JURNAL KOPI : TORAJA ART COFFEE, SPECIALTY TORAJA ARABICA SAPAN | LIL P JOURNEY

Toraja Art Coffee | Dok Pribadi

Lilpjourney.com | TORAJA - Toraja is alwasy good idea. Enam kali ke Toraja sepertinya nggak bikin gue bosan. Selalu ada cerita baru, coffee shop baru, orang baru dan petualangan baru. Kali ini, gue berhasil memenuhi bucket list coffee shop yang pengen gue kunjungi saat ke Toraja. Namanya Toraja Art Coffee. Coffee shop spesialisasi kopi Toraja Sapan. Percayalah, cerita coffee shop kali ini unik dan ternyata berkaitan dengan perjalanan Toraja gue sebelumnya.

SEMUA GARA-GARA KOPI

Kete Kesu Toraja | Dok Pribadi

Menurut Wikipedia, Toraja merupakan suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan. Diperkiraan saat ini terdapat 1 juta jiwa suku Toraja yang sebagian besar tinggal di Toraja Utara dan Tana Toraja. Dahulu, masyarakat Toraja menganut kepercayaan animisme yang dikenal dengan Aluk To'dolo. Kata Toraja sendiri berasal dari bahasa Bugis To' Riaja yang berarti orang yang tinggal di negeri atas.

Petualangan gue di Toraja bermula pada September 2017. Saat gue dan dia masih berada di zona aman. Sama-sama suka kopi dan jalan-jalan membuat kami nyambung hingga berjam-jam telpon di macetnya Kota Surabaya atau saat dia melakukan perjalanan Surabaya - Banyuwangi. Sampai akhirnya tiba-tiba kami bertemu di Makassar. Dia hendak ke Toraja, sedang gue ke Kendari. Dan akhirnya kami ngopi di coffee shop Toarco.

Lu kapan ke Toraja? Gue udah balik nih. 'Tar gue kirimin itinerary tempat wisata di Toraja ya. Lu cuma satu hari aja kan disana? Terus jangan lupa langsung beli tiket bis buat pulang malamnya," ujarnya saat telpon di whatsapp.
Baca Juga : 5 Coffee Shop di Toraja yang Wajib Kamu Kunjungi

Sayangnya, gue nggak mengindahkan saran dia untuk membeli tiket bis pulang. Hingga akhirnya, satu kata "Halo" dari Om Fyant Layuk membuat gue kembali ke Toraja untuk datang ke acara ma' nene'. Dan untuk pertama kalinya gue bener-bener jatuh cinta, pada Toraja. Kota yang menjadi salah satu icon pariwisata Indonesia karena kekayaan budaya dan kopinya.

Menurut beberapa artikel yang pernah gue baca. Kopi Toraja Sapan meruapakan salah satu kopi terbaik Indonesia. Tumbuh di dataran tinggi dengan ketinggian 1400-2100 masl yang beriklim tropis, membuat kopi Toraja Sapan mempunyai karakteristik rasa yang unik. Menurut gue pribadi, kopi Toraja Sapan ini memiliki body yang full, dengan tingkat keasaman yang rendah khas buah-buahan seperti apel hijau serta after taste dark chocolate.


Ya, sebenarnya kopi lah yang membuat gue berpetualang di Toraja. Tepatnya, 'dia' lah pengantar gue di Toraja. Membuat gue tertarik dengan Toraja karena cerita-cerita dia tentang pemakaman milyaran rupiah hingga mummy yang bisa berjalan. Dan karena Torajalah, dia pada akhirnya memilih untuk tidak menjadi apa-apa. Milih mencipta zona nyamannya bersama wanita yang saat ini sudah menjadi travelmatenya. Selamat!

Karena kopi gue dan dia berkenalan dan bertualang. Karena kopi gue dan om Fyant saling menyapa di dalam bis Toraja-Makassar dan menjadi cerita manis tersendiri dalam perjalanan gue di Toraja. Hingga akhirnya, karena kopi blog ini hidup dan mempunyai banyak cerita.

Baca Juga : Mengenal 'Queen of Coffee' Toraja Sapan
 
TORAJA, DESEMBER 2018

Harusnya saat itu gue kembali ke Toraja untuk datang ke acara Rambu Solo' Oma dari Om Fyant.Tapi karena banyak hal, akhirnya gue memutuskan untuk indie menikmati Toraja di rumah mama Sarjani dan menjelajah Kampung Ollon.

Padahal aku udah bawain coklat natal buat kamu om," ketik gue di kolom chat Line.
Sore itu, saat gue mengejar festival kopi yang menjadi rangkaian dari Lovely December di Ke'te Kesu', gue bertemu tiga mahasiswa dari Makassar. MerekaAsmita, Chaliq dan Umaryang mengambil program studi Desain Komunikasi Visual sedang mengerjakan tugas akhir: membuat film dokumenter. Chaliq mengambil tema Kopi Toraja Sapan untuk proyek filmnya. Dari Chaliq inilah gue tau coffee shop Toraja Art Coffee.

Tongkonan Kale Landorundun | Dok Pribadi

Perihal kopi Toraja Sapan, yang mendapat julukan Queen of Indonesia Coffee, pernah gue ulas pada artikel Jurnal Kopi : Mengenal 'Queen of Coffee' Kopi Toraja. 70% kopi Toraja Sapan grade 1 secara konsisten telah di ekspor ke Jepang. Ialah PT. Toarco Jaya yang secara legal memiliki izin untuk mengekspor kopi Toraja Sapan.

Dan luar biasanya benang merah Toraja ini membawa gue secara tidak sengaja menginap di tengah perkebunan kopi milik PT. Toarco Jaya yang sayangnya sudah tidak beroperasi. Ingat bukan di awal gue ada menyinggung tentang Toarco. Ya. Ini perusahaan yang sama.

Baca Juga : Landorundun, Sang Putri Rapunzel Toraja

BUKAN SEKEDAR COFFEE SHOP

Oktober, 2019

Sekecil apapun keputusan yang gue ambil, gue nggak pernah menyesali itu. Termasuk ketika gue nekad ke Toraja pada bulan Agustus 2019 kemarin untuk ke acara Peresmian Pasar Hutan Bambu To'kumila. Dan ketika kembali kerja, tiba-tiba gue dipindahkan ke bidang lain tanpa penjelasan. Hehehe. Kaget? Jelas. Tapi sebagai bawahan gue bisa apa selain mentaati perintah atasan bukan?

Tapi beruntungnya setelah gue pindah, gue punya jam kerja dan hidup yang lebih teratur. Bahkan gue bisa lebih mudah mengajukan cuti. Seperti saat Oktober gue tiba-tiba kebelet pengen ke Toraja. Sebenernya gue ke Toraja saat itu tanpa tujuan jelas. Mungkin hanya melarikan diri dari rutinitas, menjenguk mama Sarjani dan berkunjung ke coffee shop yang direkomendasikan Chaliq, Toraja Art Coffee.

Hallo om Fritz. Saya Putri dari Banjarmasin. Teman Chaliq mahasiswa Makassar yang kemarin membuat video tentang kopi Toraja Sapan jika om Fritz masih ingat. Saya sedang berada di Toraja dan berencana untuk berkunjung ke coffee shop Toraja Art Coffee. Apakah buka pada hari Minggu?" ketik gue di kolom chat whatsapp.
Minggu pukul 10 pagi, bersama si mas, gue sampai di Toraja Art Coffee. Walaupun awalnya kami sempat kebingungan karena om Fritz hanya memberi arahan : di Lembah Keramat dekat pertigaan arah Tikala dan di depannya ada patung salib.
Toraja Art Coffee | Dok Pribadi

Jika diperhatikan dari depan, Toraja Art Coffee ini lebih mirip rumah seniman ketimbang coffee shop. Di terasnya ada deretan lukisan yang digantung pada dinding coffee shopnya. Kursinya terbuat dari kayu, sedang mejanya ada yang terbuat dari marmer. Sangat artistik untuk 'coffee shop'. Oh iya, di sisi kanannya ada gazebo dan kolam ikan. Tanaman merambat dan pohon hias menghiasi pekarangan Toraja Art Coffee. I felt home. Betah banget berlama-lama disini. Apalagi tanpa kipas angin, Toraja berhawa dingin.
Toraja Art Coffee | Dok Pribadi

Kedatangan gue saat itu disambut oleh Kak April dan putri kecilnya yang baru berusia 40 hari. Kata Kak April, om Fritz sedang menjemput tamu dari kementerian UKM Provinsi Sulawesi Selatan. Setelah mendapat izin dari Kak April, gue masuk ke bar Toraja Art Coffee. Disana ada banyak sekali pilihan roast beans. Oh tentu saja, gue pengen cobain Toraja Pulu-pulu Wine. Salah satu kopi mahal karena menggunakan proses fermentasi atau biasa disebut 'wine proses'.

Baca Juga : Mengenal Proses Pengolahan Kopi Pasca Panen

Saat sedang menyelidiki koleksi buku, om Fritz datang bersama Pak Aziz. Kami pun langsung berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri. Jujur saja, saat melihat om Fritz pertama kali yang ada dikepala gue : mungkin beliau mempunyai gen Indonesia-Jepang. Berbeda dengan kebanyakan orang Toraja yang pernah gue temui, Om Fritz mempunyai mata sipitnya dengan tatapan yang tajam, perawakannya tinggi dengan kulit kuning langsat dan rambut panjang yang diikat seperti samurai Jepang, memberikan kesan khas diingatan gue.

Toraja Art Coffee | Dok Pribadi

Membicaran konsep coffee shop, sepertinya kesan art di Toraja Art Coffee ini tak jauh dari kecintaan Om Fritz terhadap seni. Selain sebagai coffee shop dan tempat memproses kopi, Toraja Art Coffee juga merupakan tempat berkumpulnya para seniman Toraja, entah untuk belajar ataupun untuk forum diskusi.

SEJAK 1999

Om Fritz ternyata bukan orang sembarangan di dunia kopi. Beliau sudah terjun di dunia kopi sejak 1999 dengan mengekspor kopi ke Jepang. Sedang Toraja Art Coffee sendiri mulai roasting kopi sejak 2009.

Dulu iya, saya menjual green beans dan kopi gabah. Tapi sekarang, Toraja Art Coffee yang tidak hanya coffee shop tapi juga micro roastery, hanya menyediakan yang sudah di roasting. Dimana dari pemetikan sampai roasting kami lakukan sendiri," tutur Om Fritz.
Berbagai macam green beans Toraja Art Coffee | Dok pribadi

Tidak heran jika di Toraja Art Coffee ini menyediakan kopi dengan berbagai macam proses. Bahkan Om Fritz dengan antusias mengeluarkan koleksi green beansnya. Ada Toraja Sapan dengan Honey dan Full Wash proses, serta ada juga Toraja Pulu-pulu, jenis kopi Toraja yang saat ini sedang naik daun karena punya taste yang unik, dengan proses Natural dan Wine.

Green beans kopi diletakkan om Fritz dalam sebuah wadah atau mangkuk yang terbuat dari gerabah dengan ditopang tulang kerbau setinggi kurang lebih 50 cm serta pada bagian kakinya juga terbuat dari gerabah. Semerbak harum green beans membuat gue sejenak terhipnotis. Apalagi saat mencium aroma green beans dengan proses wine. Wow! Harum banget.
Bersama Om Fritz (baju kuning) dan Pak Aziz di Toraja Art Coffee | Dok Pribadi
Berbicara tentang mangkuk yang digunakan sebagai wadah green beans, Om Fritz pun menuturkan bahwa wadah 'mangkuk' ini bukan sembarang mangkuk. Karena dulu, mangkuk ini hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan Toraja. Biasanya mangkuk ini digunakan untuk tempat makan saat acara-acara adat. Jadi, apakah beliau juga dari keluarga bangsawan Toraja? Simak ceritanya sampai akhir ya.

Berbicara tentang kopi Toraja Sapan, saat ini sebenarnya sangat sulit untuk mendapatkan kopi Toraja Sapan yang asli. Saya yang orang Toraja saja kalau tidak jeli bisa mendapatkan grade 2 atau malah bukan Toraja Sapan. Sampai akhirnya saya memilih selain memetik kopi dari perkebunan kopi milik keluarga saya, saya juga memetik dari perkebunan kopi milik petani kopi di Sapan langsung," tutur om Fritz.
Salah satu temen gue yang berprofesi sebagai barista pernah menuturkan bahwa petani kopilah yang  paling tau karakter sebuah kopi, sedang barista hanya eksekutor terakhir. Hampir 20 tahun berkecimpung di dunia kopi, tak heran om Fritz mempunyai indra kopi yang tajam khususnya Toraja Sapan. Hebatnya, beliau tidak hanya sebagai eksekutor akhir, tapi dari pembibitan, penanaman, pengontrolan kualitas di perkebunan kopi bahkan beliau lakukan sendiri. Tidak hanya itu, beliaupun tidak segan untuk berbagi ilmu tentang kopi ke petani kopi. Contohnya saat pemetikan cherry kopi, agar menghasilkan green beans yang berkualitas, hanya cherry yang benar-benar berwarna merah sempurnalah yang boleh di petik. Untuk yang berwana hijau atau kuning jangan dipetik. Tujuannya selain untuk mendapatkan green beans yang berkualitas, tapi juga untuk mengangkat nilai jual si kopi.
 
Toraja Art Coffee | Dok Pribadi


Jadi dengan latar belakang pengetahun tentang kopi yang begitu luas, nggak salah kalau gue memberi label beliau sebagai 'petani kopi paling keren' kan? Oh iya, Kak April, istri om Fritz juga bukan perempuan sembarangan loh. Kak April selain mahir memainkan perannya di dapur, dia juga mahir dalam roasting dan brewing kopi. Pasangan yang luar biasa keren kan?!

Saat gue menyinggung tentang Toraja Kalosi pun Om Fritz mengatakan bahwa untuk saat ini alangkah baiknya jika ingin mendapatkan kopi Toraja yang berkualitas bisa datang ke pasar kopi di Toraja. Itupun harus hati-hati agar benar-benar mendapatkan kopi Toraja Sapan yang asli. Sedang Kalosi sendiri merupakan pasar kopi di Enrekang, bukan Toraja.

Jadi dulu sebelum akses jalan mudah seperti sekarang, para petani kopi dari Sesean menjual kopinya di pasar Kalosi, karena akses jalan ke Kalosi lebih mudah di lalui dari pada ke pasar kopi di Toraja. Jadi kalau dulu Kopi Toraja Kalosi memang berasal dari Toraja, untuk saat ini sepertinya pembeli harus lebih jeli," cerita om Fritz.

BENANG MERAH 

Seperti yang gue ceritakan di awal, benang merah cerita gue di Toraja ini nyata adanya. Dan secara kebetulan orang-orang yang gue kenal di Torajapun saling mengenal satu sama lain. Bermula dari pertanyaan Om Fritz dimana gue biasa menginap saat di Toraja dan gue menyebut di Tongkonan Kale Landorundun milik mama Sarjani La'lang.

Sebentar, bagaimana bisa kamu kenal dengan tante Sarjani? Beliau itu keluarga saya. Yang kemarin meninggal di Landorundun itu, nenek saya," tutur Om Fritz.
Rest in peace oma
Dan sebenernya gue merasa "wow" saat itu. Nggak menyangka bahwa Om Fritz dan Mama Sarjani berkeluarga. Foto di atas adalah Almh. Ne' Le'bok, mama dari mama Sarjani yang pada bulan bulan September telah berpulang.

Satu fakta tentang Toraja lainnya yang baru saja gue tau saat om Fyant mengirim foto 'seseorang' yang duduk di kursi dan dibelakangnya ada banyak kain tenun yang di gantung pada dinding tongkonan. Awalnya gue nggak ngeh, gue kira foto 'kain tenun', setelahnya om Fyant baru menjelaskan, bahwa ada tradisi di Toraja jika seorang meninggal dan jenazahnya didudukan di kursi, maka upacara adatnya akan menjadi salah satu upacara adat besar. Bisa dikatakan beliau dari keluarga bangsawan.

Jadi sudah bisa menarik kesimpulan bukan?

Kemarin aku ke tempat om Fritz untuk foto acara anaknya. Aku tau tongkonan tempat kamu biasa nginap. Yang punya tongkonan keluarga Om Fritz kan,” tutur om Fyant saat kami sedang video call.
Sampai akhirnya, semua orang dalam ceritaku saling kenal. Lucu ya?

By the way, kemarin mama Sarjani memberi kabar. Oktober 2020 rencananya Oma akan di Rambu Solo'.


Jadi, Toraja Art Coffee bukan hanya rumah untuk om Fritz menuangkan idealismenya tentang kopi. Tapi juga tempat gue menemukan kepingan cerita manis tentang Toraja. Terimakasih banyak untuk Om Fritz dan Kak April yang sudah bersedia menceritakan banyak hal tentang kopi Toraja. Semoga putri kecil kalian akan menjadi Q Grade kopi handal. Hehehe.


PS
Peluk dari jauh

37 comments:

  1. Kopi toraja emang mantap ya. Nama om fritz kebetulan sekali sama dengan nama guru barista anakku

    ReplyDelete
  2. Review yang kerennnn. Jadi makin bersemangat untuk ngopi di tempatnya Bung Fritz.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus kak Sili! hehehe
      Coffee shop yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan Toraja

      Delete
  3. Kopi Toraja memang seduhannya enak banget. Warung kopinya juga terlihat sangat homey. Cocok buat ngopi bareng temen neh.

    ReplyDelete
  4. Wahh seru banget cerita kopi kali ini mbak. Ternyata ada benang merah yang menghubungkan berbagai kejadian. Kayak butterfly efek?

    ReplyDelete
  5. Kopi Toraja memang nikmat, jadi pengen ngopi di warung kopi nya om Fritz

    ReplyDelete
  6. Seru ya kak ketika tau orang-orang yang dikenal ternyata saling kenal juga haha.
    Dan berkaitan juga sama si kopi Toraja,
    Jadi ingat kmrn suami pulang dari Makassar juga bawain ya kopi Toraja.

    ReplyDelete
  7. rasanya gimana put? sdh beberapa hari aku stop minum kopi mix, sekarang ganti kopi item hihi. lambungku so far kok feel better ya. ok, kali aja ada menu kopi toraja di banjarmasin, pengen nyoba.

    ReplyDelete
  8. Saya suka gaya bercerita di artikel ini. Sentimentil. Saya jadi pengin wisata kopi ke Toraja. Saya ke Toraja 20 tahun yang lalu. Waktu itu belum model kafe seperti sekarang. Sekarang pasti keren banget, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak coffee shop keren kak. dan salah satunya Toraja Art Coffee.
      semoga bisa berkunjung yaa kak ^^

      Delete
  9. Dunia memang sempit yaa. Ternyata mas pemilik kedai kopinya masih berkeluarga sama pemilik rumah tempat Putri menginap di Toraja

    ReplyDelete
  10. Aku jadi kangen toraja 😭😭 emang di sana tuh terkenal banget ama kopinya. Semoga bisa ke sana lagi 😆

    ReplyDelete
  11. Put, kamu nggak patah hati sama dia, kan? :|

    Kecintaanmu akan kopi membuat setiap tulisanmu hidup dan kaya ilmu, Put. Soal Toraja Sapan, pas nginep di Hotel Des Indes Menteng kopinya varian itu, buatan Tanamera. Entah apakah rasanya otentik sesuai aslinya atau enggak. Salut sama Om Fritz yang berhasil mengekspor kopi sampai ke Jepang! Istrinya serasi sekali dengannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau patah hati enggak sih kak...lebih ke kecewa

      kalau cinta, katanya harus konsisten... wkwkwkwk. Tanamera salah satu yg rekomended kopinya kak. couple goals bgt kan om fritz dan kak april. hohoho

      Delete
  12. Tempatnya unik banget sih ini coffee shopnya. Btw, baca Toraja disini kepengen liat alamnya Toraja langsung deh. Hehe

    ReplyDelete
  13. Toraja memang ga ada habisnya untuk dikupas dari berbagai sisi. Dan saya semakin ingin ke sana setiap baca tulisanmu, kak :)

    ReplyDelete
  14. Aku penikmat kopi hitam tanpa gula..kopi Toraja salah satunya duh nikmat banget apalagi toraja kalosi aku sukak

    ReplyDelete
  15. Ahhhh nabung buat taun depan ke toraja put hahaha pengen liat manene sama nyobain kopi nya toraja

    ReplyDelete
  16. Menyenangkan sekali bisa menelusuri cerita tentang kopi di toraja. Saya jadi ingat pernah dpt oleh2 kopi toraja kalosi. Dan trnyata kopi kalosi skrg beda sm kopi kalosi duu ya. Btw saking seringnya bolak balik toraja jadi kyk punya keluarga disana ya. Nice story kak putri

    ReplyDelete
  17. Wait for me hehehe planing mau ke toraja nya ambyar tahun ini

    ReplyDelete
  18. Suka amaze memanh ya kl kepingan demi kepingan perjalanan akhirnya ada benang merahnya, berasa punya keluarga baru. Bayangin menyesap kopi di rumah kopi Om Fritz yg artistik, hmm

    ReplyDelete
  19. Waaah Mbak sampai ke Toraja enam kali. Mbak Putri ini benar-benar pecinta kopi sejati ya. Semua tulisannya hampir banyak tentang kopi. Saluut ..

    ReplyDelete
  20. Aku sebenarnya bukan seorang pecinta kopi. Tapi aku suka banget cium wangi kopi. Kadang selalu kagum sama orang-orang yang benar2 passion ke kopi apalagi buat kopi lokal seperti kopi toraja ini. Info yang menarik sekali. Jadi lebih tahu tentang kopi negara sendiri.

    ReplyDelete
  21. Kopi Toraja siapa sih yang enggak kenal. Beruntung Putri bisa mencicipinya langsung, bahkan menyaksikan pemrosesan secara khas. Aku pun penimat kopi tapi belum pernah mencicipi kopi Toraja asli, baru kemasan pabrikan. Apa karena mangkuk yang spesial ya jadi flavornya beda? Hehe. Mendadak pengin jadi petani kopi nih :)

    ReplyDelete
  22. Wah sampai enam kali ya ke Toraja. Keren. Saya malah belum sekalipun. Masih dalam wish list semoga tahun depan bisa ke Toraja.

    ReplyDelete
  23. Tanpa ada rencana, pekerjaan pun membawa saya ke Toraja Desember lalu, setelah terakhir ke sana itu 3 tahun lalu.

    Seru ya, kopi bisa jadi pemersatu ternyata. Sepertinya saya akan coba mampir ke tempat ini kalau diizinkan menginjakkan kaki kembali di Toraja :)

    ReplyDelete
  24. Torajaaa...
    Saya pingin banget kesana
    Sebulan kayanya kurang ya? :D

    ReplyDelete
  25. Kopi Toraja yang sudah nikmat jadi semakin nikmat bila dinikmati seperti itu. Bahkan saya pun jadi pengen ikut ngopi saat membaca cerita ini. Ngebayangin saya sedang menikmati kopi dna mendegarkan cerita tentang Toraja, Kopi, dan adat istiadatnya

    ReplyDelete
  26. Peluk aku,kak. Biar aku juga bisa sampai Toraja. Postingan ini bikin iri sekaligus terpacu. Ingin bisa juga merasakan apa yang Kaka rasakan

    ReplyDelete
  27. Saluutt kaka...cerita mengenai Toraja masih panjaang~
    Dan ini yang sering terlupa oleh anak muda zaman sekarang.
    Keindahan dan keluhuran budaya Indonesia yang beragam.

    ReplyDelete
  28. Keren sudah bisa ke Toraja
    Saya saja yang berasal dari Sulawesi Selatan malah belum pernah

    Hehe...

    ReplyDelete
  29. kemaren temenku bawain kopi toraja tapi ga ta cobain kok malah jadi penasaran karena blogpost ini ya

    ReplyDelete
  30. Suamiku pecinta kopi..
    Salah satu favoritnya adalah kopi toraja,,
    Dia pasti senang klo bisa datang langsung ke toraja ya..
    Harus nabung banyak ni 😎

    ReplyDelete
  31. Kopi Toraja memang paling juara !! Kisah ke Toraja ini juga penuh dengan cerita mistis yang menarik ya. Walau mistis tapi ga serem

    ReplyDelete
  32. Keren banget. Nyaris lengkap soal kopi. Two thumbs buat mbak Putri

    ReplyDelete
  33. duh pengen coba kopinya, pasti lezat :D

    ReplyDelete
  34. Wuih udah enam kali. Aku sekalipun belum kesampaian, masih jadi dream destination. Berharap suatu hari kelak kesampaian menyinggahi tempat2 unik disana sekaligus menyesap kopinya yang terkenal dengan ciri khasnya :)

    ReplyDelete

Hello! Terimakasih sudah mampir! Jika ada pertanyaan silahkan tinggalkan komentar

Pages