Thursday, October 24, 2019

NYAMAN JALAN-JALAN, DENGAN SISTEM TRANSPORTASI CERDAS

Bepergian itu membuat ketagihan | Dok Pribadi

KEMENHUB - Tinggal di selatan Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Tulungagung bersama kakek dan nenek yang berprofesi sebagai petani, membuat gue tumbuh sebagai petualang. Kendala ekonomi tidak membuat gue patah semangat mengejar cita-cita untuk bersekolah di SMP favorit. Tidak mempunyai kendaraan bermotor mengharuskan gue terbiasa menggunakan angkutan umum. Jarak dari rumah ke SMP lumayan jauh, 7 km. Awalnya sih gue nggak masalah menggunakan sepeda untuk pergi dan pulang sekolah. Tapi saat puasa pertama di kelas VII, akhirnya gue menyerah dan memilih belajar menggunakan akutan umum 'pedesaan'. Sayangnya, angkutan umum 'pedesaan' yang berwarna ungu itu hanya melayani rute sampai terminal kota. Sedangkan jarak dari terminal ke sekolah masih 3 km. Solusinya, menyambung perjalanan dengan sepeda atau menggunakan angkutan umum kota. Saat itu jadwal angkutan kota tiba tidak menentu, biar nggak telat ke sekolah, akhirnya gue memilih menggunakan sepeda yang gue titip di rumah saudara dideket terminal kota. Ya begitulah drama sekolah gue selama tiga tahun, 2006-2009. Duduk berhimpitan, sumpek dan aroma khas kendaraan umum sudah menjadi sahabat sehari-hari.

Menggunakan angkutan umum menjadikan gue lebih 'manusia'. Dimana banyak sisi kehidupan yang bisa gue lihat.
KE PASAR MENGGUNAKAN 'PEDESAAN' HINGGA BERLIBUR KE SURABAYA MENGGUNAKAN KERETA

Biasanya saat hari Minggu gue suka nguntilin salah satu tante gue yang jualan baju pergi ke pasar. Alasanannya sih selain mendapat 'uang sangu' tapi gue seneng aja bisa jalan-jalan ke kota. Biasanya jam 8 pagi 'pedesaan' yang rutenya melewati pasar kota sudah lewat. Jika di hari-hari biasa 'pedesaan' banyak ditumpangi oleh para pelajar, hari Minggu yang merupakan hari pasar, kebanyakan dari penumpangnya adalah para pedagang yang akan menstok ulang barang jualannya.

Saat libur semester tiba, sesekali nenek mengajak berlibur ke Surabaya mengunjungi salah satu adik beliau yang bekerja sebagai guru di Surabaya. Jam 7 pagi kami sudah menunggu 'pedesaan' dengan rute ke stasiun kota lewat. Kalau angkutannya penuh, terpaksa kami harus menunggu angkutan selanjutnya. Stasiun kota selalu ramai di musim libur sekolah. Setelah membeli karcis kereta seharga 5000 rupiah, kami pun menaiki kereta kelas ekonomi menuju Surabaya. Satu jam berlalu dan nenek paham betul cucu kesayangannya ini mulai lapar dan beliau sudah siap dengan bekal makanan. Pedagang asongan silih berganti naik saat singgah dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Sedikit panas memang menaiki kereta kelas ekonomi, apalagi saat itu fasilitas kereta belum seperti sekarang.


AKHIRNYA, HARUS PINDAH UNTUK MELANJUTKAN SEKOLAH
 
Tahun 2009, tepatnya setelah lulus SMP, karena terkendala biaya yang bisa dikatakan 'mahal', daripada harus memaksa kakek bekerja lebih keras, gue memutuskan untuk pindah ke Tanah Laut, salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan, menyusul mama. Kata mama, disana sekolah gratis. Berat memang harus meninggalkan kampung halaman beserta kakek dan nenek yang sudah merawat gue dari kecil. Tapi inilah hidup. Ada yang harus dipilih. Dan itulah pertama kali gue naik pesawat. Bayangkan saja, seorang anak remaja 15 tahun dengan tentengan dua buah ransel dan dua buah kardus, naik pesawat pertama kali dan sendirian. Grogi sih. Untungnya petugas bandara mahfum dan membantu gue yang memang terlihat bingung.
Pasar Terapung Lokba Intan | Dok Pribadi

Kalau di Jawa untuk berpindah dari satu kota ke kota lain cukup menggunakan kereta atau bus yang sangat mudah di jumpai, berbeda dengan Kalimantan. Disini tidak ada kereta. Transportasi umum tidak sefamiliar di Jawa. Pilihannya : menggunakan kendaraan pribadi. Jadi jangan heran kalau anak-anak di bawah 17 tahun disini sudah mahir berkendara. Uniknya masyarakat di sini, khususnya yang tinggal di daerah sungai masih menggunakan perahu kecil bernama jukung untuk transportasinya. Bahkan pasar terapung Lokba Intan masih beroperasional hingga saat ini. Selain menjadi tempat pariwisata, dalam kehidupan sehari-hari pasar ini memang tempat bertemu penjual dan pembeli.

Setelah tamat SMK, gue hijrah ke Banjarmasin untuk melanjutkan pendidikan kesalah satu perguruan tinggi swasta sambil bekerja. Dunia kerja membuat gue merasakan senangnya bisa mendapatkan uang dengan jerih payah sendiri. Hingga akhirnya gue yang besar dengan mental petualang (pas masih SD suka banget ilang dari rumah buat main layang-layang di sawah, nangkap ikan di kali dan naik gunung sampai kena omel sama nenek hehehe) mulai menekuni hobby gue, traveling.

HOBBY HILANG DAN BELAJAR DARI PERJALANAN
Wajah Indonesia | Dok Pribadi

Bepergian dari satu kota ke kota lain membuat gue sadar, bahwa kendala utama seorang traveler untuk menjelajah negeri ini adalah 'transportasi'. Hampir semua jenis transportasi umum pernah gue jajal, mulai dari angkot, bis (bis kecil, bis bagong, bis VIP), kapal laut, kereta dan tentu saja pesawat. Sayangnya, tidak semua kota memiliki transportasi umum yang memadai. Tidak semua tempat wisata dapat diakses dengan angkutan umum. Kadang gue kesulitan mencari informasi transportasi umum apa saja yang ada di kota A atau kota B. Hingga akhirnya lebih memilih menyewa sepeda motor. Padahal duduk bersama penumpang lain, bertemu orang baru dan melihat banyak sisi kehidupan dalam gerbong-gerbong kereta itu lebih menyenangkan.

Tahun 2017, pertama kali gue ke luar negeri, tepatnya ke Singapore. Sistem transportasi disana tertata rapi. Turis yang datang dapat dengan mudah mendapatkan informasi bagaimana cara menuju tempat A. Wajar memang, karena Singapore tak seluas negara kita. Tapi, bagaimana kalau mencoba menerapkan 'kenyamanan' transportasi disana? Realistis saja, tidak usah muluk-muluk menginginkan transportasi sejenis Mass Rapid Transit (MRT) yang menghubungkan satu kota ke kota lain, bukannya tidak mungkin, hanya saja mengingat kondisi geografis di Indonesia dan negara kita juga merupan negara kepulauan dan struktur tanah yang beragam seperti daerah pegunungan atau tanah gambut, agaknya impian seperti itu susah terwujud. Bukan tidak mungkin, tapi harus realistis. Solusinya? Mencari dan menciptakan transportasi yang sesuai.

BERINOVASI UNTUK INDONESIA UNGGUL 

Membuat transportasi aman dan nyaman tidak hanya sebatas mengupgrade moda transportasinya, tapi juga bisa berupa memperbaiki fasilitas yang ada. Karena belum tentu satu moda trasportasi yang cocok di kota A akan cocok di kota B. Kereta yang cocok sebagai transportasi penghubung antar kota di Pulau Jawa, belum tentu cocok di Kalimantan yang mempunyai tanah gambut.

Memperbaiki fasilitas transportasi tentunya akan menimbulkan keamanan dan kenyamanan bagi penggunanya. Contohnya fasilitas kereta api di upgrade agar pengguna lebih nyaman. Kalau dulu dalam satu gerbong kereta banyak sekali pengguna kereta yang saling berdesakan dan berebut tempat duduk dan sekarang untuk kereta api kelas ekonomi sudah lebih tertata tempat duduknya. Karena dulu di tiket kereta tidak ada nomor tempat duduknya, sedang sekarang saat kita membeli tiket kereta kita bisa mengetahui apakah tempat duduknya tersedia atau tidak. Kalau tidak ada tempat duduk ya berarti tiket sudah full. Tidak ada lagi gerbong yang berjejelan hingga sulit untuk berjalan. Akhirnya yang dulu rawan copet, sekarang lebih aman karena tidak saling berdesakan.

Bagaimana dengan bus dan angkot? Angkutan umum bus dan angkot yang sudah tidak layak pakai bisa di rumahkan dan di ganti dengan unit baru. Kemarin gue baca sebuah berita tentang angkot di kota Bandung yang menyediakan TV, buku dan kursi yang sangat nyaman. Tentu ini trobosan yang bagus untuk menarik minat penumpang agar beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Saat tiba-tiba diizinkan masuk ke dalam ruang operasional kapal (Ketang-Gilimanuk) | Dok Pribadi


Untuk kalian semua yang ingin mendapatkan informasi seputar transportasi yang ada di Indonesia sekaligus pembangunan apa saja yang saat ini dilaksanakan, kalian bisa mengunjungi website Kementrian Perhubungan berikut ini :


Sebagai seorang traveler, gue sangat berterimakasih kepada pemerintah khususnya Kementrian Perhubungan yang terus bekerja membenahi transportsi di Indonesia, sehingga menciptakan kenyaman dan keamanan dalam menggunakan transportasi umum. Dan harapan gue kedepannya semoga dengan adanya sistem trasnportasi yang lebih tertata di negara kita tercinta ini dapat memajukan sektor pendidikan, pariwisata dan mewujudkan Indonesia sebagai negara yang maju dan siap bersaing dengan industri 4.0 saat ini.



Tulisan ini diikut sertakan dalam 
Blogger Writing Competition 2019 dengan mengambil Tema Transportasi Unggul Indonesia Maju yang dilaksanakan oleh Kementrian Perhubungan Republik Indonesia.
Share:

8 comments:

  1. thanks to KemenHub karena udah bikin infrastruktur yg makin keceee dan bikin perjalanan kita semua kian gampil dan menyenangkan
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  2. Buat anak rantau kaya saya, baca tulisan kk terasa bgt. Perjalanan hidupnya,luar biasa. Saya juga merasakan benar pentingnya transportasi apalagi hidup di kota orang yang pastinya ingin kita jelajahi setiap lekuk kotanya.

    ReplyDelete
  3. Kalimantannn.....duh, pingin banget naik transportasi air

    semoga bisa terlaksana ya?

    ReplyDelete
  4. Sekaranan transportasi umum makin nyaman dan aman..

    Tak perlu khawatir jika harus bepeegian dgn transportasi umum

    ReplyDelete
  5. Dengan transportasi yang semakin banyak pilihan plus fasilitas tambah bikin nyaman, jadi tak perlu kuatir menjelajahi Indonesia ya. Yuk kapan fam trip bareng? :)

    ReplyDelete
  6. Pengalaman seru. Aku belasan tahun di ujung barat Sumatra. Tapi pertama kali ngerasain nyeberang sungai pakai rakit (getek) justru waktu udah kerja di Jakarta :D

    ReplyDelete
  7. Aduh benetan deh kak.. transportasi umum sekarang bener2 memudahkan kita para traveler ya.. transportasi darat, laut, udara.. semoga semakin nyaman, aman, dan terjangkau

    ReplyDelete
  8. Wah, boleh masuk ke ruang itu. Enaknya....

    ReplyDelete

Hello! Terimakasih sudah mampir. Sertakan alamat blog ya...biar kita bisa ngopi bareng #eeh