Thursday, April 25, 2019

LANDORUNDUN : SEBUAH PENGANTAR PERJALANAN KE ISTANA 'RAPUNZEL' | TORAJA | LIL P JOURNEY

Karena Indonesia Terlalu Kaya untuk 365 Hari | Dok Pribadi


LilPJourney.blogspot.com | TORAJA - Sebab pada detik kesekian aku telah jatuh cinta. Bukan tentang kamu, tapi tentang kehidupan masyarakat disini. Seolah banyak yang harus aku telusuri disini. Mencari yang belum orang ceritakan. Dan uniknya, semakin aku banyak tau tentang kota ini, semakin banyak teka-teki yang belum aku selesaikan. Selamat menikmati 'Kata Pengantar' dari perjalananku.

Banjarmasin, November Tahun Kedua

Neng, ketemu di Thousand Feets Coffee yaaa. Tulis gw di kolom chat whatsapp.

Pukul 8.00 malam gw ketemu Koneng di Thousand Feets Coffee. Awalnya kami hanya membahas seputar perjanjian kerja dan tagihan pembayaran. Setelah satu jam berputar dengan pembicaraan 'kantoran' kami mulai percakapan tentang 'liburan', ah oase. Dan entah darimana kami tiba pada topik 'TATOR', Tana Toraja. Ketertarikan Koneng pada kota ini tak jauh dari dunia arsitek yang digelutinya sehari-hari, maklum dia seorang arsitek yang jasanya bisa kalian booking. Hehehe

Walau pada awalnya pesimis apakah kaki ini akan melangkah (lagi) ke kota dimana banyak kenangan bersarang ini atau tidak, tapi toh ternyata rencana ini bukan hanya wacana. Karena saat tiket sudah dibayar dan kode booking telah terkirim ke email, gw bisa apa? Mundur? Oh tidaaaaak. Hahaha

Desember, Tahun Kedua

View Belakang Tongkonan Kale Landorundun | Dok Pribadi

Drama Toraja kali ini di awali dengan [1. Banjarmasin] delay hampir dua jam dan [2. Makassar] hujan deras yang membuat pesawat kami terlambat landing 30 menit sambil berputar-putar di langit Makassar. Sebenernya, yang bikin cemas itu bukan (cuma) hujannya, tapi ketinggalan bis ke Toraja. Waktu menunjukan pukul 10.30 malam ketika kami sampai di Rumah Makan Putri Minang untuk menunggu bus Bintang Prima yang selanjutnya akan membawa kami ke Toraja.

Morning tante Koneng, welcome to Toraja.

Sapa gw ke Koneng yang baru saja membuka mata setelah perjalanan 8 jam dari Makassar dengan sleeping bus yang super nyaman. Karts, tongkonan dan alang menjadi penyambut kedatangan kami. Lalu 'rindu' itu datang tanpa permisi. Ah Toraja, aku kembali, aku kangen kamu om kura-kura. 

Setelah menghubungi om Cokopacu rental motor dan tanda tangan 'kontrak' sewa, kamipun langsung menuju ke Landorundun. Sebuah desa di ketinggian 1700 mdpl yang akan menjadi rumah kami di Toraja. Berdasarkan informasi dari maps, waktu tempuh ke Landorundun dari Rantepao sekitar 50 menit dengan jalan yang cukup mulus.
Rambu Solo di Sesean Suloara | Dok Pribadi

Drama kedua pun dimulai : kami nyasar. Untung nyasarnya keren, di acara Rambu Solo'. Singgahlah kami untuk melihat barang sekilas, 'pesta' kematian masyarakat Toraja ini. Salah satu misi ke Toraja kali ini memang untuk melihat acara Rambu Solo' yang katanya banyak diselenggarakan di bulan Desember. Seberes mendokumentasi beberapa foto dan video, kamipun pamit undur diri pada anggota keluarga dan warga yang telah berbaik hati menerima kedatangan kami. Perjalanan ke tongkonan Kale Landorundun dilanjutkan.

Ketika sampai di rumah mama Sarjani, pemilik tongkonan, kami disambut acara Rambu Tuka' peresmian alang (lumbung) baru. Tapi karena kami masih sedikit lelah dan memerlukan mandi, kamipun memilih untuk skip.

Coklat untuk om Kura-kura dan Kak Micha, owner Jak Koffie | Dok Pribadi
 Ke'te Kesu' menjadi destinasi pertama yang akan kami kunjungi. Menurut Calendar of Event Toraja, saat itu sedang berlangsung 'Festival Kopi' dan 'Malam Kesenian' yang merupakan bagian dari Lovely December, acara tahunan Dinas Pariwisata Toraja. Sebelum ke Ke'te Kesu', terlebih dahulu kami mampir ke Jak Koffie, salah satu tempat 'wajib' yang harus gw sambangi saat di Toraja. Celakanya si Koneng merasa nyaman disini. Oh Kak Micha, kau telah menjebak satu hawa lagi untuk nyaman di coffee shopmu. Alhasil kamipun baru berangkat ke Ke'te Kesu jam 4.30 sore, dimana acara Festival Kopi nya sudah selesai. Tak apa, masih ada satu acara lagi nanti malam. Sambil menunggu acara 'Malam Budaya' gw ngajak Koneng berkeliling Ke'te Kesu' (cieee jadi guide). Dress code kami hari itu adalah kaos 'Kopi Indonesia' dari W Kopi.  

Umar, Chaliq, Koneng dan Mitha| Dok Pribadi
Setelah menjelajah hingga Buntu Kesu' dan ngobrol dengan bapak-bapak SatPolPP yang sedang bertugas menjaga acara, gw duduk di alang sambil mengambil beberapa video dan nungguin Koneng yang asik hunting foto ukiran di tongkonan Ke'te Kesu.


Maaf mba, itu buku tentang kopi? (sambil nunjuk notes yang gw pegang). Sapa cowok tak dikenal yang tiba-tiba menghampiri gw.

Namanya Chaliq, dia di Toraja untuk menggarap sebuah film tentang kopi untuk tugas akhir kuliahnya bersama kedua rekannya, Asmitha dan Umar. Mereka bertiga merupakan mahasiswa semester akhir jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) disalah satu perguruan tinggi di Makassar. Ada sebuh benang merah unik di perkenalan kami yang ngingetin gw pada buku merah Fiersa Besari : Catatan Juang, yang sengaja gw bawa dari Banjarmasin sebagai obat jenuh. Di buku merah itu menceritakan tentang petualangan tiga sahabatSuar, Eli dan Fajar, mahasiswa lulusan DKVberlatar  Desa Utara yang sedang membuat film dokumenter tentang skandal pabrik semen di Desa Utara. Sedikit mirip bukan? Desa Utara : Toraja Utara dan mahasiswa DKV. Hehehe.


Simbuang | Dok Pribadi
Setelah saling bertukar akun instagram dan nomor HP (kali aja bisa trip bareng selama di Toraja), gw dan Koneng pamit undur diri, karena lokasi kami menginap yang cukup jauh dari Ke'te Kesu. Angin malam sudah mulai menggigit saat kami sampai di daerah Batutumonga. Jam 9 malam, semoga sampai tepat waktu dan nggak nyasar, batin gw. Sebenernya saat itu gw agak was-was karena jalan yang kami lalui berbeda dengan jalan yang pertama kami lewati tadi siang. Tapi karena om wartawan yang saat itu meliput Rambu Tuka' di rumah mama mengatakan ada tiga jalur menuju rumah mama, jadi gw slow aja sih. Dan alhamdulillah kami sampai tongkonan dengan selamat. Hehehe.

Kebun Kopi Landorundun | Dok Pribadi
Dua hari tinggal di tongkonan Kale Landorundun membuat gw sadar bahwa Toraja bukan hanya tentang wisata dan upacara adatnya. Ada sisi 'magis' yang selalu menarik gw untuk menyebutnya 'rumah'. Sisi magis yang seakan tak pernah habis untuk ditelusuri dan diceritakan.

Sepertinya setelah empat kali (September 2017, Agustus 2018, Desember 2018 dan Maret 2019) ke Toraja, akhirnya gw menemukan zona ternyaman disini. Di rumah 'mama' Sarjani. Keramahan beliau dan keluarga, kebun kopi di bawah tongkonan beliau, hutan bambu, situs simbuang dan masyarakat disini yang sangat ramah (sampai nggak dibolehin pulang dan mau dijodohin hahaha) sama gw yang 'sedikit' nyentrik dengan rambut 'hijau' (mungkin saat kembali akan berubah menjadi warna lain, biru?).

Kopi Pagi di Landorundun | Dok Pribadi

Pada detik kesekian, akhirnya gw harus mengakui :
AKU JATUH CINTA UNTUK PERTAMA KALINYA (PADA KOTA ORANG).

Cerita di atas adalah pengantar dari perjalanan di 'istana' Sang Putri 'Rapunzel' Landorundun.
Tunggu artikel selanjutnya ya. Akan menceritakan lebih banyak 'sisi' dari Toraja yang (mungkin) akan membuat kalian ingin melihat langsung : legenda Putri Landorundun, dunia kopi Toraja dan kehidupan masyarakatnya.

Baca Juga : 5 TEMPAT WISATA DI TORAJA

Segera Kembali 'Pulang'

PS
Peluk dari jauh
Share:

28 comments:

  1. Swlalu suka kisah perjalanan sesorang..membuat saya ingin menjelajah lebih jauh. Menikmati bau kabut berteman senyum ramah penduduk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. menjelajah selalu menjadi obat terbaik kak >.< hehehe

      Delete
  2. wah aku kalah nih sama kakak, aku aja yg stay brp tahun di mksr blm pernah ke Toraja hikss, but next time semoga rencana ygselalu gagal ke sana gak gagal lagi, happy trip kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih bolak balik ke Toraja...hampir 3 bulan sekali selalu 'pulang' ke Toraja. cari makanan halal gampang kok kak, asal di kota. kalau berencana melipir sampai ke dalam, saran sih bawa buntelan bekal hehehe

      happy trip ^^

      Delete
  3. perjuangan jalan ke Toraja kalo dibaals sesuatu yang kaya gini sih gak akan menyesal dan merasa rugi.
    Hope, someday i can go there :D


    salam,

    rizkyashya.com

    ReplyDelete
  4. Seru...biasanya tempat-tempat seperti ini memang membuat rindu dan ingin selalu kesana..rasanya 1 minggu pun kurang waktu nya untuk menjelajah

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener mba...
      malah sempet terpikir untuk menetap saking betahnya disini

      Delete
  5. Aku selalu ingin berada di posisi Putri yg bebas menjelajah daerah orang. Travelling impianku bgt sjk kecil. Syg skrg sdh terjebak di dunia yg serba monoton. Ternyata Landorundun itu nama desa ya. Unik sekaliml.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gk tau juga sih kak sejak kapan doyan traveling. Dulu sukanya ke tempat iconic, tapi sekarang suka yang bersentuhan dengan masyarakatnya.

      Iya kak nama 'desa' atau dalam bahasa sana 'lembang'

      Delete
  6. Mantap banget cerita travelingnya. Yang jelas aku belum pernah sih ke Toraja. Baca-baca postinganmu jadi bisa ikutan tau gimana cerita di Toraja. Nice!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku mau mematahkan stigma orang aja sih kak yang katanya Toraja itu serem. Padahal Toraja itu ramah dan indaaaah banget.

      Delete
  7. Keren ya ka putri menjelajah terus, kapan-kapan boleh dong ikut nih. Ditunggu ya kak cerita yang lebih seru tentang Toraja. Penasaran sih, karena aku belum pernah ke Toraja hahahhaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh kalau mau ikut. Tapi tiketnya bayar sendiri yaaa hehehe
      Sebenernya Toraja itu keren banget, kota dengan paket lengkap. Mereka cuma nggak punya pantai aja sih. hehehe

      Delete
  8. Kadang dari perjalanan kita bisa banyak belajar dan jadi tau hal baru, ini bagian yg aku cari juga kalo travelling .. Toraja ini suasana alamnya juga indah ya ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indah banget kak. Sampai aku pengen menetap disini

      Delete
  9. Waduh, baca ini cuma bisa bilang.. Iri.. Iri.. Iri.. Bener loh mba, mumpung lagi single nikmati aja dulu traveling ke tempat2 kece begini. Aku jd pengen nyasar kesana juga deh liat upacara kematian itu. Cerita detail ttg ini dong mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, katanya sendiri itu waktu yang teoat untuk traveling hehehehe.
      Tenang mba cerita tentang ini bersambung kok. Kan ini masih pengantar

      Delete
  10. Toraaaaajaaa entah kenapa aku menjadi semakin tertarik dengan adat yang masih kental disana. Benar benar pengen mencoba traveling kesana. Tpi entah kapan semoga bisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe dijamin betah deh mba kalau tinggalnya di kampung bukan di kotanya
      Bayangin aja : rumah adat, kopi panas, udara dingin, awan yang menyelimuti gunung. hohoho

      Delete
  11. Bawa daku jalan-jalan kaka, ga sanggup luat travelling muluk disini. Serasa pengen ikut liburan deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayooook kita jalan bareng hehehe
      Juni ada jadwal panen kopi di Toraja
      September ada jadwal touring Bali
      pilih aja yaaak hehehe

      Delete
  12. Gara2 Putri sering nulis tentang Toraja, belakangan aku googling sama nonton video soal Toraja di youtube. Ternyata budayanya unik banget ya, sayang yg biasanya dikenal hanya kopi dan adat upacara kematian ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hohoho travelblogger kan tugasnya mengenalkan suatu daerah kak. baik pariwisata alam ataupun adatnya.
      yuk lah main ke Toraja hehehehe

      Delete
  13. perjalanan yg indah danmenyenangkan...punya kenangan tersendiri

    ReplyDelete
  14. Astagaa mbaa, beneran jatuh cinta sama Tanah Toraja. Jangan2 jodohnya orang sinii, hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan mba. hehehe
      terlalu jauh. nggak kuat LDR mba >.<

      Delete

Hello! Terimakasih sudah mampir. Sertakan alamat blog ya...biar kita bisa ngopi bareng #eeh