Lilpjourney Seorang travel blogger Indonesia yang suka jalan-jalan menyusuri keindahan alam berbalut adat dengan aroma secangkir kopi.

Asli atau Hoax? Cek Keaslian Berita dengan 10 Cara Ini

6 min read

cara cek keaslian berita

Cara Cek Keaslian Berita | Lilpjourney.com – Semenjak pandemi, grup keluarga ramain dengan berbagai informasi. Mulai dari obat-obat yang katanya bisa ‘menangkal virus’ hingga berita ‘efek vaksin’. Forward chat yang tak jelas asal usulnya tersebut juga dilengkapi dengan foto. Bagi aku berita yang tak jelas seperti itu hanya memunculkan kegaduhan saja. Kali ini aku ingin berbagi tentang asli atau hoax dengan melakukan pengecekan keaslian sebuah berita.

Kenali Jenis Informasi Salah

4 jenis informasi salah

Pernahkah kalian mendengar tentang misinformasi, disinformasi, malinformasi, dan infodemik? Jadi pada tanggal 16 dan 17 Juni 2021 kemarin aku baru saja mengikuti sebuah pelatihan online dari Tempo Institute yang bertema Cek Fakta Kesehatan bersama Kak Icha Aisyah.

Sebelum mengikuti pelatihan, para peserta diwajibkan menyelesaikan pre-test. Nah saat pre-test inilah aku menemukan ke-empat kata tadi. Benar-benar baru pertama. Ah ini dia bagian dari belajar, membaca, dan menulis yang aku suka. Semakin sering ikut pelatihan, semakin literasi aku bertambah.

Ternyata keempat istilah tadi merupakan pengganti fake news. Hal ini ditetapkan oleh Unesco dan Kementerian Komunikasi dan Informatika agar publik tak lagi menggunakan frasa fake news. Kaerena pada dasarnya sebuah berita bersifat akurat dan tepercaya. Jadi kalau ada berita yang tidak akurat dan tidak tepercaya alias fake news, yang akan rusak adalah profesi jurnalisnya dan juga kredibilitas jurnalisme.

Untuk menghindarinya, maka bisa digunakan istilah disinformasi, misinformasi, dan malinformasi terhadap pemberitaan yang tidak benar. Lantas apa perbedaan keempat istilah tersebut?

1# Misinformasi

Salah informasi yang dipercaya sebagai kebenaran dan disebarkan dengan tujuan baik. Contoh sederhananya adalah kabar burung yang biasanya ada di grup keluarga. Salah informasi yang disebarkan dengan tujuan agar anggota keluarga waspada.

2# Disinformasi

Informasi yang salah dan sengaja disebarkan dengan tujuan menipu atau mengancam.

3# Malinformasi

Informasi benar yang sengaja disebar dengan tujuan menghasut atau mengancam.

4# Infodemik

Gelombang informasi yang berlebihan yang berpotensi menciptakan kebingungan. Sadar nggak sih selama pandemi, ada banyak informasi yang bertebaran seputar Cov-19 dan vaksin. Di masa pandemi seperti saat ini, saat kita harus mengurangi aktivitas di luar rumah, tentu sumber informasi kita adalah dari berita di internet. Menurut laporan perusahaan media asal Inggris, We Are Social yang dirilis pada Februari 2021 menunjukkan 61,8% masyarakat Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial. Durasi penggunaan rata-rata orang Indonesia untuk mengakses media sosial adalah 3 jam per harinya.

Akan tetapi pengunaan media sosial yang begitu masif di masa pandemi ini menimbulkan informasi yang salah terkadang dapat menyebar lebih cepat dibandingkan faktanya. Fenomena inilah yang kemudian disebut infodemik. Bagaiman cara melawan infodemik? Yaitu dengan platform digital harus dibuat lebih akuntabel, mis/disinformasi dilacak dan diverifikasi, serta kemampuan literasi digital masyarakat perlu ditingkatkan sehingga tidak mudah termakan hoax.

7 Jenis Hoax

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa hoax atau hoaks adalah berita bohong atau kabar palsu yang tidak bersumber (KBBI). Seiring kemajuan teknologi, orang-orang dapat dengan mudah mendapatkan informasi. Sayangnya tak semua informasi yang beredar adalah berita benar. Tak jarang ada berita yang sengaja dibuat seolah-olah benar adanya dan diverifikasi kebenarannya.

Lantas mengapa orang Indonesia sering termakan hoax? Berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, tingkat literasi masyarakat Indonesia masih rendah. Dari 70 negara, Indonesia menempati urutan ke 62 atau berada di 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah (sumber : https://perpustakaan.kemendagri.go.id).

Jika masyarakatnya saja malas membaca, maka bisa mudah termakan berita bohong. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan berita bohong dengan maksud dan tujuan tertentu tergantung dengan jenis hoaxnya. Hoax sendiri punya 7 jenis, yaitu :

1# Satire atau Parodi

Satire atau parodi adalah jenis hoaks yang dibuat dengan tidak berniat untuk merugikan, tetapi berpotensi untuk mengelabui. Satire tidak termasuk konten yang membahayakan. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih banyak yang menanggapi informasi dalam konten tersebut sebagai sesuatu yang serius dan menganggapnya sebagai kebenaran.

2# Misleading Content atau Konten Menyesatkan

Dari namanya saja sudah konten menyesatkan. Maka dapat dipastikan bahwa jenis hoax ini biasanya mengandung informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu. Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.

3# Imposter Content atau Konten Tiruan

Konten tiruan atau Imposter content adalah jenis hoaks yang mengambil sebuah sumber/informasi asli kemudian ditiru atau diubah untuk mengaburkan fakta sebenarnya. Konten palsu ini juga bisa berbentuk konten tiruan dengan cara mendompleng ketenaran suatu pihak atau lembaga.

4# Fabricated Content atau Konten Palsu

Konten palsu merupakan sebuah konten atau berita yang 100% baru dan sengaja dibuat, didesain dengan tujuan menipu serta merugikan.

5# False Connection atau Keterkaitan yang Salah

Keterkaitan yang salah atau false connection adalah ketika judul, gambar, atau keterangan tidak mendukung konten atau tidak terikat antara satu dengan yang lainnya. Ciri dari konten hoaks jenis ini adalah judul yang berbeda dengan isi berita. Biasanya konten ini sengaja diunggah demi memperoleh keuntungan berupa profit atau publikasi berlebih dari konten sensasional.

6# False Context atau Konten yang Salah

Konten yang salah atau false context adalah ketika ada konten asli yang dipadankan atau dikait-kaitkan dengan konteks informasi yang salah.

7# Manipulated Content atau Konten yang Dimanipulasi

Konten yang dimanipulasi atau manipulated content adalah informasi atau gambar yang asli sengaja dimanipulasi untuk menipu. Sederhananya, konten jenis ini diciptakan dengan cara mengedit konten yang sudah ada dengan tujuan untuk mengecoh publik.

Ciri-ciri Berita Hoaks

Ada beberapa ciri-ciri berita hoax yang harus kita ketahui saat mendapatkan informasi :

1# Judul provokatif

2# Dikirim melalui email atau media sosial

3# Berisi pesan dengan informasi yang membuat cemas

4# Diakhiri dengan himbauan agar pesan tersebut segera disebarkan

5# Pengirim tidak jelas atau bahkan anonim

Cara Cek Keaslian Berita dengan Mengidentifikasi Berita Hoax

kelas cek fakta

Jika dulu hoax sering muncul sebelum pemilihan presiden atau kepala daerah, di masa pandemi ini berita hoax seakan diproduksi setiap hari. Satu berita misinformasi dan disinformasi dalam balutan berita hoax dikonformasi salah atau benarnya, besok muncul lagi isu lain. Berdasarkan data Menkominfo, saat ini ada 900 ribu situs penyebar hoax!

Bagaimana cara kita terhindar dari berita hoaks? Yaitu dengan cara cek keaslian berita menggunakan tips mengidentifikasi situs abal-abal berikut ini :

1# Cara cek keaslian berita dengan cek alamat situs nya

Apabila kalian menerima informasi dari sebuah website atau hasil dari pencarian maka cermatilah alamat URL situsnya. Jika berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi, misalnya menggunakan domain gratisan, maka informasinya bisa dikatakan meragukan.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs tak resmi sebanyak 300 situs. Artinya masih ada ribuan situs yang mungkin menyebarkan berita hoax di internet yang wajib diwaspadai.

2# Cek data perusahaan media di Dewan Pers

Kita dapat melakukan pengecekan media atau situs online tersebut apakah mempunyai badan hukum atau belum dengan melakukan pengecekan di direktori Dewan Pers melalui https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers. Kendati demikian tidak semua media online yang tidak berbadan hukum merupakan situs abal-abal, ya.

3# Cek detail visual

Saat kalian mendapatkan sebuah informasi dari media maka cek detail visual gambar situs tersebut.  Saat ini ada banyak situs yang nama domain, tampilan, dan logonya dibuat menyerupai media mainstream. Contohnya saat kalian mendapatkan informasi dari website berjudul Tempo. Apakah benar domainnya tempo.co bukan tempo.xyz. Jika visualnya berbeda, maka harus diwaspadai semua informasi dari situs tersebut.

4# Waspada bila terlalu banyak iklan

Sering terganggung saat mencari berita dan menemukan banyak sekali iklan? Well kalian patut waspada dengan website yang terlalu banyak iklan, apalagi kalau iklannya ‘aneh-aneh’.

5# Bandingkan ciri-ciri pakem media mainstream

Terdapat karakteristik yang menjadi pakem khas jurnalistik pada media mainstream. Contohnya penulisan tanggal, nama penulis, sumber yang kredibel dan hyperlink tidak mengarah ke tempat lain yang tidak jelas.

6# Cek About Us

Sering kali kita menyepelekan halaman about us pada sebuah situs berita. Padahal halaman ini ‘wajib’ kita cek. Pada halaman ini biasanya terdapat informasin tentang situs tersebut, atau jika situs media mainstream berdasarkan UU Pers harus berbadan hukum, memiliki penanggung jawab, alamat yang jelas dan siapa saja orangnya. Selain itu juga mencantumkan pedoman pemberitaan media siber.

Jika nggak ada halaman about us-nya? Sepertinya kalian wajib waspada. Karena kita nggak tau siapa yang menulis berita tersebut.

7# Waspada dengan judul judul sensasional

Click bait banget sih. Pernah membaca informasi dengan judul sensasional tapi setelah dibaca isinya nggak nyambung? Well saat kalian menemukan sebuah informasi dengan judul sensaional sebaiknya harus waspada dan baca sampai akhir artikel ya.

8# Cek ke situs media mainstream

Tidak sedikit situs yang mengambil informasio dari media mainstream. Biasanya informasi ini disebar hanya berupa penggalan judul berita di media sosial seperti Instagram. Jika kalian menemukan berita ini, segera cek kebenarannya di situs aslinya. Dikhawatirkan ada konteks yang dihilangkan atau diganti.

9# Cek google reverse image search pada foto utama

Cara cek keaslian berita selanjutnya adalah dengan mengidentifikasi gambar yang terdapat pada berita. Caranya pun cukup mudah :

  • perhatikan gedung atau bangunan yang ada pada foto
  • plat nomor kendaraan
  • nama jalan
  • huruf-huruf yang muncul pada foto
  • bahasa yang ada pada foto

Jika kalian masih ragu, kalian bisa menggunakan addons di Google Chrome bernama reverse image search untuk verifikasi foto yang diambil dari internet.

10# Verifikasi Video

Selain foto, biasanya kita juga menerima informasi dalam bentuk video. Seperti pada gambar, kalian juga harus melakukan identifikasi dasar seperti bangunan sampai bahasa pada video. Jika masih ragu, maka kalian dapat memfragmentasi video menjadi sebuah gambar kemudian cek dengan tools InVID. Tools InVid ini berfungsi untuk memfragmentasi sebuah video sekaligus melakukan reverse image dari tautan media sosial dan file lokal. InVid juga dilengkapi dengan pemeriksaan metadata dan analisis forensik foto.

Dampak Mis/Disinformasi Kesehatan

Sadar nggak sih sekarang kita sering panik. Seperti saat awal pandemi, ada panic buying yang menyebabkan kelangkaan makanan dan melambungnya harga mahan makanan tertentu. Hal ini terjadi karena adanya misinformasi atau bahkan disinformasi yang tersebar.

Berdasarkan data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), jumlah hoaks kesehatan meningkat tajam semenjak pandemi. Jika pada tahun 2019 hanya 7% atau 86 hoaks dalam setahun menjadi 56% atau 519 hoaks dalam setengah tahun pada 2020). Jumlah hoaks terkait Cov-19 yang diklarifikasi oleh MAFINDO berjumlah 492 hoaks (94,8%) dari total hoaks kesehatan selama enam bulan pertama tahun 2020. Sedangkan Kementerian Kominfo mencatat 1.471 hoaks terkait Covid-19 tersebar di berbagai media hingga 11 Maret 2021.

Adapun dampak dari mis/disinformasi kesehatan ini antara lain :

  1. Menyebabkan kebingungan dan kepanikan di masyarakat
  2. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah, otoritas kesehatan dan ilmu pengatahuan (sains)
  3. Demotivasi untuk mengikuti perilaku protektif yang direkomendasikan
  4. Sikap apatis yang memiliki konsekuensi besar karena berkaitan dengan kualitas hidup masyarakat, seperti membahayakan kesehatan, bahkan sampai menimbulkan risiko kematian.

Kesimpulan

Berita hoaks adalah musuh kita bersama. Untuk itu kita harus berjuang menyebarkan berita benar dari sumber yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika kalian menemukan informasi terkait Cov-19 segera lakukan cara cek keaslian berita dengan 10 cara di atas. Jangan langsung menyebarkannya, apalagi ke grup keluarga yang berpotensi menyebabkan kegaduhan dan serangan panik.

Semoga artikel Asli atau Hoax? Cek Keaslian Berita dengan 10 Cara ini bermanfaat ya. Selalu terapkan 3M : mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak. Semoga selalu sehat.

PS
Peluk dari jauh

Lilpjourney Seorang travel blogger Indonesia yang suka jalan-jalan menyusuri keindahan alam berbalut adat dengan aroma secangkir kopi.

Tinggalkan Balasan

Hi! Terimakasih telah berkunjung. Silahkan isi nama dengan link blog (contoh lilpjourney.com) biar bisa blog walking. Jika ada pertanyaan dan diskusi silahkan tinggalkan komentar ya