Friday, April 19, 2019

RAMBU TUKA' : EKSOTISME PERNIKAHAN 'RAMPANAN KAPA' TORAJA | TORAJA | LIL P JOURNEY

Tarian Pa'gellu | Dokumen Pribadi


LilPJourney.blogspot.com | TORAJA - Sebuah perjalanan yang tak kunjung menemui 'ujung'. Jika kota lain hanya sebatas alam dan tempat wisatanya, entah kenapa kota yang perlu waktu tempuh 8 jam dari Makassar ini mengundang gw untuk datang lagi (dan lagi). Munginkah karena 'magis' kota ini?

Ini adalah kali ke empat gw ke Toraja. Beberapa teman bertanya : apa sih istimewanya Toraja sampe lu bolak balik kesana? Entahlah. Seperti ada 'hal' yang selalu menarik gw buat balik (lagi). Dan uniknya, semakin banyak gw tau tentang Toraja, semakin banyak yang gw nggak tau. Jika sebelumnya gw cerita tentang rambu solo' dan ma' nene' dengan latar 'kematian'. Kali ini gw mau cerita tentang RAMBU TUKA'

PENGERTIAN

Rambu Tuka' terdiri dari dua kata yaitu rambu yang artinya asap dan tuka' yang artinya mendaki. Secara harfiah Rambu Tuka' berarti asap yang naik atau arahnya ke atas, yang artinya asap persembahan yang naik ke langit sebelum matahari mencapai rumah tongkonan (wikipedia).

Waktu pelaksanaan Rambu Tuka' ini ialah saat matahari mulai naik dan dilaksanakan di sisi bagian timur dari rumah tongkonan. Itulah sebabnya Rambu Tuka' disebut juga Aluk Rampe Matallo atau ritual matahari terbit dari timur.
Adapun acara yang termasuk dalam kategori Rambu Tuka' ialah Mangrara Banua (syukuran pembangunan rumah adat tongkonan, di wilayah Sa'dan disebut Merok) dan Rampanan Kapa' (upacara pernikahan Toraja).

TORAJA : MARET TAHUN KETIGA


Belakang Tongkonan Mama | Dokumen Pribadi

Pagi kedua di Toraja sepulang dari bersih-bersih di sekolah 'mama', gw di ajak 'papa' untuk pergi ke acara Rambu Tuka'. Oh iya, kali ini gw full tinggal di rumah 'mama' Sarjani di daerah Landorundun (seberes artikel ini bakalan gw tulis tentang desa indah ini). Papa excited banget ngajak gw ke acara Rambu Tuka' ini. Sayangnya, mama yang kurang enak badan harus absen di acara ini. Rambu Tuka' yang akan kami datangi berada di Batutumonga yang berjarak kurang lebih 8 km dari rumah. Disepanjang perjalanan papa cerita tentang prosesi 'pernikahan' Toraja ini.

"Rame sekali ini Putri acara Rambu Tuka', acara bahagia, nanti kamu lihat boleh ambil foto sama video" tutur papa antusias.

Rambu Solo' Alm. Paulus Pongbusa |
Dokumen Pribadi
Waaah gw merasa beruntung banget dong. Kemarin, hari pertama gw ketemu acara Rambu Solo' penyembelihan kerbau, Ma'kaburu' yaitu proses pengantaran jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. Dan sekarang gw berkesempatan melihat langsung acara Rambu Tuka' di temenin papa yang merupakan kepala Lembang Landorundun.

Salah satu yang mencolok dari dua acara adat Toraja, Rambu Solo' dan Rambu Tuka', ialah warna yang digunakan untuk 'dekorasi' acara. Jika di Rambu Solo' menggunakan warna hitam dan merah, maka di acara Rambu Tuka' didominasi oleh warna kuning dan merah. Masyarakat Toraja mengenal tiga warna yaitu merah, kuning dan hitam. Oleh sebab itu ukiran di Tongkonan hanya ada tiga warna tersebut. Warna hitam untuk acara duka dan warna kuning untuk acara bahagia. Jadi ada yang menyarankan ketika kalian datang ke acara Rambu Solo' hindari memakai baju warna kuning.

Pondok Keluarga dengan gantungan nama keluarga |
Dokumen Pribadi
Okay kembali ke acara Rampanan Kapa' (pernikahan Toraja). Seperti pernikahan pada umumnya, pernikahan Toraja juga terdapat 'pelaminan', dimana dekorasinya didominasi warna merah dan kuning serta terdapat tenda atau disebut pondok untuk tempat duduk para undangan. Uniknya pondok yang telah disekat-sekat ini terdapat gantungan kertas bertuliskan nama keluarga, sehingga keluarga yang datang akan langsung duduk 'lesehan', berkumpul dengan para anggota kelurga yang lain. Selain pondok dengan tempat duduk lesehan, juga disediakan kursi yang biasanya digunakan untuk tamu undangan selain keluarga (teman mempelai dan pejabat). Karena gw dateng bersama papa, jadi ikut beliau duduk bareng keluarga beliau. Disini nih yang bikin gw takjub dengan masyarakat Toraja. Gotong royong dan kekeluargaannya itu luar biasa banget. Acara pernikahanpun bak reuni keluarga besar. Semua hadir, menyambung silahrurahmi dan saling mengenalkan anggota keluarga baru. Seperti gw yang saat itu jadi kenal dengan banyak warga, terutama keluarga papa.
Baine kecil Toraja dengan aksesoris kondure |
Dokumen Pribadi
Muane kecil Toraja dengan baju adat |
Dokumen Pribadi
Jujur, awalnya sempat khawatir akan di cap 'aneh', karena penampilan gw yang agak nyeleneh : rambut hijau. Hehe. Tapi gw salah besar. Gw malah disayangin banget disini. Hehehe. Dan para ibu-ibu disani pun heboh dengan pertanyaan : kamu masih sendiri kan (red : single, jomblo)? Dengan bangga dong gw jawab : iya bu. Dan alhasil mulailah perjodohan di acara pernikahan. Hahaha.
Suasana pondok keluarga papa | Dokumen Pribadi
Sembari menunggu mempelai memasuki area pelaminan, para tamu keluarga yang berkumpul akan saling bertukar cerita sembari menikmati ballo (biasanya para laki-laki, tua dan muda) yang telah disediakan dalam jerigen. Ballo merupakan minuman khas Toraja yang berwarna putih dan (katanya) rasanya manis. Ballo terbuat dari hasil fermentasi pohon enau. Seperti minuman khas arak daerah pada umumnya, minuman ini mengandung alkohol dalam jumlah kecil. Untuk menikmati ballo disediakan bambu yang telah dipotong sekitar 30 cm sebagai gelas. Tradisional banget kan?

Pernikahan Toraja | Dokumen Pribadi
Sekitar pukul 13.00 mempelai yang sebelumnya telah melaksanakan ibadah dan pemberkatan di gereja (dihadiri terbatas oleh keluarga inti) dengan menggunakan pakaian adat Toraja memasuki area 'pesta' diiringi musik dari kesenian Ma' Lambuk (batang bambu dipukul ke lesung kayu).

Pembawa acara | Dokumen pribadi
Dibarisan paling depan ada tiga gadis penari yang disebut pa' doloan yang menari sambil berjalan menuju pelaminan, dibelakangnya ada barisan 'pagar ayu' yang terdiri dari pemuda dan gadis berpakain adat Toraja, disusul pengantin dan anggota keluarga. Saat proses pengantin memasuki area acara ini, pembawa acara akan memberi sambutan dan membaca semacam syair dalam bahasa Toraja. Acara selanjutnya adalah kesenian tari Pa' Gellu. Nah serunya, disaat para penari cantik tadi menari, akan ada tamu yang 'nyawer'. Tak lupa pengantin dan kelurga juga akan memberi saweran untuk para penari.

Acara selanjutnya adalah makan bersama. Jadi, adatnya disini memang kaya banget. Semua tamu nggak boleh makan sampai 'waktunya'. Jadi saat makan dilaksanakan bersamaan. Berbeda dengan acara pernikahan lainnya dimana tamu datang, makan, bersalaman dan berfoto bersama lalu pulang. Di Toraja semua acara dilaksanakan bersama-sama. Jadi terasa sekali kekeluargaannya. Makanan yang disediakan biasanya pa'piyong (daging babi yang dimasak dalam bambu), sate, ayam kare dan ikan mas. Nah ada cerita tentang si ikan mas ini. Kata Mama Lia (salah satu ibu-ibu keluarga papa) kalau ikan mas juga merupakan menu wajib untuk menyambut tamu di acara-acara orang Toraja. Pantas saja, setiap gw dateng ke acara adat selalu ada ikan mas. Di acara Ma' Nene' waktu itu juga disediakan ikan mas, lalu waktu ada acara Rambu Tuka' untuk syukuran alang juga dihidangin ikan mas. Saat diacara seperti ini, piring yang digunakan adalah piring dari kertas nasi yang dilipat ujungnya, lalu makan dengan khitmat menggunakan tangan. Hehehe.

Setelah acara makan selesai, para tamu akan membereskan 'piring' dan sampah lain untuk dikumpulkan dalam kardus bekas minuman gelas, lalu menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada mempelai.

Selamat penempuh hidup baru | Dokumen Pribadi
Berbeda dengan Rambu Solo' yang menggunakan tedong (kerbau) dan babi dalam acaranya, di Rambu Tuka' hanya menggunakan babi.  Jumlah babi yang dipotong bisa mencapai puluhan. Tapi kemaren pernah baca dari sumber online kalau ada juga yang memotong kerbau di acara Rambu Tuka'. Tergantung kemampuan keluarga.
Pulang | Dokumen Pribadi
Kesimpulan dari acara Rambu Tuka 'Rampanan Kapa' ini adalah begitu luar biasanya rasa kekeluargaan masyarakat disini. Dimana setiap acara bukan tentang 'menyelenggarakan' tapi tentang mempertahankan adat dan ikatan. Baru ini gw dateng di acara pernikahan dimana kita nggak cuma dateng buat lihat dan foto sama mempelai, tapi benar-benar mengikuti acara dari awal sampai akhir bersama-sama dengan tamu yang lain.

Kalian tau, mungkin inilah magisnya Toraja.
Terimakasih untuk Pak Lembang 'papa' yang sudah bersedia mengajak saya untuk menikmati sisi indah Toraja. Terimakasih untuk Mama Sarjani yang telah menerima saya di rumah dengan sangat baik.

Segera kembali

PS
Peluk dari jauh
Share:

44 comments:

  1. Kok acara adatnya kek seru banget ya, aku sering bolak balik ke Makassar tapi belum pernah ke Toraja, liat beginian jadi pengen kesana juga. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesekali mampir ke Toraja kak. Apalagi bulan Desember, banyak banget acara adat 'pesta' penguburan yang biayanya sampai milyaran itu.

      Delete
  2. Aku pernahnya ke makassar doang, kalo ke toraja belum hehe Taunya yg adat kematian itu aja sih, tp trnyata msh bnyk ya adat toraja yg lain hehe Wisata yang ad di toraja apa aja nih? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebanyakan orang biasanya memang sampai Makassar aja sih kak. Soalnya ke Toraja kan perlu waktu 8 jam dari Makassar. Tapi disana tempat wisata alamnya keren-keren loh. Ada Ke'te Kesu', Pallawa, Patung Yesus Burake, dll. Klik category : Toraja untuk tempat wisata di Toraja

      Delete
  3. Berarti setelah makan beberes sendiri ya itu ? Seru ya lumayan mengurangi kerjaan. Hehe seru banget acara nya dan pemandangan disana keren parahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, jadi setelah selesai acara makan-makannya, bekas tempat makannya sudah dikumpulin disatu tempat terus nanti tinggal di buang (karena menggunakan kertas nasi untuk piring).
      Pokoknya beda banget adatnya sama yang di tempat lain. Semua serba barengan, jadi kerasa banget rame dan kekeluargaannya.

      Delete
  4. Kalau melihat adat-adat Toraja yang sering Putri tulis di blog ini tuh kerasa banget ya kalau mereka itu kompak dan rasa kekeluargaannya super kuat. Aku suka banget Indonesia yang begini, hangat :)

    Ah, semoga nanti bisa main juga sekeluarga ke Toraja! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba...filosofi orang disana harus selalu gotong royong karena adat mereka yang besar mba.
      Iya mba...rekomen banget ke sana. Karena salah satu tempat wisata yang tiket pesawatnya termurah dari Banjarmasin hehehe

      Delete
  5. Waaah, Toraja. Tanah Toraja ini memang magis ya. Adat istiadatnya kental bgt. Acara ga sekadar rutinitas tapi ada isinya ya. Mbak Putri beruntung bisa ke sana berkali2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba... Orang disana ramah banget. Walaupun disana jadi minoritas, tapi saya bebas menjalankan ibadah dan insyaAllah makanan halal mudah ditemui di kota. Kalau misal kita datang di acara adat pasti di tanya : maaf muslim ya?
      Jadi jangan takut datang ke Toraja. Kalau mau kesana bisa kontak saya, nanti ngina di rumah mama angkat saya disana.

      Delete
  6. Toraja ini memang magis banget ya katanya. Turis-turis dari mancanegara juga banyak banget yang ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba. Magis dengan caranya sendiri membuat orang suka culture seperti saya jatuh cinta. Hehehe
      Kemaren malah pas datang ke acara penggantian baju mayat, 50% turis mancanegara, 40% orang keluarga dan orang lokal Toraja, 10% nya baru turis luar Toraja >.<

      Delete
  7. Budaya yang unik. Tapi dengan suasana yang crowded aku biasanya mlipir ke pojok yang adem2 gitu dan seperti biasa akan merasa nyaman dengan sendirian di tengah keramaian. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sih mba kesannya crowded tapi karena digunung, jadi tetep aja ade. Jadi, yakin mau melipir di pojokan? 1600mdpl looooh...hehehe

      Delete
  8. Wah, baru tau kalo nikahan di Toraja kaya gini.
    Sampai kalo habis makan beresin sendiri hehe

    pengen banget ke Toraja, apalagi kalo bisa lihat upacara pernikahan gini. uwuuuw

    salam,
    rizkyashya.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih langka acara nikahan sih kak dari pada acara pemakaman. Kalau acara pemakaman kita bisa liat jadwalnya di dinas pariwisata Toraja.

      Delete
  9. SEnangnya bisa halan-halan sambil party pulak! Keberagaman budaya dan alam yang keknya cuma Indonesia yang punya, ya? Sebagai blogger, jadi punya banyak ide yang bisa digali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap bener kak. Kita itu kaya banget budayanya, tinggal gimana mau explore tanpa merubah apa yang ada

      Delete
  10. Ya ampun seru banget sih, wish list banget ini Toraja. Aku belum kesampaian ke sana hikss. Moga moga pas ada event pernikahan yang langka banget kaya gini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya acara pernikahan nggak langka sih kak. Tapi karena pernikahan itukan sifatnya pribadi, jadi nggk ada di acarakalender event gitu kan. Jadi kalau bisa nemu dan bisa dapet cerita kesannya kaya seru gitu

      Delete
  11. Kak Put, seru banget yah liputannya di Toraja. Asli bikin kangen Toraja hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toraja emg bikin kangen dooong. Aku aja tiap 3 bulan selalu kesana. Hahaha
      Magis banget emang kota satu ini

      Delete
  12. setelah baca sih langsung terpikirkan, kapan ya aku bisa lihat langsung kesana hehe,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayok kak di rencanain. hehehe
      desember bulan paling rekomen untuk ke Toraja

      Delete
  13. Eaaa, berawal dari kondangan, dimulailah ajang perjodohan. Siape tau jodoh lu memang di sana, Put :D

    Gue percaya, setiap traveler punya jodohnya masing-masing dengan satu tempat. Ada yang bolak-balik Papua di saat traveler lain empot-empotan buat ke sana. Ada yang bolak-balik Turki, Jepang, atau Cirebon wkwkwk.
    Wah, gue jadi penasaran buat cobain ballo, Put!

    Sama seperti di pernikahan tradisional Jawa. Seluruh makanan dihidangkan oleh petugas (disebut "sinoman") kepada hadirin. Dimulai dari appetizer, main dish, desert, minum, dll. Jadinya lebih tertib dan tenang, kita tinggal duduk. Seneng banget saat kondangan ke Solo akhir Maret lalu, temenku masih mengaut pernikahan tradisional kayak gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jauh kali bang menyebrang lautan dan bis 8 jam. Hahaha. Eh tapi katanya jodohnya orang yang suka jalan-jalan itu bisa ketemu di jalan #eeeaaaa

      Bener banget. Pasti ada satu tempat yang bener-bener nagih buat balik dan balik lagi. Entah dengan beribu alasan apapun. Hahaha

      Disini makannya disediakan sama keluarga sih kak. Jadi emang peran keluarga penting banget. Dan semua makannya itu barengan. Jadi makan bareng, pulang bareng. Keliatan ramenya. Kalau di jawa memang bisa sampe ada pagelaran wayang kulit juga loh.

      Delete
  14. Toraja, salah satu destinasi impian, cerita nya inspiratif bgt kak.

    Kapan ya aku bisa kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Desember aja kak kalau memang bener-bener mau kesana. Karena banyak event dan acara adat

      Delete
  15. Beruntung Mbak bisa beberapa kali ke Toraja. Saya jadi bisa baca kisahnya dan itu nambah wawasan saya. Bagi saya ke Toraja sama dengan mau umrah. Biayanya gede hehehe... Belum tahu adakah kesempatan bisa menginjakkan kaki di Toraja atau tidak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah kok bisa sama dengan umrah kak? Kakaknya tinggal dimana nih? Karena wisata di Toraja sebenernya gk mahal. Yang mahal itu mungkin tiket pesawat aja sih. hehehe
      Semoga bisa nerkunjung ke Toraja yaaa kak ^^

      Delete
  16. mewah banget ya nikahan Toraja. Tapi mungkin biayanya sama ding sama pernikahan modern

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak mungkin biaya memang kurang lebih dengan pernikahan modern

      Delete
  17. Meriah yaa warnanya merah kuning. Aku suka liatnya kekeluargaannya erat banget ya.. Apa-apa dilakuin bareng-bareng pas pesta adat. Apa ikan mas itu simbol keberuntungan juga di sana ya? Makanya jadi sajian Kalo ada perayaan. Pingin banget ke Toraja, kayaknya banyak banget yang bisa dieksplor disana sampe dirimu bolak-balik. :D Tapi mungkin juga kayak ada magnetnya ini daerah ya.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak kekeluargaannya bikin aku jatuh hati.
      Dan kalau folosofi ikan mas belum aku telisik lebih lanjut nih. Hehehe.
      Magnet Toraja besar banget buat aku. Bikin nyaman hahaha

      Delete
  18. Oooooh begitu ya? Makan2 kudu berbarengan dengan waktu serempak? Berasa bener kekeluargaan dan kekompakannya. Serba tertata dan disiplin kayaknya. Ini untuk menghormati penyelenggara dan tentu toleransinya kuat sekali. Ada ikna mas asik dong :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak harus bareng-bareng makannya. Kalau satu makan, makan semua.
      Kalau urusan toleransi mereka memang juara deh. Jadi tamu yang datang, yang bukan orang Toraja biasanya di tanya : muslim ya? kalau muslim makan yang ini yaaa. Jadi mereka memang sangat menjaga tamu dan menjaga toleransi.

      Delete
  19. Papiyong gue sudah coba dan enak.
    Dari bacaan ini, gue menyesal waktu ke Toraja nggak cobain Ballo. Kalau ada kesempatan balik lagi, gue harus cobain minuman satu itu. Ahahaha


    Btw, desain pelaminannya itu bagus ya. Barubliat yang model itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin kalau ada yang bikin pa'piyong ayam aku pengen coba hehehe. soalnya beberapa kali kesana dihidangkan yg ikan mas. saya gk bisa makan ikan >.<

      aku juga penasaran sama ballo sih. pengen coba deh nanti

      iya kak desainnya unik. dan walaupun di gedung masih pakai desain kaya gt. mempertahankan culture banget kan

      Delete
  20. Warna khas Toraja itu Colourful banget ya jadi makin meriah acaranya, aku belum pernah ke kawinan di Toraja, ternyata unik banget ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak meriah acaranya karena makannya rame-rame sih. jadi perlu spend waktu 2-3 jam sih kemaren. tapi karena asik dokumentasi sampe gk berasa nunggu sekian jam

      Delete
  21. Salah satu wish list aku yang belum terwujud nih, Toraja. Btw jauh juga ternyata ya sampai 8 jam perjalanan dari Makassar. Berarti luas banget Sumsel itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak. Tapi sleeping busnya nyamaaaan banget kok

      Delete
  22. Putri beruntung ya bisa lihat acara adat duka dan suka sekaligus..,
    rasanya pasti dirimu akan kembali lagi ke sana ya, ada papa dan mama yang begitu baik...
    kapan2 cerita tenun Toraja Put, aku pernah lihat pameran Toraja Mello di museum Tekstil
    kainnya keren2 banget deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah kakak jadi ngingetin saya sama PR di Toraja deh....padahal saya baru pulang loh pagi ini >.<

      Delete

Hello! Terimakasih sudah mampir. Sertakan alamat blog ya...biar kita bisa ngopi bareng #eeh