Monday, February 4, 2019

UPACARA ADAT RAMBU SOLO' : MENYEMPURNAKAN CERITA PERPISAHAN | TORAJA | LIL P JOURNEY

Rambu Solo Sesean| Dokumen Pribadi

LilPJourney.blogspot.com | TORAJA - Pada pertengahan Januari 2019, National Geographic Indonesia meluncurkan sebuah artikel "Indonesia Ungguli India, Singapura Hingga Dubai Sebagai Negara Paling Instagramable' yang mengutip berita dari Big 7 Travel. Dalam berita tersebut Indonesia menempati urutan ke-4 (81,10%) sebagai negara paling intagramable mengungguli Dubai (urutan ke-9) dan Singapore (urutan ke-10).

Indonesia memang negara dengan paket lengkap. Tak hanya pantai-pantai cantik di Timur Indonesia dan gunung-gunung indah di seluruh penjuru negeri, kekayaan kuliner yang juga sudah tersohor di dunia, sebut saja rendang, soto, nasi goreng dan masih banyak lagi. Tapi Indonesia juga dikenal lewat kekayaan budayanya. Ialah Toraja. Kota cantik di daerah dataran tinggi Gunung Latimojong dengan udara segar ini masih menjaga budayanya hingga sekarang. Salah satu acara adat di Toraja yang sudah menjadi buah bibir dunia adalah Rambu Solo'.

SEJARAH

Rambu Solo Sesean| Dokumen Pribadi
Rambu Solo' merupakan upacara kematian masyarakat Toraja yang bertujuan untuk memberi penghormatan terakhir dan sebagai penyempurnaan kematian. Bagi masyarakat Toraja seseorang akan dianggap benar-benar meninggal setelah dilaksanakan upacara rambu solo'. Apabila upacara belum diselenggaran, maka orang yang meninggal dianggap sebagai orang sakit, dimana ia masih diperlakukan seperti halnya orang hidup yang dihidangkan makanan dan diajak bicara.

Dari beberapa artikel menyebutkan bahwa dahulu rambu solo' hanya boleh dilaksanakan oleh orang-orang dari kasta bangsawan. Namun seiring berjalannya waktu, setiap orang boleh melaksanakan upacara ini selama mampu dan memiliki biaya. Rambu solo' boleh tidak dilaksanakan jika keluarga dalam keadaan kurang mampu dan digantikan dengan memukul tempat makan babi agar didengar oleh tetangga. Tapi kebanyakan orang Toraja lebih mengedepankan rasa siri' atau malu, dan karena tidak adanya batas akhir pelaksanaan rambu solo', mereka lebih memilih berusaha untuk menyelenggarakannya..

PROSESI ACARA 

Ma' tudan mebalun | sumber : http://www.gocelebes.com
Upacara rambu solo' terdiri dari dua prosesi acara yaitu rante (pemakaman) dan pertunjukan kesenian. Kedua prosesi ini satukesatuan dan melengkapi keseluruhan acara.

Prosesi rante diadakan di halaman komplek rumah tongkonan yang terdiri dari beberapa acara :
  1. Ma’Tudan Mebalun, yaitu proses pembungkusan jenazah.
  2. Ma’Roto, yaitu proses menghias peti jenazah dengan menggunakan benang emas dan benang perak.
  3. Ma’Popengkalo Alang, yaitu proses pengarakan jenazah yang telah dibalun ke sebuah alang (lumbung) untuk disemayamkan.
  4. Ma’Palao atau Ma’Pasonglo, yaitu proses pengarakan jenazah dari area rumah tongkonan ke kompleks pemakaman yang disebut La'kian.
  5. Ma'kaburu' yaitu pengantaran jenazah ke tempat peristirahatan terakhir. 

Penyembelihan Kerbau  | Dok Pribadi

Prosesi kesenian dilaksanan tidak hanya untuk memeriahkan acara tapi juga sebagai bentuk penghormatan terakhir serta do'a bagi keluarga yang meninggal. Seperti halnya prosesi rante, dalam prosesi kesenian ini juga terdapat beberapa tahapan acara : 
  1. Perarakan kerbau yang akan menjadi kurban
  2. Pertunjukan beberapa musik daerah, yaitu Pa’Pompan, Pa’Dali-dali, dan Unnosong.
  3. Pertunjukan beberapa tarian adat, antara lain Pa’Badong, Pa’Dondi, Pa’Randing, Pa’katia, Pa’Papanggan, Passailo dan Pa’Silaga Tedong.
  4. Pertunjukan Adu Kerbau (tedong), sebelum kerbau-kerbau tersebut dikurbankan.
  5. Penyembelihan kerbau sebagai hewan kurban

TORAJA : DESEMBER TAHUN KEDUA
Tau-tau, Museum Ne' Gandeng | Dokumen Pribadi
Entah hal magis apa yang membuat gw nggak pernah bosan untuk mengunjungi Toraja. Rasa penasaran tentang budaya disana seakan tak pernah habis. Bahkan setelah acara Ma' Nene' pada Agustus 2018, ternyata tak kunjung menyelesaikan rasa penasaran gw dengan kota kecil yang terkenal tak hanya karena budaya, tapi juga kopinya ini.

Komplek Rumah Tongkonan Keluarga Om Fyant | Dokumen Pribadi
Saat kota-kota lain tengah sibuk dengan semua modernisasinya, kota ini seakan bergeming. Ia terus berjalan dengan semua nilai-nilai leluhurnya. Tidak. Ia bukan tak peduli pada semua modernisasi. Hanya saja, mereka percaya bahwa setelah kehidupan di dunia, akan ada 'dunia' lain (puya) sebagai tempat beristirahat dan berkumpul dengan para leluhur. Itulah mengapa orang-orang Toraja tak pernah meninggalkan adatnya. Masyarakat Toraja percaya bahwa di puya inilah arwah orang meninggal akan bertransformasi menjadi wujud lain tergantung dari kesempurnaan prosesi upacara rambu solo'. Untuk mencapai kesempurnaan tersebut, maka keluarga yang ditinggalkan akan berusaha semaksimal mungkin demi menyelenggarakan acara ini. Maka tak heran bila upacara adat yang terkenal karena memakan biaya tak sedikit, ratusan bahkan hingga milyaran rupiah, ini baru dapat dilangsungkan beberapa bulan bahkan tahun setelah keluarga meninggal. Dan karena biaya yang fantastis ini, ada beberapa orang yang menyebutkan bahwa 'orang Toraja bekerja untuk mati'. Om Fyant pernah bilang : makanya jangan heran kalau diseluruh Indonesia ada orang Toraja, karena orang-orang Toraja tekun dalam bekerja untuk keluarga mereka salah satunya untuk acara ini.

Oma om Fyant sebelum Rambu Solo' | Dokumen Pribadi
Gagasan kembali ke Toraja di bulan Desember muncul saat om Fyant ngajak gw ke rumah omanya. Waktu itu setelah jalan-jalan dari objek wisata Erong Lombok Parinding, om Fyant meneruskan perjalanan entah kemana. Gw diculik juga nggak tau. Hahaha. Di jalan dia bercandain gw : "tante mau ngerasain magisnya Toraja? hahaha." tanyanya. Dan sampailah kami di sebuah komplek tongkonan yang tak lain adalah tongkonan keluarga dia. Lalu...

"Eh mau ketemu oma enggak tante?" tuturnya.

Gw yang awalnya bingung cuma bisa mengiyakan aja. Dan, gw diajak ketemu 'oma' yang berada di kamar belakang rumahnya. "Cantik". Cuma satu kata yang bisa menggambarkan situasi saat itu. Omanya cantik dan budaya di Toraja ini cantik. Om Fyant cerita kalau oma sudah meninggal 10 tahun dan rencananya bulan Desember akan di 'pestakan'. Iya, oma om Fyant di rambu solo' pada Desember kemarin. Saat itu om Fyant mempersilahkan kalau ingin datang untuk melihat langsung. Merasa petualangan di Toraja belum menumui ujung, akhirnya gw 'janji' untuk kembali ke Toraja pada bulan Desember sembari mebawa setoples coklat homemade buat om Fyant. Tapi sayang ternyata kami tak berjodoh bertemu pada Desember kemarin. Dan gw gagal ke acara oma-nya. Sedih? Iya sedih karena melewatkan acara yang ada didepan mata soalnya waktu itu miscommunication sama om Fyant.

Mungkin saat itulah, waktu om Fyant membuka pintu kamar oma,  gw jatuh cinta pada Toraja untuk pertama kalinya. 

Rumah mama Landorundun | Dokumen Pribadi

Setelah tiga kali ke Toraja dan kali ini gw memutuskan untuk menginap di rumah tongkonan di Landorundun. Hari sudah siang saat gw sampai di Landorundun karena bis yang gw tumpangi terlambat sampai di Toraja, seharusnya pukul 6 pagi gw sudah sampai di Rantepao tapi ternyata molor dua jam. Perjalan dari Rantepao ke Landorundun yang terletak di Kecamatan Sesean Suloara sekitar 1,5 jam. Dan hari pertama disambut dengan nyasar. Hahaha. Tapi nyasarnya keren kok. Nyasar di acara rambu solo Bapak Lucas Selallo. Saat itu gw sama koneng (travelmate baru gw) ternyata salah ambil jalan dan kami nyasar ke komplek tongkonan yang kebetulan tengah berlangsung salah satu rangkaian acara Rambu solo yaitu prosesi Ma'kaburu'. Prosesi ma'kaburu' ini merupakan prosesi akhir dari upacara adat rambu solo', dimana didalamnya terdapat beberapa rangkaian acara seperti penyembelihan kerbau, penurunan jenazah dari la'kian untuk diletakkan di tengah tongkonan, ibadah pelepasan jenazah, makan siang bersama dan pengantaran jenazah ke peristirahatan terakhir.

Rambu Solo' Sesean| Dokumen Pribadi
Saat gw dan Koneng datang ke acara rambu solo' ini keluarga sedang bersiap menurunkan jenazah dari la'kian dan dilanjutkan dnegan pembacaan doa. Disini gw bener-bener merasakan bagaimana ramahnya orang Toraja kepada tamu yang datang walaupun itu orang awam seperti gw, terlebih kami muslim dan Koneng juga menggunakan hijab. Mereka, orang-orang Toraja, benar-benar penjamu tamu yang baik. Disana kami yang baru datang langsung dipersilahkan untuk duduk bersama anggota kelurga yang kala itu menanti pendeta sambil menyuguhi kami kopi, teh dan kue. Saat berkumpul itulah gw mengaamiini perkatakaan banyak orang bahwa orang Toraja ada penutur yang baik. Mereka tak segan untuk bercerita tentang banyak hal mulai dari acara adat hingga bercanda bersama kami.

TORAJA : MARET TAHUN KETIGA [UPDATE POST]

Sehat banget disini, jalan kaki 5 km plus makannya nasi merah | Dok Pribadi

Kali ini, Ransel Merah Jambu membawa gw ke Toraja lagi. Maret 2019 menjadi bulan paling random. Dimana gw tiba-tiba diterima jadi relawan dokumentator Kelas Inspirasi Toraja. Setelah mempersiapkan segala keperluan : kamera dan laptop gw berangkat lagi ke Toraja. Tapi kadang niat tak sejalan dengan rencana Tuhan. Saat itu gw yang baru sampai di Toraja tiba-tiba harus nganter tamu ke Singapore dan Malaysia di hari Kelas Inspirasi. Tamunya nggak mau kalau guidenya bukan gw. Okay mungkin belum rezekinya untuk ikut Kelas Inspirasi Toraja kali ini.

Dianterin Papa | Dok Pribadi
Dan namanya juga udah kepalang tanggung sampai Toraja, jadi ya udah jalan-jalan aja. Nikmatin aja lah yaaa. Menginap di rumah kepala Desa Landorundun itu kaya punya 'unlimited access' gitu nggak sih? Mau ke kebun kopi deket banget dari rumah 'papa', tinggal jalan kaki 100 meter udah sampai. Dan beruntungnya, waktu itu ada acara Rambu Solo'. Walaupun sisa hari terakhir : penyembelihan kerbau dan pemakaman, tapi toh gw belum pernah lihat. Terus karena gw sendirian, jadi berasa banget di sayangin disana sama mama dan papa, panggilan buat Pak Kepala Desa (Lembang in local language) dan istri.

Rambu Solo Alm. Paulus Pongbusa | Dok Pribadi
Nggak cuma di kasih info kalau ada acara Rambu Solo', tapi gw di anterin langsung dong sama Papa. Seneng? Banget! Sepanjang jalan bahkan Papa cerita macem-macem tentang budaya Toraja yang kaya banget. Dimana semua acara adat Toraja itu selalu mengutamakan kebersamaan dan gotong royong. Sampai akhirnya : besok kita ke acara pernikahan Rambu Tuka' ya. YAY! I'm lucky!!! Sekali dayung tiga pulau terlampaui. Rambu Solo' dapet, Rambu Tuka' pun dapet.

BACA JUGA : RAMBU TUKA' PERNIKAHAN TORAJA
Penyembelihan kerbau di acara Rambu Solo' | Dok Pribadi


Pukul 8.00 pagi Papa sudah siap untuk berangkat ke acara Rambu Solo' Alm. Bapak Paulus Pongbusa yang lokasinya nggak terlalu jauh dari rumah mama. Waktu kami sampai, ada 5 kerbau yang akan disembelih hari ini. Kata Papa kemarin sudah ada beberapa kerbau dan babi yang disembelih. Agak serem sih pas melihat langsung proses penyembelihannya. But, gw ngerasa amzing dong : sekali tebas aja loh proses penyebelihannya.

Anak-anakku | Dok Pribadi
Selesai acara pemotongan kerbau Papa ngajak pulang karena harus anterin Mama ke sekolah untuk mengajar. Oh iya, Mama merupakan kepala sekolah di SDN 8 Tikala. salah satu sekolah 'sederhana' dengan pemandangan alam yang luar biasa cantiknya. Waktu gw berangkat (ikut ke sekolah) bareng mama dan papa, mata gw di manjain sama pemandangan yang canrik banget. Jam 9.30 pagi dan kabut masih asik bermain-main di atas pepohonan. By the way, gw secara mendadak bantuin Mama buat video dokumenter untuk akreditasi. Nanggung dong udah bawa kamera dan laptop kalau nggak dimanfaatin. Ceritanya di post yang lain ya. Hehehe
Proses pemakam Ma’Pasonglo | Dok pribadi

Kembali ke acara Rambu Solo', Papa bilang sore sekitar pukul 3.00 jenazah akan di semayamkan di Lo'ko (kuburan di gunung). Waaah keren nggak sih bisa sampai ngelihat di proses penguburan. Di gunung pula bukan di patene (kuburan modern yang berbentuk rumah). Dan sayangnya : kamera low battery, HP gw error dan action cam juga lagi di charger. Bayangin segabut apa gw buat dokumentasi waktu itu. Untungnya pas ikut arak-arakan ke keburuan batu dianter sama ponakan Mama. Alhamdulillah dia dengan senang hati minjemin HP buat dokumentasi waktu itu. Makasih Juppe' La'lang. Hahaha

Proses pemakam Ma’Pasonglo | Dok pribadi
Saat acara pemakaman ini gw ngerasa bener-bener terhipnotis dengan begitu luar biasanya gotong royong masyarakat disini. Rambu Solo' bukanlah acara kecil, ini bener-bener acara adat yang luar biasa memerlukan segala bentuk tenaga dan kekompokan dari masyarakat dan keluarga. Pertama dari segi pendanaan penyelenggaraan acara yang memang 'mahal'. Jika satu kerbau 50jt di kali 10 kerbau? Ya kalian bisa bayangkan betapa luar biasanya usaha keluarga untuk menyelenggarakan acara ini. Betapa 'materi' bukan hanya untuk hidup tapi benar-benar untuk ketulusan dan rasa cinta untuk leluhur mereka.

Jenazah di makamkan bersama barang kesayang : di dalam tas | Dok pribadi

Jarak tempat penguburan dari rumah mama mungkin sekitar 1,5 km. Setelah diarak dari rumah hingga lo'ko menggunakan truck, jenazah diturunkan untuk kemudian di gotong dengan diiringi nyanyian. Dan yang bikin gw merinding itu : mereka gotong jenazah beserta sarigan (rumahan jenazah) naik ke gunung. Jenazah dimakamkan diliang bersama dengan benda kesayangan semasa hidup, biasanya termasuk baju-baju. Filosofinya? Nanti dicerita Rambu Solo' selanjutnya yang bakalan gw datengin bulan Desember 2019. Hehehe

Pendopo untuk istirahat tamu/keluarga | Dokumen Pribadi

DAN PERJALANAN INI MEMBUATKU RINDU 
 
Secara keseluruhan acara rambu solo' bukan hanya tentang biaya fantastis untuk penghormatan terakhir keluarga tercinta ke peristirahan terakhir. Tapi juga tentang rasa kekeluargan yang begitu erat, rasa saling memiliki dan bagaimana kematian bukan memisahkan tapi mendekatkan yang jauh untuk berkumpul kembali. Karena di acara ini semua anggota keluarga akan mengusahakan untuk pulang kampung. Sebenarnya cerita ini belum komplit. Ada beberapa literasi yang belum terisi, teruma tentang runtutan acara yang berlangsung seperti proses pemotongan kerbau dan saat pembungkusan jenazah (mabalun). Karena acara rambu solo' ini sangat luar biasa cantiknya dan luar biasa menguras waktu. Harus stay beberapa hari, mungkin satu minggu, untuk dapat merekam acara secara keseluruhan.
  
Dikota yang menjadikan aku minoritas tapi nyatanya penuh hangat, aku menemukan definisi 'kelurga' dengan sudut pandang yang lebih luas. Segera kembali. 

Maaf ceritanya belum menggambarkan keseluruhan acara. Akan di update lagi setelah bulan Desember 2019, saat gw ke Toraja lagi untuk mengejar Rambu Solo' salah satu keluarga teman gw disana. Mau join? DM me on instagram : @putriii_santoso.

PS
Peluk dari jauh.
Share:

56 comments:

  1. Replies
    1. Halo Mia! Terimakasih sudah berkunjung yaaa....
      Kamu semangat ya nulis blognya
      - Peluk dari jauh

      Delete
  2. Baca dari awal, rasanya terhipnotis, serasa berada di tempat ini. Toraja

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih sudah berkunjung kak...
      semoga kakaknya bisa mampir ke Toraja yaa ^^

      Delete
  3. Adat budaya Toraja emang unik banget, dan kalau boleh dibilang agak seram juga kalau yang berkaitan dengan mayat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena gw udah beberapa kali ke Toraja, jadi kesan seramnya jadi hilang. Malah syahdu banget disana... hehehe

      Delete
  4. Kalau tidak salah pada acara ini pula, ada agenda pemotongan kerbau hingga ratusan ekor ya? Pernah lihat video youtubenya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kak...
      Makanya ini acara 'mahal'. Hehehe

      Delete
  5. Aku salah momen banget yah ke Toraja pas nggak ada event apa-apa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. gk ada yg salah kok kak. hehe

      kurang explore aja mungkin. karena kalo hoki bisa nemu rambu solo’ kadang. coba cek ig dinas pariwisata toraja utara @visittorajautara buat follow calendar of event mereka sebelum kesana. jadi bisa ngepasin tanggal. hehehe

      Delete
  6. Itu bisa berkali-kali ke Toraja, memang dekat atau memang berjodoh sama Toraja aja ya mba. Keren dan seru, bisa berkali2 dan "menebus" yang belum dilakukan sebelumnya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. deket sih enggak kak...harus naik pesawat dl ke makassar baru 8 jam ke Toraja naik bus.
      tapi kaya ada magnetnya gt buat aku balik ke sini. hehehe
      dan selalu punya cerita baru setiap datang ke Toraja, melengkapi kepingan puzzle cerit di Toraja

      Delete
  7. Wah asik banget sih ini
    Setiap ke Toraja selalu bertepatan dengan acara adat yang wow begini
    Sejak dulu terkagum-kagum sama ada dan semangat gotong royongnya orang Toraja
    Saluuuuuuut

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak. kalau ma’ nene’ memang harus menepatkan diri berkunjung, kalau rambu solo bisa sewaktu2 sih asal pas hoki aja hehehe

      Delete
  8. Wah, ternyata ada yang magis ya di kamar itu hihihihi.... Btw barang kesayangan dibawa juga ke pemakaman ya. Unik banget. Salut deh mbak, bisa mengikuti acara adat seperti ini di Toraja. Papanya juga nganterin ya wow.... biar tau oooh anakku di sini toh mainnya hehehe :D Aku udah follow blognya dan IG nya ya, c u :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba...kemaren pas beruntung banget bisa ketemu acara-acara adat kak... Iyaa dong Papa malah yang paling antusias anterin anaknya keliling desa. hehehe
      Btw sudah saya follbck yaaa IG dan blognya kak ^^

      Delete
  9. Di gerejaku banyak orang Toraja dan merek bilang, "Kalau mau menikah, menikahlah dengan orang Toraja, karena biaya menikah itu mahal. Tapi kalau sudah menikah, kamu jaga dia jangan sampe mati. Karena matinya orang Toraja itu mahal."


    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh kak >.< hehehe
      Ada-ada aja yaaa. Tapi memang benar sih. Biaya pemakamannya lebih mahal daripada nikah. Anggaplah 1 kerbau itu 50jt. Satu acara misal 5-10 hehehe
      Walaupun anggota keluarga yg lain turut membantu

      Delete
    2. Biaya nikahnya murah maksudku. Saking semangat nulis sampe salah deh :)

      Delete
    3. nggak juga loh kak kalau murah. kemaren ada temen bilang : biasanya sih standar disini paling nggak 50jt untuk acara nikahan.

      hehehe

      Delete
  10. Udah 2 kali saya ke sini, taoi gak pernah dapar acaranya. Katanya banyaknya pas liburan sekolah ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya malah dpt pas gk libur sekolah sih. hehehe
      bulan Desember itu yang paling banyak rambu solo kak. kalau mau kesana nginap di rumah mama saya aja. dekat dg kebun kopi dan masih asri banget

      Delete
  11. Kalo ke sana pas ada acara seru banget ya. Mesti dijadwalin nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. follow ig dinas pariwisata toraja utara aja kak kalo mau pasin jadwalnya @visittorajautara

      Delete
  12. Biaya pemakaman yang luar biasa, ya hehehe. Tetapi, terlepas dari itu memang terlihat kebersamaan dengan sesama keluarga melalui budaya ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener kak... soalnya suatu acara gk bisa terlaksana tanpa gotong royong karena begitu besarnya adat mereka

      Delete
  13. Dari dulu selalu penasaran dengan budaya tana toraja. seolah, disana kita bisa melihat indonesia jaman batu.. budayanya masih terjaga. keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih ada loh menhir2 batu disana kak dan tetap dilaksanakan sampai sekarang pembuatan menhir atau dalam bahasa daerahnya di sebut simbuang batu

      Delete
  14. mbak ... rambu solo ini untuk orang sepuh sajakah?
    lalu kalau belum terlaksana satu upacara buat oma , lalu menyusul ada anggota keluarga yg wafat, boleh disatukan acaranya?

    dan prosedur pengawetan jenazah hingga 10 tahun pakai apa? cuma formalin atau ada cara sendiri?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rambu solo' ini bukan untuk orang sepuh aja, berlaku untuk tua maupun muda. Tapi kalau anak-anak selama belum tumbuh gigi dimakamkan di pohon.

      Saya pernah lihat beberapa foto acara rambu solo', dimana yang dipestakan sekaligus beberapa 2 orang. Kalau kata teman saya di Toraja, bisa saja disatukan (beberapa jenazah langsung) tergantung kesepakatan keluarga. Dan kalau 'pesta rambu solo' ini besar atau tidaknya acara tergantung dari kemampuan dan kasta.

      Nah kalau untuk prosedur pengawetannya itu pakai ramuan tradisional Toraja mba. Nanti kalau mba ke Toraja, mampir aja ke rumah warga, nanti warga disana mau kok cerita detailnya. Kalau saya merasa masih kurang wawasan untuk menyampaikan, takutnya salah. Hehe. Yang jelas ada yang pakai formalin, tapi hasil pengawetannya tidak bertahan lama dan nggak sesempurna ramuan tradisional mba.

      Oh iya, itu 10 tahun bukan waktu baku ya, tapi itu waktu tunggu keluarga untuk pelaksanaan Rambu solo. Kalau mampu bisa saja beberapa bulan setelah kematian. Ada yang lebih dari 10 tahun juga.

      Jadi intinya, semua tergantung kemampuan keluarga untuk melaksanakan upacara ini kak.

      Detailnya, memang harus main langsung ke sana. Hehehehe

      Delete
  15. detail banget ulasan tentang rambu solo di Toraja. Makin ingin ke Toraja aku... Belum pernah :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk kak main. Desember rekomended banget buat ke Toraja kak. Hehehe
      Akan banyak festival dan acara adat tentunya

      Delete
  16. Dan demi apa, gua juga magic banget baca ulasan ini dari awal sampai akhir.detail dan deskriptif banget. Toraja itu keren ya, sangat menghargai adat istiadat. Dari mulai kelahiran hingga kematian, semuanya dihargai. Pantasan mahal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hello kak terimasih telah membaca
      Toraja sejauh ini sukses bikin aku jatuh cinta sih dan salah satu destinasi di Indonesia yang harus dikunjungi

      Delete
  17. Pengen nih ke toraja, lihat upacara adatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Desember adalah waktu yg tepat untuk melihat prosesi adat Toraja kak

      Delete
  18. Pengen nih ke toraja lihat upcara ada yang ngehits itu

    ReplyDelete
  19. Aku tadinya mau tanya, gimana bikin jenazah awet sampai puluhan tahun.

    Luar biasa dana yang dibutuhkan yaa..
    Dan aku rasanya gak asing sama Landorundun.
    Aku teringat saat pelajaran bahasa Indonesia jaman SD. Ada kisah mengenai Landorundun.
    Ternyata ini kisah nyata...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Landorundun adalah legenda yang masih hidup sampai sekarang kak. Dan menjadi nama desa di Toraja Utara

      Delete
  20. Sudah lama banget tahu tentang rambu solo. Temenku mah menganggapnya ini 'solo' di sini adalah Jawa Tengah.
    Sudah sering baca tentang ritual ini dan karena punya kenalan orang Toraja jadi tahu 'sediki', baca ini aku jadi semakin berharap bisa ke sana. Ingin lihat tapi juga takut, seriusan takut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru loh kak pas melihat kekayaan adat Indonesia yang masih ada hingga saat ini

      Delete
  21. Aku belum pernah ke Toraja, cuma baca dari pengalaman blogers. Ternyata biayanya sebanyak itu yaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak.... rambu solo' memang salah satu upaara adat dengan biaya besar

      Delete
  22. Sudah lama sekali ingin berkunjung ke tanah toraja tegapi belum kesampaian juga. Tapi dengan baca artikel ini seakan akan terbawa sudah berada di tanah tersebut. Semoga bisa kesana..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin kak... Desember adalah salah satu bulanb yg tepat untuk berkunjung ke Toraja

      Delete
  23. wah, bikin saya bertambah ingin traveling ke Toraja, mana banyak even budayanya. Stok foto dijamin bagus-bagus

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa dong kak...ayok ke Toraja bulan Desember

      Delete
  24. Beruntung banget mbak... Bisa mengikuti prosesi budaya yang begitu unik secara langsung. Saya cumw pernah liat di tv penyembelihan kerbau ala toraja. Sekali tebas, mana kerbau dalam posisi berdiri... Hihi. Mksh cerita serunya.. Menarik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. penyembelihannya agak ekstrim sih hehehe
      saya aja gk berani lihatnya
      tp upacara adat ini memang seru sih

      Delete
  25. seru yaa...

    di tatar Sunda juga ada lho, upacara adat yang dilakukan masyarakat adat Cireundeu yang menghuni kawasan Leuwigajah Bandung

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah saya baru tau nih di Sunda ada upacara adat dari Cireundeu
      jadi pengen lihat

      Delete
  26. Holy God.. posting-posting tentang Toraja ini (kemaren rasanya aku baca tentang Bukit Teletubbies di kabupaten Tana Toraja) membuatku iri. Alangkah senangnya bisa menghadiri acara adat setempat dengan bantuan koneksi warga lokal. Seandainya aku tidak punya anak balita yang mesti dirawat, mungkin aku kepingin ikut juga menghadiri Rambu Solo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kaaaaak Vicky! Main-main ya nanti ke Toraja kalau si dedek udah gede ^^

      Delete
  27. Mantap sekali petualangannya,Kak. Bisa berkali kembali ke Toraja. Itu mahal juga biayanya. Hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. biaya untuk acara Rambu Solo' memang mahal kak. hehehe

      Delete

Hello! Terimakasih sudah mampir. Sertakan alamat blog ya...biar kita bisa ngopi bareng #eeh