Wednesday, July 10, 2019

JURNAL KOPI : JAK KOFFIE, SEMUA CERITA TORAJA BERMULA DISINI | LIL P JOURNEY

Jak Koffie | Dokumen Pribadi

LilPJourney.com | Banjarmasin - Kopi adalah bahasa universal. Dan setiap cangkir kopi selalu punya ceritanya sendiri. Setiap kedai selalu punya kesannya sendiri. Seperti Jak Koffie yang berhasil membuka banyak cerita tentang Toraja.



Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa (Sujiwo Tedjo) - tutur dinding Jak Koffie yang bisa berbicara.
DARI MAKASSAR YANG TAK DISENGAJA
Happy life om | Dok Pribadi

September 2017, Makassar menjadi saksi bahwa manusia yang tak pernah berencana bisa bertemu di suatu tempat. Saat itu tanpa sengaja gw dan om Jay sama-sama ke Makassar. Dia yang dari Surabaya dan gw yang dari Banjarmasin, dalam konspirasi alam bertemu di salah satu coffee shop. Gw berencana ke Labengki terlebih dahulu sebelum ke Toraja, sedang om Jay cuma ke Toraja.

Lu udah balik dari Labengki? Gw kasih tau yaaa tempat mana aja yang harus lu datengin pas di Toraja nanti. Dan jangan kelewatan buat ke Jak Koffie, karena lu pasti suka - tutur om Jay di telpon saat dia sudah kembali ke Surabaya.
12 JAM DI TORAJA
Saat pertama ke Jak Koffie | Dok Pribadi
Kunjungan pertama ke Toraja hanya berlangsung 12 jam. Padahal bisa dibilang fisik kala itu sudah lelah karena Trip Sombori-Labengki ditambah posisi tidur pada kursi sisa di bis yang kurang enak. Tapi yang namanya doyan touring, ngeliat motor dan jalan mulus diri ini nggak bisa diam menuruti rasa lelah.

Puas menjelajah tempat wisata iconic Toraja seperti Ke'te Kesu' dan Lo'ko Mata, sambil menunggu bis berangkat menuju Makassar (jam 7 pagi sampai Toraja, jam 8 malam balik Makassar), gw inget ada satu yang belum gw datengin. JAK KOFFIE. Terletak di tengah Kota Rantepao dekat dengan perwakilan bus Bintang Prima dan pasar oleh-oleh, coffee shop ini mampu mengantarkan rasa nyaman ke setiap pengunjungnya.

Saat pertama kali datang ke Jak Koffie yang ada dipikiran gw : mungil yaaa, pantes gw muter-muter nggak nemu. Waktu itu gw terdoktrin bahwa Toraja adalah RUMAH KOPI. Jadi wajar kalau gw berekspektasi akan menemukan banyak coffee shop besar disin. Dan... ini tak seperti imajinasiku.

BACA JUGA : 5 COFFEE SHOP TORAJA YANG HARUS KALIAN KUNJUNGI 

Jak Koffie | Dok Toraja
Pelan gw membuka pintu bercat merah Jak Koffie dan sosok lelaki berbaju flanel coklat dengan potongan rambut undercut yang diikat menyapa gw. Hello! Selamat datang di Jak Koffie. Sapa lelaki yang setelah berkenalan 'biasanya di panggil Jak atau Micha', barista sekaligus owner Jak Koffie.

Sambil menunggu seduhan kopi tubruk Sapan, gw menelusuri setiap jengkal Jak Koffie. Merekamnya dalam ingatan, takut kalau nggak akan kembali kesini lagi. Dinding sebelah kiri bercat putih dengan susunan cangkir, coretan tangan dari pengunjungnya yang meninggalkan jejak dan beberapa bingkai foto. Sedang dinding sebelah kanannya dibiarkan unfinished, masih batu bata merah dan dihiasi dengan bingkai-bingkai foto.

Secara keseluruhan, design Jak Koffie mempunyai konsep vintage dengan 80% furniturenya merupakan recycle concept dan menonjolkan kesan Toraja tempo dulu lewat bingkai-bingkai foto Toraja dimasa lampau. Seluruh kursinya menggunakan kayu dengan cat alami. Walaupun nggak empuk, tapi nyaman untuk ngopi sambil baca beberapa buku koleksi Jak Koffie.
Jak Koffie adalah rumah pertama gw di Toraja. Ada kepingan hati yang terselip disini.

OBROLAN TENTANG KOPI  

Jak Koffie, September 2017 | Dok Pribadi
Jak Koffie didirikan pada 18 Oktober 2014 oleh Kek Micha dan Leo. Dua sahabat yang sudah menghabiskan waktu berjam-jam diberbagai coffee shop untuk menikmati seduhan kopi terbaik. Pantas setiap seduhan kopi Jak Koffie selalu terasa spesial. Karena jam terbang seseorang di dunia kopi tak akan memungkiri kenikmatan dari seduhan kopinya.

Kak Micha akhirnya menjadi salah satu sosok teman terbaik di Toraja. Dari 5 kali datang ke Toraja, 3 kalinya selalu ke Jak Koffie sebelum berangkat menjelajah Toraja. Terlepas dari rasa seduhan kopinya, sosok Kak Micha yang humble menjadikan Jak Koffie lebih spesial. Apalagi kalau sudah membahas tentang dunia kopi, sosoknya seakan lebih hidup dengan semangat ABG tapi isi kepalanya luar biasa.

Disini, selain kalian bisa menikmati secangkir kopi, kalian juga bisa membeli kopi Toraja dengan kualitas premium entah green bean, roasted bean, atau ground coffee dan kalau kalian tertaik mempelajari tentang kopi, kalian bisa mengambil kelas kopi disini. Cukup kirim e-mail ke jakkoffie@gmail.com untuk mengatur jadwal dan jenis kelas kopi apa yang kalian inginkan.

JAK KOFFIE DAN DRAMA BIS HINGGA MA' NENE'

Bis Toraja - Makassar | Dok Pribadi

Berat rasanya ketika harus mengakhiri obrolan dengan Kak Micha saat kunjungan pertama ke Jak Koffie malam itu. Jak Koffie yang nyaman dan barista yang menawan? Haha. Dalam hati saat itu terapal do'a : jika umur ada, semoga kaki ini tertuntun kembali ke Toraja.

Sorry, baru ke Jak Koffie ya? Gimana rasanya? - sapa lelaki tak dikenal dalam bis.
Saat itu gw lagi asik ngobrol sama cece sebelum bis berangkat menuju Makassar. Dan tiba-tiba penumpang bis di depan kami menyapa. Setelah berbincang tentang Jak Koffie ternyata dia merupakan staff Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara. Setelahnya, gw pindah duduk di depan dan ternyata sapaanya menuntun gw ke Toraja pada Agustus 2018 di acara Ma'nene'. Penasaran dengan ceritanya? Baca : Ma'nene' pengantar rindu Toraja pada leluhur.

SELAMAT PAGI TORAJA


"Aku inget, none Banjarmasin!", sapa kak Micha saat gw membuka pintu Jak Koffie dengan masker di hari pertama gw sampai di Toraja pada bulan Desember 2018. Sayup-sayup terdengar lagu Indonesia Raya folk mengisi Jak Koffie. Gw mulai menyusuri coffee shop ini dengan semua ingatan yang tersisa saat pertama kali kesini. Ada beberapa yang di reposisi. Tapi atmosfer disini selalu sama : homie.

Hi Kak Micha! | Dok pribadi
Tak ada alasan untuk melewatkan kunjungan ke Jak Koffie saat ke Toraja. Kecuali Jak Koffie tutup. Seperti bulan Agustus 2018 saat gw kesini untuk acara ma' nene'. Atau seperti Juni 2019 saat gw ke Toraja tapi tinggal di Makale.

Lain kali harus buka ya kak kalau aku ke Toraja, atau akuisisi - tulis gw di kolom chat whatsapp.
Dan untuk kalian pecinta kopi kualitas premium, tak ada salahnya menambahkan Jak Koffie sebagai salah satu wishlist coffee shop yang harus kalian kunjungi. Sampai Jumpa di lain waktu kak Micha!
Jak Koffie mungkin tempat singgah terakhir saat ke Toraja September 2017 lalu. Tapi sebenarnya Jak Koffie adalah pengantar semua cerita petualangan di Toraja, sampai 5 kali balik. Kalau waktu itu tak singgah, apakah cerita tentang Toraja yang menakjubkan mampu hadir di blog ini? Apakah aku dan kamu yang pernah menjadi 'kita' masih bertemu? Pada akhirnya ngopi di Jak Koffie merupakan ritual wajib ketika ke Toraja.

JAK KOFFIE
Instagram : @jakkoffie
Jam buka : 08.00 - 17.00
Seduh kopi premium. 

 
Share:

2 comments:

  1. Wah, ceritanya deep sekali~ sebuah tempat bisa punya makna sedalam ini hehe, semoga Jak Koffie laris manis ya dan tetap buka sampai 100 tahun lagi. Nanti kalau ke Toraja, akan coba mampir :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh My! Terimakasih kunjungannya kak Creameno!
      Iya, aku juga gk nyangka kalau Jak Koffie bisa sampai punya cerita yang bikin aku jatuh cinta sama Toraja.

      Delete

Hello! Terimakasih sudah mampir. Sertakan alamat blog ya...biar kita bisa ngopi bareng #eeh