Tuesday, May 21, 2019

TORAJA ADVENTURE : KAMPUNG OLLON, BUKIT TELETUBBIES TORAJA | LIL P JOURNEY


Kampung Ollon Toraja | Dok Pribadi


LilPJourney.blogspot.com | TORAJA - Mahal bukanlah ukuran harga. Karena tak ada kata mahal untuk perjalanan yang berhasil mengubah pandanganmu tentang suatu tempat. Jauh bukan ukuran jarak. Karena semua lelah akan terbayar saat maha karya Tuhan menampilkan kejutan yang luar biasa. Seperti Toraja dengan semua kejutannya.

................


Suatu siang di Jak Koffie,  21 Maret 2019


"Sudah kemana aja di Toraja?" Tanya temen om kura-kura
"Kayanya kalau yang iconic hampir semua." Jawab gw mantap.
"Iya, sampai ke Ollon aja dia udah." Lanjut om kura-kura.

Begitulah pengantar percakapan di hari pertama pada kunjungan ke empat di Toraja. 

................


Kampung Ollon | Dok Pribadi
Jika pada artikel sebelumnya Toraja selalu identik dengan kopi, 'kuburan batu' dan adatnya yang kental, kali ini gw pengen menceritakan tentang sisi lain Toraja. Saat mencari tagar Toraja di aplikasi instagram, mungkin salah satu rujukan tempat wisatanya adalah Kampung Ollon atau Bukit Ollon. Ramai diperbincangkan di sosial media, tak sedikit pelancong yang telah berkunjung kemari, baik dari Toraja sendiri ataupun mereka dari luar Toraja yang doyan mengeksplor suatu daerah. Kalian yang suka touring dan trail di jalan yang menantang KAMPUNG OLLON ADALAH JAWABANNYA. Simak sampai habis ya artikelnya.

Wah cantik banget tempatnya. Tapi kira-kira medannya gimana ya?


Spot Foto Kampung Ollon | Dok Pribadi


PETUNJUK ARAH MELANGKAH

Namanya Kampung Ollon, sebuah kampung yang dijuluki sebagai 'surga tersembunyi di Toraja'. Kampung Ollon merupakan sebuah kampung di bawah administrasi Desa Buakayu, Kecamatan Bonggakaredeng, Kabupaten Tana Toraja. Menawarkan pemandangan alam dengan komposisi yang pas antara gunung dan sungai, kampung ini menjadi magnet tersendiri untuk para pelancong yang doyan dengan alam. Selain dijuluki sebagai  'surga tersembunyi di Toraja' beberapa orang juga menyebutnya sebagai 'bukit teletubbies Toraja'.

Bagi seorang traveller, hal terpenting sebelum melaksanakan sebuah perjalanan adalah melakukan riset. Apalagi kalau tempat yang diincar masih terbilang baru dan belum banyak yang mengulas. Penelusuran pertama biasanya diawali dengan berselancar mencari foto-fotonya di instagram, lalu berselancar di browser untuk mencari deskripsi objek wisata yang dituju dan terakhir adalah mencari petunjuk jalan lewat maps.
Dan taraaaa....betapa nggak kagetnya gw ketika layar maps menunjukan dialog 'can't find a way there'. Hahaha.
Lokasi ditemukan dengan key word : Ollon Valley | Dok Pribadi

Zoom out | Dok Pribadi

YAY!!! Tak ada jalan | Dok Pribadi
Setelah di zoom out lagi, medannya keren | Dok Pribadi

Tapi percayalah, seorang traveller (akan) selalu menemukan jalannya. Yakin deh. Berbekal smartphone dan browser akhirnya jalan menuju Kampung Ollon pun terbuka. Ialah situs Kareba Toraja yang memberikan ulasan lengkap petunjuk arah ke Kampung Ollon.

Saat itu gw berangkat dari Makale sekitar pukul 06.00 pagi dengan motor matic Honda Beat. Karena berdasarkan info dari om wartawan di rumah mama Landorundun medannya masih bisa ditempuh menggunakan motor matic. Tapi percayalah ini sangat tidak direkomendasikan setelah gw kesana langsung dan gw lebih merekomendasi untuk menggunakan motor trail atau motor bebek seperti Jupiter Z dan Revo. Kalau ingin menggunakan mobil mungkin bisa menggunakan yang jenis double cabin yang biasa untuk off-road seperti Strada dan Jeep Wrangler. Tapi lebih asik pakai motor trail sih. Hehehe
Spot foto saat di perjalanan : Pintu Jomblo | Dok Pribadi
Berdasarkan informasi yang gw rangkum dari Kareba Toraja, yang gw perlu searching di maps ialah BUAKAYU dengan tambahan petunjuk (bukan di maps ya, tapi saat tiba dilokasi) 'KANTOR KECAMATAN BONGGAKAREDENG' disebelah kiri jalan. InsyaAllah mapsnya bener kok.

Nggak setajam tikungan temen, tapi lebih bahaya kalau meleng | Dok Pribadi

Jarak tempuh dari Makale sekitar 35 km dengan medan (berdasarkan pengalaman pribadi) yang relatif aman untuk motor matic. Karena jalannya meliuk-liuk dan banyak tikungan, jadi pastikan rem dan klakson berfungsi normal serta pastikan BBM kendaraan sudah terisi full (ingat kita menembus pegunungan loh, nggak tau kapan nemu orang jual BBM). Tapi ada kok beberapa warung yang menjual bahan bakar dipinggir jalan.

30 km pertama, lancar kondisi jalan aman | Dok Pribadi

Nah setelah menemukan KANTOR KECAMATAN BONGGAKAREDENG, tinggal lurus saja sekitar 500 meter. Pada pertigaan pertamasebelum jembatan besibelok kanan ya. Nah mulai dari sini jalannya sudah nggak beraspal tapi masih aman untuk motor matic. Udah mau sampai? BELUM.
Kalau melewati jembatan ini, artinya keterusan,
jadi harus puter balik | Dok Pribadi
Sekitar 5 km setelah belok kanan (kesannya memang kaya masuk hutan gitu sih, tapi aman kok), kita akan menemui warung yang biasanya dijadikan tempat berkumpul warga. Kalian yang nggak sempet membawa bekal makanan, bisa beli snack dan air mineral disini. Nah dari sini PETUALANGAN DIMULAI.

Warung penanda kalian sampai untuk memulai petualangan | Dok Pribadi

Perjalanan selanjutnya, jujur kalian sudah tidak di rekomendasikan menggunakan motor matic. Karena medan selanjutnya berbatu, tanjakan dan turunan yang rawan sekali. Tapi kalau sudah terlanjur menggunakan matic, bisa sih asal MOTORNYA BENAR-BENAR DALAM KONDISI PRIMA. Waktu itu gw melihat langsung ada 'warga Kampung Ollon' yang menggunakan motor  matic Honda Beat. Tapi mereka sudah expert dan motornya masih baru. Hehehe.
Masih 10 km guys! | DOk Pribadi

500 meter pertama setelah warung | Dok Pribadi
 LET'S START OUR ADVENTURE!!! Sesuai informasi dari warga dan dari papan petunjuk arah masih ada 10 km lagi untuk ke Kampung Ollon. Oh kawan, percayalah, bahwa medan jalan kali ini sangat berbeda dari 35 km di awal. Mungkin cuma 10 km. Tapi serasa 50 km waktu tempuhnya.

Persimpangan : kiri ke Kantor Lembang kanan ke Kampung Ollon | Dok pribadi
Setelah 5 km perjalanan kalian akan menjumpai persimpangan. Kalau kiri menuju ke Kantor Lembang (Desa) Buakayu dan ke kanan untuk menuju Kampung Ollon. Disini adalah titik terakhir kalian menemukan signal. Ya LOST SIGNAL! Tapi jangan khawatir, sisa jalan 5 km hanya ada satu jalur dan insyaAllah nggak akan nyasar kok.

Kalau lelah istirahat aja | Dok pribadi

Sepanjang perjalanan 10 km itu kalian akan di suguhi pemandangan yang luar biasa indah. Mulai dari perbukitan gunung yang masyaAllah cantik banget, hewan ternak seperti kuda, sapi dan kerbau yang berkeliaran di alam serta medan yang membuat kalian nggak bisa lengah.
Truck pengangkut hewan ternak dan biasanya di gunakan warga untuk ke pasar | Dok pribadi
Medan jalan yang real lebih seru kok hehehe | Dok Pribadi
Kondisi jalan | Dok Pribadi
Saat kalian sudah melewati jalan berbatu bekas aliran sungai dengan kondisi yang kering (saat kemarau), itu tandanya perjalanan kalian sudah mendekati tempat tujuan. Dan saat kalian menemukan portal (pintu kayu) itu tandanya : WELCOME TO KAMPUNG OLLON. 

Welcome to Kampung Ollon | Dok Pribadi
Setelah melewati jalan dengan kondisi yang 'wow', kalian mungkin nggak akan menyangka bahwa di kaki gunung ini menyimpan kehidupan di dalamnya. Lumayan ramai walaupun tak ada signal ponsel. Kalau untuk listrik, warga Kampung Ollon mendapat supply listrik dari solar cell yang merupakan program dari PNPM (maaf literasi untuk ini kemarin kurang detail karena salfok dengan cerita masyarakat disini).

DESEMBER TAHUN KEDUA 
Kampung Ollon Toraja | Dok Pribadi
Waktu itu gw dan Koneng udah hopeless banget bisa sampai ke kampung Ollon. Singkat cerita waktu itu kami sudah sampai di warung yang ada petunjuk arah ke Kampung Ollon. Kami berhenti sejenak untuk menanyakan : pak ini bisa ke Ollon dengan matic? Bapak-bapak itupun menjawab 'iya mba bisa kok'. Dan dengan yakin gw bilang ke Koneng : OKAY LET'S TRY! 

Dari bawah memang kelihatannya : wah cor beton kok. Tapi, itu hanya pengantar yang manis. Hehehe. Alhasil, belum sampai 1 km motor kami mengeluarkan asap dan itu pertanda : we can't continue this trip. Awalnya kami berencana istirahat sebentar dan mencoba jalan lagi, tapi setelah pertimbangan yang cukup matang (dari pada motornya rusak dan kami nggak bisa pulang) kami memutuskan untuk kembali ke warung dan mencari warga yang bisa mengantar kami.

Makan nastar dulu isi tenaga | Dok pribadi
Dan memang benar, waktu kami istirahat ada ibu-ibu yang menyapa kami dan bilang : mba mending balik aja, jalannya susah dan nggak bisa pakai motor matic. Setelah mengusir lelah dan kenyang, kami kembali ke warung. Saat nego-nego harga 'ojek', ada bapak-bapak dengan motor trail dan baju batik mampir. Ternyata beliau adalah Kepala Lembang Buakayu, Pak Karman. Beliau merupakan kepala lembang termuda di Tana Toraja. AND HOW LUCKY I'M! Setelah mendengar cerita gw, beliau bersedia mengantarkan ke Kampung Ollon dengan cuma-cuma.Tapi sayangnya si Koneng harus tertinggal di warung. Sorry Koneng, gw sangat tega waktu itu. Hahaha.
Terimakasih Pak Karman | Dok Pribadi
Di bonceng Pak Lembang dengan motor trail KLX, kamipun berangkat menuju Kampung Ollon. Di perjalanan beliau menceritakan tentang kehidupan di Kampung Ollon. Jadi jalan ke Kampung Ollon memang baru dibuka sekitar 1 tahun terkahir dan beliaulah penggagas pembukaan akses jalan ke Kampung Ollon ini. Wah nggak kebayang gimana dulunya warga disana mau keluar kampung ya.

Selain menggunakan motor, ada kuda. Nah dulu mereka pakai kuda untuk menempuh perjalanan. Tutur Pak Karman.
Let's take selfie | Dok pribadi
Sewaktu di perjalanan, kami bertemu dengan para pemuda Kampung Ollon yang sedang gotong-royong membenahi akses jalan, karena sudah memasuki musim hujan. Dan gw inget, beberapa dari mereka adalah anak-anak yang berpapasan dengan gw di jalan. Ternyata mereka baru pulang dari pasar untuk membeli bahan makanan seperti telur dan beras. Dari sini gw sadar kenapa kekeluargaan masyarakat disini benar-benar luar biasa, sebab sejak remaja mereka terbiasa gotong-royong. Salah satu kegiatan positif yang harus terus dijaga. Rasa saling memiliki dan menjaga sangat kental disini.

Kan jalannya untuk semua orang kak, makanya harus bareng-bareng benerin jalannya. Tutur salah satu pemuda.
Gotong royong pemuda Kampung Ollon | Dok pribadi
Setelah bercakap dengan mereka, kami pun melanjutkan perjalanan. Diperjalanan Pak Lembang cerita kalau warga disini mengandalkan hasil ternak sebagai mata pencahariannya. Tak hanya itu, makanan pokok warga disini juga nasi jagung. Melihat kondisi topografi Kampung Ollon memang tak cocok untuk ditanami padi. Berbeda dengan kawasan Toraja yang lain.
Namanya juga baru dibuka, jadi ya belum mulus | Dok pribadi
Jalannya nano-nano, kadang berbatu dan tertejal, kadang tanah yang mulus | Dok pribadi
Setelah perjalanan 10 km dengan waktu tempuh 1 jam, kamipun sampai di Kampung Ollon. Kampung di kaki gunung yang di juluki sebagai 'Surga Tersembunyi di Toraja'. Disambut para warga yang sedang berbincang di bawah rumah panggung, gw merasakan keramahan mereka. Merasakan kehidupan yang benar-benar 'WOW'. Kehidupan yang belum pernah gw lihat sebelumnya. Kalau dulu suku Bajo di Kendari  membuat gw sadar luar biasanya laut menyimpan kehidupan, kali ini adalah wajah Indonesia yang lain. Gunung dan mutiaranya.

Berbincang dengan warga | Dok pribadi
Saat itu ada beberapa TNI yang sedang berkumpul juga. Ternyata mau ada acara disini. Pak Bupati kalau tidak salah mau berkunjung dan ada ibadah Natal pada malam harinya. Ya ampun, percaya deh saat gw nulis artikel ini, rasa rindu itu datang dan gw masih bisa merasakan betapa hangatnya mereka berbincang dan berbagi cerita. Lagi-lagi, kopi menjadi bahasa universal. Saat satu teko kopi tersaji, percayalah, akan ada banyak cerita tertutur dengan rapi.

Ngopi yuk | Dok pribadi
Walaupun Pak Karman adalah sosok termuda saat itu, tapi mereka sangat hormat kepada beliau. Tata krama dalam perbincangan itupun sangat gw rasakan : tabe' Pak Lembang (Permisi Pak Kepala Desa, red). Begitulah 'unggah-ungguh' mereka sebelum berbicara panjang lebar menceritakan seseuatu ke gw.

Pak Martani | Dok Pribadi
Ialah Pak Martani, salah satu TNI yang saat itu sangat antusias menceritakan tentang Toraja ke gw. Salah satu cerita yang menarik ialah peradaban di Toraja. Dimulai dari menhir 'simbuang batu' yang banyak ditemukan di Toraja sebelum adanya tulisan 'lontara'. Lalu dilanjutkan dengan adanya tongkonan tua yang ada di dalam kampung seberang. Jadi sebenarnya, seberapa tua peradaban di Toraja ini? Melihat kota ini sangat kaya dengan jejak peradabannya.
Para warga memasak untuk ibadah Natal | Dok pribadi
Ada juga cerita masyarakatanya yang cukup membuat gw terenyuh. Selain Kampung Ollon, ada lagi kampung diseberang yang mana untuk keluar kampung harus menyeberangi sungai dengan perahu yang terbuat dari kayu besar yang di lubangi. Mereka untuk berbelanja ke pasar harus 3 hari meninggalkan rumah. Jadi masih mau ngeluh?

Anak-anak kampung Ollon | Dok pribadi
Selepas makan siang, Pak Karman mengajak gw untuk naik ke spot foto yang ramai di instagram itu. Awalnya gw kira bisa jalan kaki. Hahaha. Ternyata harus pakai motor karena jarak yang katanya Pak Karman tidak jauh ternyata, cukup lumayan.

Kampung Ollon | Dok Pribadi
Pak Karman Kepala Lembang Buakayu | Dok pribadi
Disini Pak Karman cerita, dulu di daerah sungai itu pernah terjadi perang untuk memperebutkan daerah kekuasaan. Ceritanya seru sih. But, nggak semua bisa aku share. Hehehe. Setelah puas mengambil foto dan video kami turun ke bawah untuk lanjut explore Kampung Ollon. Sumpah ini pengalaman paling seru di Toraja selain sama kamu di acara Ma' Nene' kemarin.  Kadang mikir : gw mungkin traveller yang beruntung. Dulu di acara Ma' Nene' yang langka itu (3 tahun sekali) di guide sama om Fyan Layuk, orang Dinas Pariwisata Toraja Utara, sekarang keliling Kampung Ollon di temenin langsung sama Pak Lembang-nya. Hehehe.

Pak Lembang dan warga | Dok Pribadi
Turun ke bawah, Pak Karman ngajak ke daerah belakang desa. Disana gw diajakin naik kuda. Hohoho I'm happy traveller. Saat itu para ibu-ibu tengah sibuk mempersiapkan makanan untuk ibadah natal. Pokoknya berasa banget gotong-royong dan kekeluargaan masyarakat disini. Saking ramahnya warga disini, sampai gw lupa ada si Koneng di atas lagi nungguin gw. Hahaha. Bahkan mereka, para warga, meminta gw untuk tinggal barang satu malam. Sayangnya gw sudah terlanjur beli tiket bis malam ini untuk pulang ke Makassar.

Oooh masih inget balik ternyata. Udah mau gw tinggal padahal kalo lu nggak balik-balik. Pamit 1 jam ini hampir 5 jam tauuuu. Omel Koneng.


Ibu-ibu Kampung Ollon | Dok pribadi
Lima jam di Kampung Ollon membuat gw sadar, bahwa ada banyak sisi Toraja yang belum gw lihat. Dan sepertinya nggak akan habis walaupun gw tinggal disini satu bulan. Terimakasih untuk Pak Karman, para Bapak TNI yang sangat ramah menuturkan banyak cerita walaupun tidak semuanya bisa gw share disini dan warga Kampung Ollon yang sangat ramah.

Si kerbau legendaris Toraja, the real bibit mahal | Dok pribadi

Kakek di Kampung Ollon | Dok pribadi
Kalau kalian mengira gw baru satu kali kesini, kalian salah. Hehehe. Pertama kali ke Kampung Ollon itu bulan Desember 2018, terus saat gw balik ke Toraja lagi bulan Maret 2019 gw ke Kampung Ollon lagi dong. Kali ini gw yang jadi guide untuk orang lokal. Hah kok bisa? Jadi waktu itu ada temen gw orang Toraja yang belum pernah ke Kampung Ollon dan karena gw kangen kesana jadi gw temenin dia.

Sukses lah ya nge guide orang hehehe | Dok Pribadi


CATATAN UNTUK KALIAN

Bagi kalian yang meniat menginap disini tapi nggak bawa perelengkapan, bisa sewa tenda disini. Biaya retribusi untuk masuk ke sini Rp 5.000/orang. Terbilang sangat murah. Kalau mau makan, ada warung di tempat gw berbincang dengan Pak Lembang dan warga, tapi mungkin cuma pop mie sih.

Selebihnya :
Tolong jaga alam disini. Jangan tinggalakan apapun selain kebaikan dan cerita manis. Buanglah sampah pada tempatnya, atau bawa pulang lagi. Tidak sulit bukan?

Kalau bukan kita sendiri yang memulai untuk berbuat baik, siapa lagi? Menyerukan tanpa aksi juga percuma. Jadi, awali dari diri sendiri dan biarkan orang lain mengikutimu.

Seorang traveler akan menemukan jalan pulangnya sendiri. Dia mungkin tak membawa cinderamata yang indah, tapi mereka akan membawa segudang cerita. Waktu itu tujuan gw adalah KAMPUNG OLLON. Wajar bila dalam sebuah perjalanan memiliki tujuan akhir, tapi ketahuilah pada akhirnya yang terpenting ialah PERJALANANNYA.


PS
Peluk dari jauh
Share:

22 comments:

  1. Walaupun jarak tempuhnya jauh dan susah....tapi semua itu terbayar dengan pemandanganya yang indah,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener kak...
      ada harga yg harus di bayar untuk suatu keindah bernama : perjuangan hehehe
      terimakasih telah berkunjung kak :))

      Delete
  2. Seruu bgt yaa jalan ke kampung olon, my trip my adventure banget hehe aku jg prnh dlu ke nusa penida, jalannya krg lebih kaya gni, tp justru disitu kenikmatan travellingnya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. tp beda sama nusa penida kak. soalnya ini medannya lebih terjal banget

      Delete
  3. Ini bukit teletubbiesnya keren euy.. Kalah deh yg di pelaihari ya.. Haha. Setuju banget sama pesannya nih. Buang sampah pada tempatnya. Kalau gak nemu bawa pulang aja. Kadang nih.. Kalau aku kan masukin ke tas tuh. Sampe rumah ya taroh aja. Seminggu berlalu baru inget. Eww banget gak sih. Heu heu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi semua tempat punya ciri khas dan ceritanya sendiri kak hehehe.
      kadang aku juga lupa naruh sampah di tas berhari2, untung sampah kering

      Delete
  4. Itu kerbau bule-nya denger-denger kerbau yang mahal bingit ya nggak ?
    cocok ajalah Toraja itu salah satu destinasi wisata yang cukup populer di Indonesia, sesuai dengan keindahannya, keeksotisannya.

    https://www.bundaisty.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya yen mahal banget. hahaha
      calon fortuner kata orang disana sih

      Delete
  5. Pas lihat foto kerbaunya kupikir itu sapi. Hihi. Keren banget ceritanya, put. Kapan-kapan tulis juga tentang wisata di banjar yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe ulun kdd kawan bejalanan kak disini. pali cafe aja kalau pariwisata. ke pasar terapung aja blm :((
      tp ada kok artikel bukit batas yang pernah ulun tulis kak

      Delete
  6. Aku gak pernah bosan baca cerita tentang toraja ini 😍 selalu ada alasan ingin kembali kesana. Padahal belom pernah kesanah hihi. Salut banget sama ini kota, destinasi wisata dan adat masih kental.
    Ah itu bukit teletubis, di kalsel ada juga namanya bukit teletubis hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak, katanya jodoh banget sama Toraja. Bikin nyaman, padahal nyaman itu jebakan #eeehhh

      nah iyap bener ada bukit teletubbies di Pelaihari

      Delete
  7. Beneran indah banget tpai jalan yg dilalui tak seindah pemandangannya. Huhu :( Tapi terbayarkanlah ya dengan pemandangan yg luar biasa itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kemaren pas mau kesana lagi : aduh capek, tapi seru sih naik motor trail. hahahaha

      Delete
  8. Keren banget Toraja ini, pengen banget kesana loh kaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk kak di agendain hehehe
      Atau mau gabung trip bareng aku juga boleh loh. Hehehe

      Delete
  9. Cantikkkk kaliii, kaya di Sumba itu.
    Tapi kayanya ini belom terlalu terkenal ya, jadi masih seoi.
    Dan muraaaah banget sih masuknya.
    Semoga tetap terjaga dengan baik ya, sayang kalo rusak seindah ini :(


    salam,
    www.rizkyashya.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener kak. Awalnya aku mikir : waaah like Sumba but lebih eksotis karena belum terlalu terjamah. Yuk main ke Toraja

      Delete
  10. Perjuangan banget ke sanaa yak. Kalo ga yg jiwa traveler (kaya aku) pasti udah nyerah. Wkwkwk... Mba,mereka memenuhi kebutuhan hidup gimana klo akses kemana2 susah betul? :(

    Oya, perjalananmu sungguh bersahabat dengan matahari, jangan lupa sunscreen yaa ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang diperlukan perjuangan ekstra kak untuk ke Kampung Ollon. Tapi setelah sampai semua perjuangan akan terbayar.

      Untuk memenuhi kebutuhan mereka bercocok tanam dan ke pasar, walau harus menemouh perjalanan yang jauh.

      Always dong yaaa sunscreen. Biar gosong tapi eksotis #eeeaaaaa

      Delete
  11. Ayo ngopi ..😊
    www.galeripondokpesantren.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh kak ^^
      ditunggu undangan ngopinya di-email putriiisantoso@gmail.com yaaa ^^

      terimakasih sudah mampir

      Delete

Hello! Terimakasih sudah mampir. Sertakan alamat blog ya...biar kita bisa ngopi bareng #eeh