full”][us_single_image image=”2338″ size=”full”]
[us_single_image image=”2337″ size=”full” style=”shadow-2″ animate=”fade”][us_separator]
[us_iconbox icon=”fas|clock”][/us_iconbox]

Terjebak dalam Lorong Waktu

Semenjak pandemi covid-19, dokter dan tim medis memang menjadi sorotan dunia. Mereka adalah orang-orang digarda terdepan yang saat ini berperang melawan virus ini. Saat membaca buku ini, gue merasakan bagaimana kehadiran tim medis mampu menjadi oase untuk mereka yang sedang kesakitan.

Sekitar 5 tahun terakhir, gue baru menyadari bahwa setiap bagian buku adalah kata yang penting. Jika dulu gue suka melewati bagian ‘ucapan terimakasih’, sejak 5 tahun lalu, gue belajar untuk membacanya. Karena disana ada nama-nama orang yang berjasa terhadap terbitnya buku.

Saat membaca bagian prolog, dimana Prof. Idrus bertemu dengan Kak Sili. Kalian pernah mendengar kalimat : reading can take you places you have never been before (Dr. Seuss)? Saat membaca bagian ini, gue merasa sedang menyaksikan bagaimana ‘serunya’ pertemuan mereka. Percakapan yang akhirnya membuahkan buku yang saat ini reviewnya sedang kalian baca. 

Ribuan nyawa telah berhasil Prof. Idrus selamatkan. Ia memang tidak sendiri. Bersama timnya, ia berhasil melakukan misi kemanusiaan di daerah yang terkena bencana atau konflik. Cita-cita ibunya telah tercapai.

Pada buku yang terdiri dari 31 bagian ini, ada satu bagian favorit gue. Saat Prof. Idrus mengibaratkan cita-cita sebagai keris. Dimana untuk membuat keris yang cantik memerlukan proses panjang dan tidak mudah. Bermimpi dengan hati, berjuang dengan akal. Ketika kita mempunyai tujuan hidup yang mulia harus diiringi dengan kerja keras.

Beliau juga telah membuktikan, bahwa ego disaat muda bisa dikalahkan dengan semangat. Walau harus dikerjai seniornya saat masa perpeloncoan kuliah, toh akhirnya beliau bisa menjadi Jendral Pelonco dengan membawa bendera fakultas di akhir masa perpeloncoan. Yang awalnya berjulukan Jenggo menjadi aktivis kampus. Bukankah manusia akan selalu berubah menjadi lebih baik saat ia memiliki tekad?

Kesimpulan

Sebelum menerima buku Dokter di Medan Lara, sosok Prof. Idrus merupakan orang asing untuk gue. Apalagi sepak terjang beliau di dunia medis. Dan buku ini telah membuat gue ‘mengenal’ Prof. Idrus. Seorang dokter di medan lara yang siap bertempur di bawah bendera kemanusiaan.

Gue tidak mengaamiini : namanya juga remaja, boleh nakal. Tapi dibuku ini, Prof. Idrus menunjukan cerita hidupnya, bahwa ia bukan sosok yang sempurna. Tapi beliau punya ‘hati’. Beliau tidak lepas dari kenakalan masa muda. Walaupun hanya diceritakan sekilas, tapi dibuku ini sangat jelas tergambar bahwa sebagai orang tua, pendidikan anak adalah hal utama. Orangtua boleh punya mimpi, tapi impian anak tetap harus didukung. Berkat kasih sayang dan bimbingan kedua orangtua, Prof. Idrus menjadi sosok yang bisa menjadi teladan karena semangat perjuangan kemanusiaannya.

Kebaikan akan selamanya dikenang. Orang baik tidak pernah melupakan orang-orang yang bermakna dalam hidupnya. Dalam buku ini, tergambar sosok Prof. Idrus yang tidak pernah melupakan teman-temannya. Seperti saat ia merekomendasikan dr. Nurdin Perdana sebagai Kakanwil Depkes Provinsi Maluku Utara yang pertama.

Buku ini tersaji dengan sangat manis. Tidak terasa 351 halaman telah selesai gue baca. Benar saja kata Prof. Idrus, sosok Kak Sili yang jeli dalam menyajikan informasi, berpadu dengan Kak Hurri Hasan yang mempunyai sentuhan kata yang halus, membuat buku biografi ini ringan dibaca dan mudah dipahami.

Diawali dengan ‘jangan menghitung apa yang kau berikan, tapi ingat apa kau terima’, buku ini ditutup dengan ‘ikhlas itu sangat pahit, tapi itu menyembuhkan segala macam penyakit’.

PS
Peluk dari jauh

Lilpjourney Seorang travel blogger Indonesia yang suka jalan-jalan menyusuri keindahan alam berbalut adat dengan aroma secangkir kopi.

25 Replies to “Book Review : Dokter di Medan Lara”

    1. Waaah terimakasih kak Sili. Langsung di baca ternyata
      Buku ini sangat menginspirasi. Banyak sudut pandang saya yang patah. Sebesar apapun privilege yang diberikan orangtua beliau, tanpa kemauan tekad yang luar biasa, tidak akan membuahkan kesuksesan.
      Terimakasih bukunya kak Sili. Semoga selalu sukses dan sehat aamiin

  1. wah buku keren iya ini mba, saya baca reviewnya aja, mau ikutan baca juga. emang bener ikhlas itu pahit tapi itu bisa menyembuhkan segala penyakit. duh jadi tertampar banget sama pesannya. makasih sharingnya mba.

  2. Kekuatan doa seorang ibu ya Mbak Putri… bs mengantarkan Prof. Idrus ada kesuksesannya. Terharu saya membacanya, doa ibu mencapai langit, masyaallah jadi ingat almh ibunda saya. Meski ibu saya sudah tidak bs mendoakan saya, insyaallah sy selalu mendoakan beliau dan pastinya mendoakan anak2 saya kelak bs sukses seperti Prof. Idrus ini. Selamat telah menyelesaikan 351 hlm biografi ini ya Mbak ^^

  3. Bener banget kekuatan doa seorang ibu luar biasa aku mengalami sendiri setiap pekerjaan selalu minta doa selalu diberikan kelancaran dalam segalanya

  4. Ya ampun perjalanan hidup yang panjang untuk seorang dr. Idrus ya. Semoga beliau disehatkan dari sakitnya. Pensaran dg gaya penulisan buku biografi keren ini. Aku jarang tertarik baca biografi tapi buku ini sepertinya harus dibaca.

  5. Beliau ini Rektorku semasa kuliah di Unhas XD, MasyaaAllah jadi merinding baca review buku dari Kak Putri, Jadi pengen baca juga huhu

  6. Wow, review bukunya kereen! Jadi malu nih aku yang lagi males-malesnya ngerjain hobi baca & nulis. Tersibukkan ama rutinitas yang diakhiri dengan rebahan, pencet-pencetin gadget trus terbang ke alam mimpi…

  7. Memang ya kebanyakan tokoh sukses itu ada sosok ibu yang hebat di belakangnya. Beberapa buku biografi yang kubaca rata-rata seperti itu ceritanya. Jadi berasa beban juga sih jadinya apakah aku bakal jadi ibu yang bisa mendidik anak dengan baik. Heu

  8. Bagus banget review nya mba .. berkaca-kaca mata saya membaca ceritanya terharu sekali. Saya jadi ingat dulu saya memaksakan keinginan saya namun mama punya keinginan lain. Dan allah kabulkan keinginan mama.. memang doa ibu itu engga tertandingi. Dan ternyata berjalannya waktu, keinginan orang tua memang jalan jauh lebih untuk kehidupan anaknya dibanding keinginan anaknya dulu.

  9. Hmmm entahlah, entah beliau yg sangat luar biasa ataukah putri yang sangat dramatis menuliskannya. Tapi perpaduan ini bikin aku excited sama beliau. Mana tau nanti ada jodoh berjumpa beliau

  10. Menarik banget sih cerita beliau ini mana jagoan pada masanya lagi ya tetapi setelah mengabdi keren banget beliau ini, sungguh menginspirasi eiy.

  11. Buku dr idrus ini sangat menginspirasi sekali yac mba, dan doa ibu lah yang menjamin perjalanan anaknya.

  12. Ketika Aceh di guncang gempa,beliau dan tim yang pertama kali mengoperasikan RS.Aceh untuk menangani pasien, dan ada beberapa mahasiswa FK Unsyiah, yang sedang menjalani masa koass di bawah ke Makassar, untuk menuntaskan masa koass nya. Dimasa beliau jadi dekan, bersama Prof.Irawan,merubah kurikulum kedokteran berbasis persistim, efeknya banyak mandpat penentangnan dari guru2 besar yang lebih senior, awalnya memang berat danangkatan kami (ne02natus)fk 02, yang merasakan bagaiman kenekaran beliau merubah kurikulim

  13. Ini buku limited, salut buat yang dapat. syelamaaaat. Bdw aku setuju sama doa ibu, bagaimana pun tidak ada yang namanya kebetulan, melainkan saat itu doa ibu dijawab sang pencipta 🙂 terus lagi, ini tokoh hebat. Tidak kebanyang membaca sensasi langsung dari buku ini. Mantap

Tinggalkan Balasan

Hi! Terimakasih telah berkunjung. Silahkan isi nama dengan link blog (contoh lilpjourney.com) biar bisa blog walking. Jika ada pertanyaan dan diskusi silahkan tinggalkan komentar ya