Tuesday, October 22, 2019

holamigo.id : HALO TEMEN TRAVELINGKU, CARI DESTINASI WISATA IMPIANMU DISINI!

Festival Danau Sentarum bulan Oktober ini! | holamigo.id

holamigo.id - Sejak empat tahu lalu, traveling sudah menjadi agenda gue setiap triwulan. Bahkan akhir-akhir ini jadi berambisi untuk jalan-jalan keliling Indonesia dari Sabang hingga Merauke, menikmati suguhan kuliner unik diberbagai kota di Indonesia dan menikmati kecantikan seni budaya adat di Indonesia. Apalagi saat ini sektor pariwisata sedang digenjot untuk terus melakukan promosi dan melaksanakan berbagai event pariwisata. Perkembangan pariwisata ini pun didukung dengan munculnya media travel digital. Salah satunya adalah Holamigo.id, halo teman travelingku! media travel digital yang dapat memberikan inspirasi untuk para traveler melakukan perjalanan dan mendapat pengalaman baru.

SUKA TRAVELING, KENALI KARAKTERISTIKNYA
Holamigo.id

Sebelum mencap diri sebagai seorang traveler, mungkin ada baiknya kita mengenali karakteristik umum orang yang suka traveling :
  1. Punya jiwa petualang
  2. Punya rasa empatik yang tinggi 
  3. Mau belajar hal-hal baru
  4. Menerima perubahan
  5. Punya rasa percaya diri yang tinggi
  6. Independen
Nah enam karakteristik seorang traveler itu bisa kalian baca ulasan lengkapnya di holamigo.id : 6 Karakteristik Umum Orang yang Suka Traveling. Kalian juga bisa mendapatkan artikel inspirasi seperti : apa saja yang perlu kalian lakukan untuk bisa mendapatkan sertifikat diving, jahe si kecil dengan segudang manfaat bagi para traveler dan masih banyak artikel inspirasi lainnya yang bisa kalian dapatkan.

DARI MENGEJAR EVENT HINGGA KECANDUAN BUDAYA

Festival Danau Sentarum | holamigo.id
Sudah satu tahun belakangan ini gue sangat kecanduan menghadiri event-event yang diselenggarakan entah organisasi, event organizer atau pemerintah lewat Dinas Pariwisata-nya.  Seperti event yang akan berlangsung pada tanggal 27 Oktober 2019 ini ada Jakarta Marathon atau event Art Bali yang digelar dari 12 Oktober 2019 hingga 13 Januari 2020, berlokasi di AB.BC Building, Bali Collection, Nusa Dua dan ada lagi nih event Wakatobi Wave 2019 yang akan digelar pada 11-13 November 2019. Sebagai media digital yang menyediakan informasi seputar pariwisata, holamigo.id juga mempunyai artikel-artikel tentang event-event pariwisata yang wajib banget didatengin sama kalian yang doyan jalan-jalan.

Selain suka datang ke event-event yang tentunya langka 'satu tahun sekali', gue juga akhir-akhir ini sadar kalau selama ini ketimbang hanya menjelajah tempat iconic tapi lebih suka melihat budaya-budaya yang ada di Indonesia.Salah satunya adalah Toraja. Kota cantik di Provinsi Sulawesi Selatan ini telah menjadi 'rumah' buat gue. Beberapa acara adat pernah gue kunjungi, mulai dari rambu solo', rambu tuka' dan ma' nene'. Saat gue ke Toraja, ketimbang menginap di hotel, gue lebih suka tinggal di rumah tongkonan, rumah adat masyarakat Toraja. Enam kali gue bolak-balik Toraja, gue baru tau fakta tentang rumah Tongkonan bahwa selalu menghadap ke utara. Dan masih ada beberapa fakta tentang rumah tongkonan yang gue baca di holamigo.id.

KENAPA HOLAMIGO.ID?
Tempat Makan Ice Cream Legendaris | holamigo.id

Sadar nggak sih temen traveler, kalau banyak banget informasi yang gue dapat dari holamigo.id. Mulai dari event-event seru, travel tips, destinasi seru baik di Indonesia maupun di luar negeri serta ada tips seputar kesehatan juga. Kalian tau kan, untuk jalan-jalan seru kita perlu ditunjang kesehatan fisik. Kan nggak seru kalau pas liburan malah sakit.

Bagi pecinta kuliner, holamigo.id juga menyediakan banyak referensi kuliner dari tradisional hingga modern. Sebagai pecinta ice cream, ulasan holamigo.id tetang 4 tempat ice cream legendaris di Indonesia sangat menarik. Satu toko ice cream bahkan langsung menggugah rasa penasaran gue dari ulasan tersebut, Toko Oen, gerai ice cream tertua di Indonesia yang sudah berdiri sejak 1910.

Bahkan gara-gara holamigo.id ini gue jadi kangen kampung halaman gue di Tulungagung. Kota yang terkenal dengan Gunung Budeg nya. Cerita tentang objek wisata Ranu Gumbolo di Tulungagung bikin gue kangen sama nasi pecel 5.000 rupiah dengn rasa pedes yang nendang serta kopi ijo di pinggir rel kereta.
Wakatobi Wafe 2019!

Sebagai seorang traveler, ulasan-ulasan holamigo.id ini sangat lengkap dan informatif banget. Dengan bahasa yang ringan, holamigo.id juga nggak bosenin untuk dibaca. Bahkan gue banyak nemu referensi tempat wisata dan tips traveling dari holamigo.id.

Okay, gue ngaku! Gue jadi pengen banget ke Kalimantan Barat juga gara-gara holamigo.id. Ada Festival Danau Sentarum tanggal 25-27 Oktober ini. Foto-foto cantik Danau Sentarum yang dimuat di artikel Festival Danau Sentarum pun membuat gue keracunan. Fix, gue harus pergi!

Thank you holamigo.id sudah banyak banget memberi referensi event keren dan banyak list wisata baru yang 'perlu' gue datengin. Hehehe

holamigo.id, halo teman travelingku!
Share:
Continue Reading →

Tuesday, October 15, 2019

HOBBY TRAVELLING OUTDOOR? KENAPA ENGGAK! ADA MEGA TRAVEL CARE | LIL P JOURNEY


Bali | Dok Pribadi
MEGA TRAVEL CARE - Sebagai pekerja kantoran yang dituntut dengan banyak deadline kerja dan seringnya juga mengalami beberapa tekanan kerja, pergi berlibur menjadi salah satu agenda wajib buat gue. Entah berlibur menikmati suasana kota atau mencari ketenangan di alam. Minat gue terhadap kopi sejak 2015 turut menuntun gue untuk berpetualang di alam. Waktu itu pilihan pertama untuk melepas penat adalah Kota Banyuwangi, kota yang terkenal dengan Kawah Ijen dengan api birunya yang hanya ada dua di dunia. Pukul 2 pagi mulai mendaki dan berhasil mencapai kawah sekitar pukul 4.30 pagi, sensasi pendakian itu masih bisa gue rasakan hingga saat ini. Selepas dari Kawah Ijen, gue berkeliling Kota Banyuwangi dengan sepeda motor. Serasa anak touring.

DOYAN NAIK PESAWAT DAN JADI ANAK TOURING DADAKAN

Suasana Badara yang Selalu Beda dan Bikin Kangen |  Dok Pribadi

Rasa kangen akan petualangan ala anak touring pun menuntun gue untuk berpetualang lagi. Kali ini Pulau 'Dewata' Bali menjadi pilihan. Setelah melakukan perjalanan dari Banjarmasin ke Surabaya dengan pesawat, perjalanan pun gue lanjutkan dengan Kereta Mutiara Timur Malam menuju Stasiun Karangasem Banyuwangi. Sampai pukul 5 pagi di Banyuwangi dan langsung ambil sepeda motor dipenyewaan, gue melanjutkan perjalanan ke Bali melalui penyeberangan Ketapang - Gilimanuk. Sensasi berlibur ke Bali kali ini pun serasa perjalanan transportasi lengkap : naik pesawat, kereta, kapal dan berkeliling dengan motor.

Ready for Touring! | Dok Pribadi
Ternyata liburan itu menimbulkan candu dan rindu. Tiga bulan paska perjalanan ke Bali, September 2017 gue mengajukan cuti kerja (lagi). Kali ini pulau Sulawesi menjadi sasaran perjalanan. Empat penerbangan gue booking untuk perjalanan kali ini. Diawali perjalanan keliling Kota Makassar, lalu ke esokan harinya melanjutkan penerbangan Makassar - Kendari untuk menikmati eksotisme perkampungan Suku Bajo yang berada di tengah lautan selama 3 hari lamanya. Puas berjemur dan menikmati sensasi menerjang hujan badai laut Indonesia Tengah, gue pun kembali ke Makassar dan akan langsung melanjutkan perjalanan ke Toraja dengan sleeping bus selama 8 jam.

Ritual Ma'nene' Toraja | Dok Pribadi

Siapa yang tak mengenal Toraja. Salah satu kota di Indonesia yang ditengah semua modernisasi tapi masih sangat kental menjaga adatnya dan budayanya. Sebut saja pesta kematian 'mahal' masyarakat Toraja yang bisa menelan biaya hingga ratusan bahkan milyaran rupiah 'Rambu Solo', atau ritual penggantian baju mayat 'Ma' Nene'. Selain wisata budaya, Toraja juga menawarkan banyak wisata alam yang menantang. Ditunjang dengan infrastruktur jalan yang memadai, berwisata di Toraja bisa nyaman dilakukan dengan sepeda motor. Jalan menanjak dan tikungan tajam memberikan sensasi tersendiri. Dan ternyata, Toraja tidak cukup hanya di kunjungi satu kali.
Singapore | Dok Pribadi
Sebagai seorang wanita normal yang suka berbelanja, gue juga perlu liburan ala anak kota yang suka nge-mall. Kali ini Singapore menjadi pilihan. Di awal tahun 2018, gue memutuskan solo trip ke Singapore. Perjalanan Banjarmasin - Jakarta, Jakarta - Singapore pun gue tempuh. Sedikit melelahkan memang, terlebih harus berganti terminal. Siapa yang tak suka Singapore. Negara mungil dengan lambang Singa ini memang surganya mereka yang hobby shopping dan menikmati berbagai teknologi buatan manusia, sebut saja Garden by the Bay yang begitu megah dan selalu ramai pengunjung. Transportasi di Singapore pun cukup mudah di pahami. MRT menjadi transportasi pilihan setiap kali gue ke Singapore.

Muda berkelana, tua bercerita. Sesimple itu gue pengen nikmatin hidup.
KEPINCUT KEINDAHAN ALAM TORAJA 
Kampung Ollon Toraja | Dok Pribadi
 Hi ini Putri dari Banjarmasin yang kemarin datang ke Toraja kan? Apa kabar? Agustus main ke Toraja lagi dong, ada ritual Ma' nene' yang hanya 3 tahun sekali loh." sapa salah satu teman yang tidak sengaja ketemu di perjalanan ke Toraja kemarin.

Agustus 2018 pun gue berangkat lagi ke Toraja. Image Solo traveller pun tersemat. Bisa dibilang perjalanan kali ini lebih nekad karena gue belum tau dimana lokasi Ma' Nene', ritual penggantian baju mayat. Sedikit horor memang. Dan ini real. Mayat yang menjadi mummy petinya dibuka dan bajunya digantikan dengan baju baru. Dan sepertinya gue mulai jatuh cinta dengan kota ini. Perjalanan jauh Banjarmasin-Makassar 1 jam dengan pesawat dan dilanjutkan perjalanan darat selama 8 jam dengan sleeping bus pun tidak menjadi hambatan. Terhitung hingga Oktober 2019, gue udah bolak-balik Toraja sebanyak 6 kali. Dan gue paling suka keliling Toraja, dimana secara topografi merupakan daerah pegunungan, menggunakan sepeda motor. Selain itu, alih-alih menginap di Rantepao, pusat kota Toraja Utara, gue lebih suka tinggal di rumah warga di pegunungan Sesean.

Tiga dari enam perjalanan gue ke Toraja, gue nikmati dengan motor trail. salah satunya saat gue pengen banget ke Kampung Ollon yang hanya bisa di tempuh dengan mobil yang biasa digunakan offroad atau motor trail karena berada dipegunungan Toraja dengan jalanan yang extream. Kamoung Ollon dijuluki sebagai Bukit Teletubbies Toraja dan mirip dengan pegunungan di Switzerland. 

Cukup nekad memang untuk ukuran seorang solo traveller perempuantapi suka berlibur outdoor dan mendatangi tempat-tempat yang jauh dengan medan jalan extream. Beberapa teman bahkan menegur untuk mengurangi hobby gue yang suka hilang dan tiba-tiba  sudah ada di luar kota, baru turun gunung atau tiba-toba di luar negeri. Wajar mereka khawatir, karena gue seringnya memang jalan sendiri ke tempat yang belum banyak di explore orang. Resiko kecelakaan mengintai sewaktu-waktu.

TRAVELLER HARUS SADAR PERLINDUNGAN DIRI
Sebelum Menerjang Laut Sulawesi | Dok Pribadi
Sudah hampir empat tahun gue menyukai travelling, terutama outdoor yang sangat riskan dengan kecelakaan. Setiap travelling gue selalu menggunakan pesawat yang tidak hanya beresiko kecalaan tapi juga seringnya mengalami keterlambatan. Selain itu, hobby touring dadakan pun juga punya resiko kecelakaan yang tinggi.

Sebagai seorang traveller yang sadar betul dengan keselamatan selama melakukan perjalanan dan risiko kecelakan, gue pun melindungi diri selain dengan pengetahuan tentang lokasi travelling gue juga dengan proteksi diri. Mega Insurance menjadi pilihan gue untuk perihal proteksi. 

Sejak awal 2019 Bank Mega sudah menjadi sahabat gue untuk urusan keuangan dan gue pun pengguna aktif kartu kredit Bank Mega. Banyaknya promo dan merchant  yang bekerja sama dengan Bank Mega, menjadi salah satu pertimbangan gue menggunakan kartu kredit Bank Mega. Bahkan ada diskon sampai 50% hotel di Bali yang telah bekerja sama dengan Bank Mega. 

Selain kemudahan yang diberikan oleh Bank Mega, kali ini Bank Mega melalui Mega Insurance mengeluarkan layanan proteksi untuk kalian hobby travelling, Mega Travel Care. Berkomitmen menjadi perusahaan asuransi terpercaya dengan layanan cepat dan nyaman, Mega Insurance fokus pada kenyamanan pelanggan.


Biarkan kaki kalian melangkah dengan tenang dan nyaman bersama kemudahan Mega Travel Care.


Kenapa sih harus Mega Travel Care? Karena salah satu manfaat dari Mega Travel Care adalah layanan ganti rugi akibat pembatalan perjalanan. Layanan Mega Travel Care ini tersedia untuk domestik dan internasional yang memberikan perlindangan dari kecelakaan seperti perawatan dan evakuasi medis, ketidak nyamanan selama perjalanan seperti kehilangan bagasi dan pembatalan oleh maskapai, serta jaminan perluasan seperti perlindungan isi rumah dari kebakaran saat kita bepergian. Lengkap banget kan.

Syarat untuk daftar Mega Travel Care ini pun mudah. Bagi kalian yang ingin traveling bersama keluarga, peserta Mega Travel Care yang berumur 45 hari sudah bisa didaftarkan sebagai peserta. Dan untuk yang berumur 71-80 tahun pun masih bisa daftar dan mendapat jaminan 75%. Dan jangan lupa untuk menyiapkan kartu identitas kalian sebelum mendaftar.
Siap Menerjang Badai di Laut Sulawesi | Dok Pribadi
Walau sudah terlindungi layanan Proteksi Diri dari Mega Insurance, sebagai traveller yang hobby outdoor, naik motor keliling kota orang dengan medan yang nano-nano (seringnya sih jalan terjal dan berbatu serta tikungan tajam dengan jurang pada sisi kanan/kirinya), menjelajah kebun kopi di pegunungan dan hobby naik kapal/perahu untuk kepulau kecil ditengah laut, tentunya gue sangat perlu melengkapi proteksi dengan Mega Travel Care. Biar gue bisa mejelajah alam dari Sabang hingga Merauke atau ke luar negeri sekalipun tanpa rasa khawatir. Dan bicara manfaat dari Mega Travel Care Jaminan Perluasan yang mencakup perlindungan isi rumah dari kebakaran, gue sangat tergiur. Terlebih dimusim kemarau seperti saat ini, Kota Banjarmasin mempunyai resiko kebakaran yang cukup tinggi. Sering terjadi kebakaran rumah kalau musim kemarau. Apalagu gue sering travelling saat musim kemarau, biar tidak terjebak hujan saat travelling. Dan karena tinggal sendiri, seringnya was-was kalau-kalau terjadi kebakaran. Tapi manfaat Mega Travel Care selain memproteksi diri tapi juga rumah saat LDR-an pas travelling bikin kita travelling lebih nyaman.

Jadi, untuk kalian yang hobby travelling mending langsung kepoin Mega Travel Care untuk mendapatkan berbagai manfaat proteksinya.

PS
Peluk dari jauh
Share:
Continue Reading →

Monday, October 14, 2019

CEKAJA : 5 TEMPAT WISATA ASIK DI JAKARTA SELATAN YANG REKOMENDED UNTUK AKHIR PEKAN

View Kota Jakarta |  Dok Pribadi
Cekaja.com | JAKARTA – Sebagai seorang travel blogger, DKI Jakarta merupakan kota yang pastinya tidak asing dan pernah disinggahi. Selain untuk jalan-jalan, DKI Jakarta juga merupakan kota shopping dan wisata. Salah satu kawasan di Jakarta yang identik sebagai kawasan perkantoran dan perumahan mewah ialah Jakarta Selatan. Satu dari lima kota administrasi DKI Jakarta ini memiliki tingkat pertumbuhan dan pembangunan yang terbilang pesat. Walau demikian, Jakarta Selatan tetap memiliki beberapa tempat wisata asik yang pastinya tidak melulu pusat perbelanjaan modern.
Mulai dari wisata alam, kuliner, sampai edukasi tersedia lengkap disana. Nah kalau saat ini kalian tinggal atau sedang mengunjungi Jakarta, maka beberapa tempat wisata asik di Jakarta Selatan ini sangat wajib kalian kunjungi saat akhir pekan nanti.
Wisata Asik di Jakarta Selatan yang Rekomended
1.       Kebun Binatang Ragunan 
Kebun Binatang Ragunan | Sumber Google

Kebun Binatang Ragunan merupakan kebun binatang tertua di Indonesia yang letaknya berada di Jalan Harsono No. 1, Pasar Minggu. Disini
kalian bisa melihat beragam satwa yang mana 90 persen diantaranya merupakan binatang asli Indonesia. Tak hanya itu saja, kebun binatang ragunan juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas menarik seperti taman perahu, rakit wisata, taman satwa anak serta fasilitas menarik lainnya.
Dengan harga tiket yang sangat terjangkau yakni kisaran Rp 5000 keatas, banyak penduduk setempat dan wisatawan memilih menghabiskan akhir pekannya ke Kebun Binatang Ragunan.
2.       Setu Babakan 
Setu Babakan | Sumber Google
Kalau kalian sedang berjalan-jalan ke daerah Srengseng Sawah, maka belum lengkap rasanya bila tidak berkunjung ke Setu Babakan. Danau yang luasnya mencapai 30 hektare ini memang sangat lekat dengan kebudayaan Betawi.
Kawasan ini juga kerap disebut kampung Betawi, dimana kalian bisa menyaksikan beragam pertunjukan menarik mulai dari pertunjukan tanjidor, tari topeng, lenong, hingga gambang kromong. Selain memanjakan mata dengan menonton pertunjukan, jangan lupa pula untuk mencicipi kuliner legendaris seperti kerak telor, soto Betawi, dan bir pletok.
Terakhir, kalau kalian tertarik untuk berkunjung ke Setu Babakan, maka kalian bisa datang diantara pukul 8 pagi hingga 6 sore. Jangan lupa ajak kerabat terdekat ya biar akhir pekanmu semakin mengasyikan.
3.       KidZania Pacific Place 
KidZania | Sumber Google
Berada di kawasan mall elite Pacific Place, KidZania adalah sebuah wahana edukasi yang dikhususkan untuk anak-anak berusia 2 hingga 16 tahun. Kawasan wisata yang didesain layaknya sebuah kota kecil ini menawarjan beragam wahana menarik untuk menjadi ahli profesi. Mulai dari menjadi kasir, dokter, perawat, polisi hingga koki lengkap tersedia di KidZania.
Selama berada di KidZania, pengunjung akan menggunakan mata uang Kidzos untuk melakukan transaksi di setiap wahana. Tujuannya agar anak-anak mampu memanfaatkan uang tersebut dengan sebaik mungkin.
4.       Museum Layang-layang
Museum Layang-layang | Sumber Google
 Museum layang-layang merupakan museum yang menyimpan lebih dari 600 koleksi layang-layang dari berbagai belahan dunia diantaranya Jepang, Vietnam, Tiongkok, dan Belanda.
Museum yang terletak di Jalan H. Kemang No 38, Pondok Labu ini memiliki beragam fasilitas menyenangkan yang tentunya menambah wawasan kalian. Mulai dari melukis dan membuat layang-layang, membatik, serta membuat kerajinan tangan dari gerabah bisa kalian cobai disana.
Untuk jam operasionalnya sendiri, Museum Layang-Layang buka dari pukul 09.00-16.00 WIB dengan harga tiket yang terjangkau senilai Rp 10 ribu per orang.
5. The Escape Hunt 
The Escape Hunt| Sumber Google
Tempat yang satu ini tentunya sudah tidak asing lagi bagi para pecinta serial Sherlock Holmes atau Edogawa Conan. Salah satu wisata asik di Jakarta Selatan ini bakal memberikan kalian pengalaman berbeda dari wisata lainnya. Disini kalian dituntut untuk memecahkan sebuah kasus dengan tiga tema berbeda dengan waktu 90 menit untuk menemukan siapa dalang dari kasus tersebut.
Pemilihan tema yang diberikan pun cukup menyenangkan dan menguras otak, ada Explosion in The Kitchen Room, Kidnpaping in The Study Room, dan terakhir Murder in The Bedroom. Apabila kalian merasa kasus yang diberikan sulit, kalian dapat meminta bantuan lewat Game Master yang tersedia dalam dua bahasa Indonesia dan Inggris untuk memberikan beberapa petunjuk tambahan. 
Nah itulah tadi beberapa tempat wisata menarik di Jakarta Selatan untuk akhir pekan kalian nanti. Jangan lupa bawa kerabat terdekat jika ingin mengunjungi salah satu dari 5 tempat wisata di atas ya. Untuk informasi lainnya mengenai wisata Jakarta bisa kalian baca pula Bingung Wisata di Jakarta? Cek Hal-hal yang Sering Terlupakan Soal Ibukota!.

PS
Peluk dari jauh
Share:
Continue Reading →

Wednesday, October 9, 2019

TORAJA ADVENTURE : TEMPAT WISATA ALAM DI TORAJA YANG HITS BANGET | LIL P JOURNEY

To'tombi Toraja | Dok Pribadi
LilPJourney.blogspot.com | TORAJA - Membericarakan tentang Toraja, kota Para Raja, seperti tak ada habisnya. Kata salah satu travel blogger Kak Matius dalam komentarnya di artikel gue tentang Upacara Adat Rampanan Kapa' Pernikahan Toraja bahwa setiap traveller akan menemukan jodohnya masing-masing pada satu tempat yang akan membuatnya bolak-balik ke tempat tersebut. Dan mungkin gue berjodoh dengan Toraja. Tidak hanya eksotisme adatnya yang membuat gue selalu takjub tapi juga keindahan alamnya yang bikin nagih untuk diexplore. Jika sebelumnya gue pernah menulis 5 Tempat Wisata Toraja yang Wajib Kamu Kunjungi dengan nuansa adatnya dan Rekomendasi Coffee Shop di Toraja, kali ini gue mau kasih list tempat liburan Toraja dengan eksotisme alam Toraja.

Oh iya ini beberapa event dan acara adat di Toraja bulan Oktober-Desember 2019 ini :
  1. Pango-pango Fest, The Sound of Nature. Sabtu, 26 Oktober 2019.
  2. Rambu Solo', lokasi Mengke'pe, Kel. Pa'paelean, Kec. Sanggalamgi, Toraja Utara 07-14 Oktober 2019
  3. Pasar Hutan Bambu To'kumilla Toraja
  4. Toraja Marathon, 30 November 2019
  5. Festival Hebat Setempat, 29 November - 1 Desember 2019

Sebelum membaca lebih lanjut tulisan gue, please simak kalimat di bawah ini.

Teruntuk kalian yang ingin mengunjungi Toraja atau bepergian ke alam : TOLONG JAGA SAMPAH KALIAN. Kalau susah mendapatkan tempat sampah, simpan dulu dalam tas, buang saat kalian menemukan tempat sampah. KARENA ALAM BUKAN TEMPAT SAMPAH!

1. KAMPUNG OLLON

Kampung Ollon Toraja | Dok Pribadi
Kampung Ollon atau Lembah Ollon merupakan wisata alam di Toraja yang sedang menjadi buah bibir. Banyak yang penasaran dengan Kampung Ollon yang bak replika perbukitan di New Zealand. Beralamat di Desa Buakayu, Kecamatan Bonggakaredeng, Kabupaten Tana Toraja, Kampung Ollon di juluki sebagai bukit Teletubbies Toraja yang bak Surga Tersembunyi Toraja.

Pak Lembang Buakayu Kampung Ollon Toraja | Dok Pribadi

Walaupun akses jalan menuju Kampung Ollon masih sangat sulit, karena baru dibuka sekitar 1 tahun terakhir, tapi toh tak menyurutkan minat para pelancong untuk datang ke mari. Bagi yang ingin kemari, sangat disarankan untuk tidak menggunakan motor matic dan mobil jenis city car seperti Avanza, karena sudah dipastikan kalian akan pulang di tengah jalan.


Lokasi :
Desa Buakayu, Kecamatan Bonggakaredeng, Kabupaten Tana Toraja
Tiket masuk  Kampung Ollon (harga dapat berubah tergantung kebijakan tempat wisata) :
5.000 IDR wisatawan lokal

2. NEGERI DI ATAS AWAN LO'LAI
Tongkonan Lempe Lo'lai Negeri di Atas Awan Toraja | Dok Pribadi

Saat pertama kali ke Toraja tahun 2017, salah satu tempat wisata yang gue incar itu Negeri Di Atas Awan Lo'lai Toraja. Yang bikin gue ngiler sama tempat ini adalah view Toraja berbalut awan dengan Tongkonan yang kokoh di antara hamparan sawah dan hutan.

Instagram Galery @abun_pasanggang


BACA JUGA : PENGANTAR PERJALANAN ISTANA RAPUNZEL LANDORUNDUN TORAJA
Penginapan Tongkonan Lempe Lo'lai | Dok Pribadi
Beberapa literasi gue cari : mendaki nih. Ternyata oh ternyata, nggak perlu mendaki kok. Dan disana sudah banyak penginapan. Harganya pun terjangkau mulai dari 150k IDR kalian sudah bisa menginap di Negeri di Atas Awan Lo'lai. Tapi bagi kalian yang pengen ngecamp disini bisa kok, tinggal bawa tenda aja.
Sejak tahun 2016 destinasi wisata yang berada sekitar 11 kilometer dari Ibukota Kabupaten Toraja Utara, Rantepao ini selalu ramai pengunjung.
Berada di ketinggian 1300 mdpl membuat Lo'lai dijuluki Negeri di Atas Awan. Akses jalan ke Lo'lai ini sangat mulus dan bisa dilalui dengan berbagai macam kendaraan, termasuk matic dan vespa. Tapi tetap hati-hati ya, karena jalannya meliuk-liuk, tak sekejam tikungan temen tapi lebih bahaya.
Sewa kamar tapi masih masang tenda? itulah gue hahaha | Dok Pribadi
Ada tiga tempat wisata disana yaitu To'tombi, Tongkonan Lempe dan Pongtarra. Tiga tempat ini mempunyai spot foto instagrambel bagi kalian yang hobby fotografi.

Lokasi :
Lo'lai, Kapala Pitu, Rantepao, Toraja Utara
Tiket Masuk Negeri di Atas Awan Lo'lai Toraja :
15.000 IDR/objek wisata untuk wisatawan lokal.


3. LO'KO MATA
 
Lo'ko Mata Toraja dengan deretan saringan atau usungan jenazah | Dok Pribadi


Salah satu tempat yang nggak pernah skip gue kunjungi ketika di Toraja selain Jak Koffie adalah Lo'ko Mata. Sebuah makam batu kuno yang berdiri kokoh di pinggir jalan Kecamatan Sesean Suloara. Pada kunjungan Maret 2019 ke Toraja, bahkan setiap pagi gue selalu ke Lo'ko mata : mengejar awan. Padahal sampai sana cuma pengen rebahan di batu besar sambil nikmatin matahari pagi dan udara pagi lalu menikmati air dari Gunung  Sesean yang mengalir di celah bebatuan. SEGER. Kalau beruntung, kalian juga bisa melihat hamparan awan di seberang Lo'ko mata.
Hamparan awan Lo'ko mata Toraja | Dok Pribadi

Tempat nongkrong setiap ke Lo'ko mata saat pagi hari | Dok Pribadi
Di Lo'ko mata yang merupakan salah satu kuburan batu terbesar di Toraja banyak berjejer sarigan atau usungan jenazah yang berbentuk rumah Tongkonan. Seperti kuburan batu di Toraja lainnya, ada banyak 'pintu' liang kubur dengan berbagai ukiran dimana setiap lubang berisi lebih dari satu jenazah dan masih mempunyai hubungan keluarga.
Kebun Kopi Lo'ko mata | Dok Pribadi

Disebelah kiri dari Lo'ko mata ada jalan setapak untuk menuju ke batu besar tempat gue bisa berjemur (cieilah berjemur). Nah gue baru tau juga kalau disebelahnya ada perkebunan kopi milik warga. Alhasil gue pun nekat menelusuri kebun kopi tersebut untuk mengambil video. Eh tragisnya : naik gampang, turun bingung. Haha

Lokasi :
Tonga Riu, Sesean Suloara, Toraja Utara
Tiket Masuk Lo'ko Mata :
5.000 IDR/objek wisata untuk wisatawan lokal.

4. AGROWISATA PANGO-PANGO
Agrowisata Pango-pango | Dok Pribadi

Salah satu jenis kopi Toraja yang sedang naik daun saat ini adalah Pango-pango. Tak hanya dikenal sebagai penghasil kopi dengan kualitas rasa yang khas dan memiliki taste note "coklat", ternyata Pango-pango juga merupakan salah satu objek agrowisata yang harus kalian kunjungi saat berwisata ke Toraja. 

Agrowisata Pango-pango | Dok Pribadi
Berada di Kelurahan Pasang, Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Agrowisata Pango-pango merupakan Negeri di Atas Awan-nya Tana Toraja. Akses jalan ke Agrowisata Pango-pango yang berada diketinggian 1600 mdpl ini pun lebih menantang dibandingkan Lo'lai dengan sedikit dibumbui jalan berbatu dan beberapa tanjakan curam. Jangan khawatir, meski jalannya lebih extreme dari Lo'lai, tapi pengguna motor matic masih bisa menikmati Agrowisata Pango-pango. Hanya saja, selalu pastikan kondisi motor, bahan bakar dan rem dalam kondisi prima.
Agrowisata Pango-pango | Dok Pribadi
Dikeliling pohon pinus, menjadikan Agrowisata Pango-pango tempat yang kece buat kalian yang suka hunting foto. Beberapa wahana outbound seperti tangga dari tali dan flying fox pun hadir di Agrowisata Pango-pango ini. Setelah 6 kali ke Toraja, akhirnya minggu ini gue bisa mampir ke Agrowisata Pango-pango ini. Jam 1 siang setelah packing untuk pulang ke Banjarmasin, si mas tiba-tiba ngajakin : kamu belum pernah ke Pango-pango kan? Kita kesana aja ya sebelum kamu pulang. Perjalanan dari Makale ke Pango-pango memakan waktu kurang lebih 30 menit. Sepanjang jalan gue cuma bilang : ah kebun kopi, mau beli kopi, mau ketemu petani kopi dan aku juga mau pop mie. Hahaha.
Seandainya kami datang lebih pagi, jam 5 subuh, pasti dapat view Negeri di Atas Awan nya Tana Toraja. Dari 1600 mdpl, landscape kota Toraja terhampar indah. Dan untuk kesekian kalinya gue jatuh cinta. 

Lokasi :
Tonga Riu, Sesean Suloara, Toraja Utara
Tiket Masuk Agrowisata Pango-pango : 
10.000 IDR/objek wisata untuk wisatawan lokal

Dan itulah 5 tempat wisata yang dapat kalian kunjungi di Toraja. Tertarik berkunjung ke Toraja dan mengenal lebih dalam tentang sejarah Toraja? Tunggu apalagi, yuk rencanakan liburan ke Toraja kalian bersama keluarga.

Taraaaa! Di anterin jalan lagi
Share:
Continue Reading →

Wednesday, September 25, 2019

JURNAL KOPI : RENE COFFEE, KAMI TUMBUH BERSAMA PELANGGAN | LIL P JOURNEY


Rene Coffee
Lilpjourney.com | Banjarbaru - Dunia kopi, terutama kopi specialty, tak ubahnya seperti tempat orang-orang dengan idealisme kopinya berkreasi. Seperti coffee shop yang kali ini gue kunjungi. Sejak pertama kali datang, I felt home. Letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Banjarbaru, Rene Coffee menghadirkan suasana ngopi rumahan bak di negeri Sakura.

Sebenarnya bukan kami yang memberi cap : coffee shop berkonsep Jepang, tapi malah dari pelanggan kami sendiri yang melabeli Rene Coffee itu berkonsep Jepang." tutur Bang Adam Maulana, salah satu owner Rene Coffee.
Baca Juga : Jurnal Kopi  Lil P Journey

BERAWAL DARI ANGKRINGAN

 

Normalnya, untuk seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan itu istirahat total dan rela disebut "sakit". But, gue nggak mau. Hahaha. Selalu ada alasan untuk jalan-jalan : bosen di rumah, udah semingguan di rumah aja. Padahal, dari seminggu kecelakaan cuma satu hari aja gue di rumah. Dasar aku. Lalu, sampailah malam itu gue ke sebuah coffee shop di Kota Banjarbaru. By the way, ini first time gue ngereview coffee shop di Banjarbaru. Dan gue akui, coffee shop di Banjarbaru juara banget kalau masalah konsep. Kreatif.

Sejak awal pengennya memang konsep kayu. Tapi sebelumnya kami observasi dulu, ada nggak sih yang bikin coffee shop dengan konsep kayu dan design nya seperti apa kalau sudah ada. Karena kami harus menampilkan sesuatu yang berbeda dan fresh." tutur Bang Adam.

Mempunyai halaman parkir yang cukup luas, Rene Coffee berhasil menampilkan coffee shop dengan aroma : rumah. Berlokasi di Jalan Mistar Cokrokusumo (samping Hotel Ratu Elok), dari depan coffee shop ini tampak sederhana dengan konstruksi kayu dan dikelilingi bambu pada sisi kirinya. Aroma kopi pun menyeruak saat pintu masuk dibuka, surga. Konsisten dengan konsep kayu, pada bagian lantai Rene Coffee juga menggunakan kayu dan dindingnya dihiasi dengan botol-botol kaca yang tertata rapi. Mesin espresso Simonelli pun duduk cantik di meja bar beserta alat-alat tempur barista untuk menyeduh kopi specialty-nya. Selain out door pada bagian depan coffee shopnya, Rene Coffee juga punya area out door di belakang. Pada out door dibelakang ini, pengunjung akan benar-benar merasa banget kalau : ngopi di belakang rumah.

Out door belakang Rene Coffee sore itu | Dok Pribadi


Didirikan oleh empat orang penikmat kopi, Bang Hafid, Bang Fajar, Bang Adam dan Bang Rizki, siapa sangka dibalik image "coffee shop ala Jepang", Rene Coffee menyimpan cerita unik diawal karirnya.

Kami dulu angkringan loh dan kamipun nggak menyangka bisa menjadi coffee shop seperti sekarang. Kalau ditanya arti Rene, penafsiran sederhananya sih (translate dari Bahasa Jawa) 'sini', tapi kalau arti agak kompleksnya Rene itu merupakan nama seorang filsuf 'René Descartes' yang terkenal dengan kutipannya : aku berpikir, maka aku ada. " kenang Bang Fajar.

Baca Juga : Coffee Santai Baraka Enrekang 

Bar Rene Coffee | Dok Pribadi

Ya, coffee shop yang sudah berdiri sejak tahun 2016 dan resmi grand opening Mei 2018 ini pada awalnya hanya sebuah angkringan. Seiring berjalannya waktu dan minat terhadap dunia kopi, akhirnya mengantarkan Rene bertransformasi menjadi coffee shop. Mempunyai prinsip : tumbuh bersama pelanggan, Rene Coffee tak hanya ingin menyediakan kopi yang berkualitas, tapi juga mengedepankan interaksi dengan pelanggan.

Kami bukan hanya menjual kopi, tapi juga interaksi dengan pelanggan. Agar mereka betah dan datang lagi ke Rene Coffee. Karena interaksi inilah, kami yang ada di bar jadi hafal ketika si A datang misalnya : mau pesan kaya biasa atau mau cobain yang lain nih?" tutur Bang Fajar, barista sekaligus owner dari Rene Coffee.
KOPI DAN IDENTITAS

Bang Fajar nyeduh kopi | Dok Pribadi

Pada dasarnya menu kopi itu kalau bukan espresso base ya manual brew. Dari espresso bisa berkembang menjadi cafe latte dan cappucino dengan latte art cantik atau menjadi es kopi susu kekinian yang seger diseruput saat musim kemarau seperti sekarang. Manual brew pun menjadi tempat barista mengasah ideologi dan ketajaman indranya untuk menyediakan kopi yang bukan hanya tentang hitam dan pahit kaya orang habis putus. Jadi, pada dasarnya setiap coffee shop punya tuntutan untuk menciptakan signature menu-nya sendiri.

Baca Juga : Perbedaan Espresso, Cafe Latte dan Cappucino

Sebenarnya kami berempat berawal dari orang-orang penyuka kopi sampai akhirnya kami ingin punya kedai kopi sendiri yang punya identitas. Identitas ini artinya menu yang kami sajikan, pelayanan yang kami berikan pada pelanggan kami dan tentunya identitas "kami" yang lebih ke personal branding sih kalau yang terakhir ini." tutur Bang Adam.
Roast beans dari Rene Coffee | Dok Pribadi

Sebagai konsistensi dan wujud dari pembentukan identitas yang Rene Coffee ingin wujudkan, Rene Coffee tak hanya menyeduhkan kopi, tapi juga punya micro roastery sendiri dengan label JR Coffee. Bahkan uniknya, sebelum mengadopsi Simonelli sebagai partner di bar, terlebih dahulu Rene Coffee membeli mesin roasting.

Kalau ditanya nekad, ya nekad banget lah. Beli mesin roasting dulu baru mesin espresso. Hahaha. Tapi kami punya alasan tersendiri kenapa memilih membeli mesin roasting terlebih dahulu. Jadi, untuk mempertahankan kualitas kopi, kami memilih untuk membeli kopi (green beans) langsung dari petani kopi dan memprosesnya sendiri. Karena walaupun berasal dari green beans yang sama, tapi bisa menciptakan rasa yang berbeda. Akhirnya cerita kopinya pun berbeda. Dari memproses kopi sendiri, kamipun banyak belajar dan akhirnya bisa memberikan informasi secara lebih detail ke pelanggan kami." tutur Bang Adam.
Baca Juga : Mengenal Proses Paska Panen Kopi

Tenunnya bikin kangen Toraja | Dok Pribadi

Setiap coffee shop pasti punya standar operasionalnya sendiri. Seperti Rene Coffee yang punya standar menyediakan tiga jenis beans yang berbeda untuk manual brew, baik dari jenis beansnya ataupun karakter rasanya.

Karena setiap pengunjung punya selera kopiya sendiri, jadi kami menyediakan minimal tiga jenis roast beans dengan karakter rasa yang berbeda. Tapi pada dasarnya Rene Coffee itu kopi santai, kalau ada pengunjung yang suka body silahkan. Selain itu, kami juga konsepnya open bar sih. Kalau ada yang ingin seduh kopi sendiri kami persilahkan." tutur Bang Hafid sambil menyeduhkan kopi di meja bar.
BUKAN HANYA KOPI
Cafe latte Rene Coffee | Dok Pribadi

Puas mengusir kantuk perjalanan Banjarmasin-Banjarbaru dengan single origin Pulu-pulu Rene Coffee dan secangkir Cafe Latte, perutpun mulai berontak untuk diisi dengan kalori dan gula. Menyelesaikan deadline video, tulisan dan design nggak cuma perlu asupan cafein ternyata. Hahaha.

Bang aku laper, ada cemilan apa aja Rene Coffee? Yang signature nya ya." tanya gue saat ke dua kali ke Rene Coffee.
Cobain Curros Rene Coffee. Anjur Bang Fajar saat itu. Selang 15 menit, curros yang jadi cemilan signature di Rene Coffee pun tersaji lengkap dengan coklat dan ice cream. Yummy! Honestly, gue bukan penikmat jajanan manis, tapi curros di Rene Coffee ini bukan cuma manis tapi juga gurih! Must try banget kalau kalian datang ke Rene Coffee. Nah temennya curros itu yang enak Es Kopi Senja atau Teh Kerampu yang seger banget.

Kerja sambil ngopi di Rene Coffee | Dok Pribadi
Teh Kerampu Rene Coffee ini recomended banget untuk kalian yang nggak doyan kopi. Kata temen gue yang merekomendasiin Rene Coffee ke gue sih, Teh Kerampu Rene Coffee ini paling juara dari tempat lain. Oh iya selain itu, sebagai wujud nostalgia pada "angkringan" yang dibalut dengan sentuhan cafe, menu rice bowl 'Japanese Curry' dengan rempah khas Indonesia berpadu Jepang pun sudah bisa diorder. Mungkin lain kali gue akan coba saat kesini lagi. Sepulang dari Toraja bulan depan mungkin?

TUMBUH BERSAMA PELANGGAN 

Bang Fajar, kok nggak ada panda di bambunya? | Dok Pribadi


Industri kopi Banjarbaru dan Banjarmasin sangatlah berbeda. Dari mata seorang awam seperti gue ya. Konsep coffee shop di dua kota yang walaupun tak terlampau jauh jaraknya ini juga sangat berbeda. Kalau di Banjarmasin sempat berhembus isu perang mesin, menurut gue Banjarbaru punya perang 'konsep'. Mungkin karena Banjarbaru merupakan kota pelajar, dimana banyak anak-anak muda yang perlu tempat fresh untuk nongkrong dan mencipta ide-ide kreatif. Rene Coffee merupakan salah satu coffee shop yang sangat-sangat gue rekomendasiin untuk kalian.

Masalah konsep, fresh banget lah ya. Menu? Signaturenya bener-bener bikin gue bilang : cuma ada di Rene Coffee aja nih. Apalagi saat gue sadar selain open bar, mereka juga open kitchen loh. Kitchen yang biasanya tersembunyi, mereka bikin santai dan pengunjung bisa melihat proses pembuatan pesanan makanan mereka. Tentunya sisi positif dari open kitchen ini selain menegaskan konsep : coffee shop rumahan, tapi juga menjamin kualitas makanan kita. Karena secara nggak langsung koki akan terdoktrin untuk berhati-hati ketika memasak : ada yang nonton, ada yang ngeliatin. Hahaha.

Oh iya, bagi kalian yang punya komunitas dan mau ngumpul bareng, bisa banget di Rene Coffee ya. Bisa menghubungi nomor 081254955021 untuk booking dan informasi lainnya.

Enam jam di Rene Coffee, berbincang dengan Bang fajar, Bang Adam dan Bang Hafid, gue mengaamiini penuturan mereka, bahwa Rene Coffee bukan hanya coffee shop, bukan hanya kopi, bukan hanya tempat kerja freelance, tapi Rene Coffee benar-benar tumbuh bersama pelanggannya, menjawab kebutuhan pelanggannya, mengedukasi dan berbagi tentang cerita kopi. Bahkan kata Bang Adam, Rene Coffee di design oleh pelanggan mereka. Keren bukan?

Karena sebuah coffee shop akan berkesan ketika di dalamnya tidak hanya bercerita tentang rasa kopi tapi juga sentuhan manusia dengan manusi, interaksi.
By the way, cerita Rene Coffee masih bersambung ya : Kenalan dengan micro roastery JR Coffee.

PS
Peluk dari jauh

RENE COFFEE 10 AM - 11 PM

Instagram : @renecoffeeofficial
Signature Menu :
- Kopi Senja
- Rice Bowl : Japanese Curry
- Teh Kerampu

Share:
Continue Reading →

Monday, August 26, 2019

MATA ANGIN : PULAU RHUN, BENANG MERAH MANHATTAN DI INDONESIA | LIL P JOURNEY

Pulau Rhun di Peta Indonesia | Google Maps

Lilpjourney.com | Mata Angin - Apa yang terbesit di kepala kalian saat nama Pulau R(h)un diucapkan? Asing? Dimana itu? Indonesiakah? Luar negerikah? Mungkin sebagian besar dari kita masih asing dengan nama salah satu pulau terkecil yang ada di Kepulauan Banda. Pulau Run memiliki panjang 3 km dan lebar kurang dari 1 km (sumber : wikipedia) ini secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah.

INFORMASI ADALAH HARTA, TUJUAN ADALAH MATA ANGIN

Tahun 2020 sudah gue noted sebagai tahun sakral. Dimana ada misi menjelajah Indonesia bagian timur yang sebelumnya pernah tertunda. Timur memang memikat, seperti matahari terbit atau lebih keren ketika disebut "sunrise" yang banyak dinanti orang (bahkan) sampai rela mendaki gunung atau berlari di subuh hari ke arah pantai. Salah satu pulau di timur yang akan menjadi tujuan gue di Ekspedisi Indonesia Timur adalah Pulau R(h)un. Kalau kalian pernah mendengar Band Banda Neira, mungkin belum banyak yang tau bahwa Banda Neira adalah nama salah satu pulau di Kepulauan Bangka. Kelak akan di bahas di artikel terpisah. Tak jauh dari Pulau Banda Neira, ada Pulau Run.

Perkenalan dengan Pulau Run dimulai saat explore Instagram mengantarkan gue pada sebuah foto dengan tulisan "Pulau Indonesia yang Ditukar dengan Manhattan". Disebutlah Pulau Rhun atau Pulau Run dalam caption foto tersebut. Nama pulau yang 'asing' di telinga gue, padahal pulau ini bagian dari NKRI dan mempunyai sejarah besar. Ya, sejarah. Entah sejak kapan jejak sejarah bangsa asing yang berburu kekayaan di Indonesia sangat menarik untuk gue telusuri. Mungkin karena gue yang percaya bahwah banyak sejarah yang tersamar dan sengaja dirubah untuk sebuah kepentingan, atau karena gue sendiri menyukai bangunan benteng-benteng kuno peninggalan bangsa Eropa yang punya arsitektur unik.

Pulau Run | Google Maps

Sekitar abad ke-16 bangsa asing berlomba-lomba datang ke Indonesia untuk berdagang dan mencari rempah. Saat itu buah pala—rempah yang berguna tidak hanya untuk bumbu masakan tapi juga diyakini sebagai obat berbagai penyakit seperti wabah pes—menjadi primadona. Tak main-main, harga pala saat itu lebih mahal dari pada emas. Kepulauan Banda yang merupakan penghasil pala telah memikat bangsa asing seperti Arab, Cina, India dan Eropa untuk datang. Hingga akhirnya, Belanda melalui perusahaan VOC-nya melakukan monopoli. Tak diterima oleh warga setempat, Belanda pun melakukan pembantaian terhadap masyarakat Banda asli. Bagi Belanda, apapun akan dilakukan untuk pala, termasuk melawan sekutu sendiri, Inggris. Tahun 1652-1654, Belanda dan Inggris mati-matian berperang menguasai perdagangan dunia. Inggris pun membangun strategi untuk menguasai Pulau Run, penghasil pala terbaik. Saat itu pulau-pulau besar di Kepulauan Bangka seperti Banda Neiran dan Lontor telah dikuasai oleh Belanda dan di jaga ketat dengan 12 benteng yang berdiri kokoh. Wow 12 benteng! Menandakan pentingnya Banda untuk Belanda saat itu.
MANHATTAN  X PULAU RHUN | KUMPARAN

Tahun 1652-1654, perang pertama dilakukan dan tahun 1665 perang kedua dimulai. Hingga akhirnya pada 31 Juli 1667, Traktat Breda dikeluarkan sebagai solusi damai. Salah satu isi dari Traktat Breda adalah Inggris harus mengakhiri kekuasaan mereka di Pulau Run dan menyerahkan kepada Belanda. Sebagai gantinya, Belanda menyerahkan Manhattan yang dulu bernama New Amsterdam ke Inggris. Isi traktat lainnya adalah tentang pengaturan perdagangan.

SEJARAH BESAR BELUM TENTU BERMASA DEPAN SAMA

Sudah 3,5 abad berlalu, Manhattan kini berkembang menjadi kota bisnis terbesar di dunia. Sedangkan kehidupan Pulau Run berjalan sangat pelan hingga sejarahnya tak seharum wangi pala saat itu. Hampir terlupakan, bahkan di negaranya sendiri. Padahal pulau mungil ini telah merubah sejarah dunia. Nama besar Pulau Run semakin merosot di tangan Belanda. Pulau yang saat ini dihuni sekitar 2000 jiwa ini pun seakan terlupakan. Hal ini tak lain karena Inggris sempat memindahkan pohon-pohon pala ke sejumlah negara kekuasaannya saat itu seperti Sri Lanka, Singapura dan Grenada di Kepulauan Karibia. Bahkan saat ini Grenada menjadi penghasil pala terbesar di dunia. Setelah Belanda memusnahkan pohon-pohon pala di Pulau Run, mata pencaharian penduduk disini berubah. 70 persen penduduk Pulau Run saat ini bermata pencaharian sebagai nelayan, sisanya petani rempah.

Pesona sejarah pulau ini yang terpapar diatas akhirnya menjadi alasan terkuat untuk memasukan pulau ini dalam list wisata Ekspedisi Indonesia Timur. Membayangkan pulau di timur dengan eksotisme lautnya yang di atas tanahnya berdiri kokoh benteng-benteng sebagai penanda nyata jejak sejarah. Ah, semakin diri ini ingin lakas bertandang ke pulau ini.

Dirangkum dari berbagai sumber.
Share:
Continue Reading →

Thursday, August 22, 2019

JURNAL KOPI : COFFEE SANTAI BARAKA HINGGA JELAJAH SINGKAT KEBUN KOPI BONE-BONE | LIL P JOURNEY

Bang Jafar dan Petani Kopi di Perkebunan kopi | Dok pribadi

 

Lilpjourney.com | Enrekang - Menjelajah negara dengan berbagai macam budaya seperti Indonesia memang sesuatu hal yang menarik. Kekayaan kuliner yang beraneka ragam juga menjadi salah satu  daya tarik tersendiri. Seperti kopi, yang entah bisa dikategorikan sebagai kuliner atau bukan, tapi mampu menyatukan tamu dengan tuan rumah dalam berbagai topik pembahasan. Dan kali ini, Jurnal Kopi dalam perjalanan 3 jam dari kota Makale menemukan sebuah kedai kopi unik yang menggugah untuk dikunjungi lagi. Coffee Santai Baraka.


"Kalau jalan ke Toraja, mampir ke Enrekang juga dong sekali-kali, incipin kopi kami" - tulis admin instagram @coffee_santai di direct messages.

TORAJA, MINGGAT DARI KANTOR
Pasar Hutan Bambu To'kumila Toraja | Dok pribadi

Sejak 2017 bisa dibilang Toraja seperti kampung halaman, dimana ada orang-orang yang selalu nungguin gue pulang. Terhitung sampai saat ini gue sudah lima kali ke Toraja. Terpikat dengan adatnya, kehidupan masyarakatnya, kopinya dan juga kamu. Sampai saat ini gue masih terus menggali tentang Toraja yang menurut gue masih banyak rahasianya.

Alasan kembali bulan Juni 2019 ini adalah Grand Opening Pasar Hutan Bambu To'kumila Toraja. Salah satu wisata berwawasan lingkungan yang menarik untuk dikunjungi karena selain tempat wisata, tapi juga tempat pengenalan kesenian Toraja. Baca selengkapnya : Grand Launching Pasar Hutan Bambu To'kumila Toraja.

Setelah istirahat, makan siang bareng mama, minum secangkir kopi, istirahat di Tongkonan Kale Landorundun, jalan-jalan di sawah dan kebun kopi, dikejar-kejar anjing karena gue pendatang (padahal kemaren pas bulan Maret udah jinak, tapi mereka nggak gigit kok) dan menikmati syahdunya rintik hujan. Pukul 8 malam si mas (namanya nggak boleh di publikasi, takut kalau ketemu traveller bawel like me hahaha) sudah sampai di Tongkonan Kale Landorundun dan lagi menikmati secangkir kopi sambil ngobrol sama mama. Rencananya malam ini gue menginap di Makale. Berat awalnya ke Toraja nggak nginap di rumah mama, tapi masih ada tujuan lain : perkebunan kopi Enrekang. Maaf mama. Sampai ketemu Desember ya.

MAKALE, SABTU 22 JUNI 2019

Kopi hasil roasing kedai Coffee Santai Baraka | Dok pribadi
 Halo mba Putri, gimana? Apakah jadi mampir ke Enrekang? Nanti kita ke kebun kopi dan ke desa tanpa rokok kalau mba Putri jadi kemari - isi direct messages instagram dari @coffee_santai 
Setelah mengusir kantuk dan perdebatan kapan pulang ke Banjarmasin karena panggilan kerja mendadak, yang akhirnya berakhir dengan : nggak ada tiket pesawat, akhirnya kami, gue dan si mas, pergi ke Baraka. Lumayan jauh memang kalau dari Makale, kurang lebih 3 jam. Berangkat jam 12 siang sampai jam 3 Sore.
Dua jam perjalanan, dan kami mulai masuk ke perkebunan sayur di Enrekang. Ditengah gue yang lagi asik menikmati tebing-tebing yang membingkai kokoh Enrekang, tiba-tiba si mas nyeletuk : masa di tempat kaya gini ada kedai kopi sih? Kedai kopinya kaya gimana sih? Mati gue. Bisa bad mood si mas, secara kami jalan jauh banget. Hahaha. Ditambah kami harus mondar mandir nyariin gang ke kedai kopi ini. Tempatnya memang tersembunyi. Sejujurnya, sewaktu di jalan gue baru mikir : kenapa nggak stalking instagramnya dulu sih.
Kedai Coffee Santai Baraka | Dok Pribadi
Ada yang menarik saat kami mulai masuk gang ke Kedai Coffee Santai Baraka. Sebuah kedai kopi lain di pojok jalan yang baristanya adalah emak-emak pake daster. Serius! Kedai yang memanfaatkan teras dengan ukuran 2 x 3 meter ini punya dripper V60 dan grinder dan dijaga oleh emak-emak, yang nongkrong disitu juga emak-emak. Padahal kalau di deket rumah gue warung kopi kaya gini biasanya menyedikan gorengan dan kopi sobek. Eh gue nggak mempermasalahkan kopi sobeknya ya (peluk pecinta kopi sobek, kita tetep saudara kok). Sayangnya si mas yang udah mulai bad mood masa bodo dengan kedai itu dan fokus cari kedai Coffee Santai Baraka.
Rak Produk Kopi Kedai Coffee Santai Baraka | Dok Pribadi
Sampai di kedai Coffee Santai Baraka, ada bang Jafar yang sudah nungguin kami datang. Awalnya gue dan si mas hanya : oh. Seperti kedai kopi lokal pada umumnya : bar minimalis, kursi kayu, papan tulis besar dengan mural "Coffee Santai" dan rak berisi berbagai produk kopi. Tunggu, rak berisi berbagai produk kopi? Ya! Ada green beans dengan dua jenis proses semiwash dan fullwash, beberapa jenis beans yang sudah di roasting serta dripper kopi seperti V60 dan vietnam drip. Bisa dibilang untuk ukuran kedai lokal, mereka punya produk kopi yang recommended untuk kalian adopsi ke bar kopi kalian.
Bar Kedai Coffee Santai Baraka | Dok Pribadi

Tapi dibandingkan koleksi kopinya, sosok Bang Jafar ternyata lebih menarik. Hihihi. Salah satu sisi 'jelek' gue ketika ke kedai orang itu suka kepo dan foto ini itu dengan dalih "pelengkap tulisan di blog". To be honest, gue nggak menyangka dikedai sesederhana ini ada sosok pemuda seperti bang Jafar. Pengetahuan dia tentang kopi luas banget. Terutama kopi di Enrekang. Obrolan kami dimulai setelah segelas kopi Enrekang Nating V60 pun tersaji. Ya kopi adalah bahasa universal yang selalu menjadi pengakrab setiap pertemuan.

Selera kopi warga disini memang yang bodynya tebal - tutur bang Jafar.
Kedai sudah buka sejak 2016 ini walaupun tempatnya "tersembunyi" tapi cukup ramai. Pesanan kopi silih berganti saat itu, walaupun di kedai hanya ada gue dan si mas. Lah gimana ramai? Ada yang singgah untuk memesan beans, ada yang ambil green beans dan ada pula yang memesan satu teko besar (mungkin isi 1,5 liter) kopi lengkap dengan gelas untuk di antar ke rumah
Kopi hasil roasing kedai Coffee Santai Baraka | Dok pribadi
Kedai kopi sederhana ini punya atmosfernya sendiri. Percakapan tentang kopi memang nggak pernah membosankan. Beda orang beda pola pikir dan beda pengetahuan. Dimulai dengan proses kopi paska panen sampai seduhan kopi dan budaya kopi masyarakat khususnya disekitar kedai Coffee Santai Baraka, membuat 2 jam waktu berjalan tanpa terasa. Bagi kalian penikmat kopi kalian bisa pesan secangkir kopi entah V60 atau kopi yang biasa dinikmati warga disini, beans untuk diseduh di rumah atau green beans pun tersedia disini. Terserah kalian mau pesan yang mana untuk dinikmati.

TENTANG KOPI, DARI BIASA HINGGA CANDU

Natural process | Dok pribadi
Berawal dari kebiasaan yang sudah ada sejak dulu : suka minum kopi, akhirnya terbiasa dan kopi itu bukan hanya seduhan untuk pengusir kantuk, tapi kopi adalah budaya - tutur bang Jafar
Pembahasan tentang kopi memang tak pernah ada habisnya. Saat Jak Koffie di Toraja selalu mengantarkan pada rasa rindu dan seduhan nasionalismenya, Coffee Santai Baraka mengantar gue pada percakapan tentang berbagai ilmu proses kopi. Membedah kopi dari cherry-nya, bagaimana memproses wine coffee dan mengunjungi kebun kopi.

Pukul 4.30 setelah Ashar, bang Jafar ngajakin kami ke Desa Bone-bone. Desa yang "mengharamkan" rokok. Sedikit berlebihan ya kalimatnya. Tapi serius, di Desa Bone-bone ini sejak tahun 2000 sudah menerapkan peraturan pelarangan merokok di desa mereka. Alasan desa yang dihuni oleh lebih 800 jiwa ini menerapkan larangan merokok adalah kesehatan dan ekonomi. Menurut warga disini, merokok adalah penyebab kemiskinan. Boleh nggak gue membenarkan asumsi mereka? Pernah lihat usaha seseorang berhenti merokok dan menabung uang rokoknya yang dalam satu bulan ternyata bisa mencapai 2 juta? Bayangkan saja kalau uang itu ditabung saja.

Akses jalan mulus kok | Dok pribadi
Jarak dari Coffee Santai Baraka ke Desa Bone-bone ternyata lumayan jauh. Hehehe. Tapi semua terbayar saat diperjalanan mata kami dimanjakan dengan hentangan sawah hijau yang benar-benar cantik. Sampai sekarang, fotonya masih sayang untuk di upload. Hihihi. Si mas yang orang Toraja aja terpukau juga sama pemandangannya. Apalagi saat kabut mulai turun menyelimuti pohon-pohon digunung, membuat kami ingin berlama-lama disini. Ini juga kali pertama si mas datang kemari. 

Ditengah-tengah gue dan si mas yang lagi terpesona dengan pemandangan cantik di perjalanan ke Desa Bone-bone, bang Jafar cerita kalau jenis padi yang ditanam di kawasan ini nggak bisa di tanam di tempat lain. Rasa dan aromanya akan berbeda, atau malah bisa gagal panen. Unik ya.

Sayangnya, dipertengahan jalan, gue harus pisah sama si mas karena motor maticnya sudah nggak memungkinkan untuk di pakai boncengan. Kemudian gue nebeng sama bang Jafar untuk melanjutkan perjalanan. Sulawesi emang nggak lengkap kalau nggak naik trail, biarpun cuma dibonceng.

Memilah cherry untuk proses wine, bersama bang Jafar dan Istri-istri Petani Kopi  | Dok Pribadi
 Sampai di tugu Desa Bone-bone, para cowok memutuskan untuk : rokok terakhir sebelum masuk ke Bone-bone. Kata bang Jafar sanksi dari pelanggaran bisa berupa teguran untuk pendatang hingga sanksi sosial seperti membersihan tempat ibadah dan memperbaiki jalan yang rusak untuk fasilitas umum. Keren ya? Mungkin nanti gue bakalan singgah kesini lagi untuk mengusut desa ini.

Perkebunan kopi disini sudah ada bahkan sebelum bang Jafar lahir. Bertemu dengan salah satu petani kopi, kamipun larut dalam perbincangan. Mereka benar-benar nggak pelit ilmu. Mulai dari kapan memetik kopi disini, bagaimana cara memelihara pohon kopi agar dapat menghasilkan beans yang berkulitas hingga varietas kopi yang di tanam disini. Bahkan sewaktu film Filosofi Kopi pertama dirilis, mereka pernah melakukan riset tentang kopi di perkebunan kopi ini.
Sepertinya mba Putri harus kembali kesini, karena di atas ada pohon kopi typica yang usianya sudah 300 tahun loh. Kalau sekarang sepertinya nggak kekejar untuk kesana - tutur bang Jafar.
Varietas kopi caturra | Dok Pribadi
Puas bercakap dan melihat perbedaan jenis varietas pohon kopi, kami melanjutkan perjalanan ke rumah penduduk yang biasa memproses kopi paska panen. Saat sampai di perkampungan warga, atmosfer disini benar-benar damai. Ibu-ibu disini yang memproses cherry-cherry kopi. Mereka cekatan banget untuk memilah cherry kopi, memproses (saat itu prosesnya semi wash) dan berbagi ilmu lagi. Mungkin benar kata Said bahwa yang paling tau karakter kopi adalah petani kopi bukan si barista.

Ibu, kalau nanti saya kesini lagi boleh menginap di rumah ibu nggak? - tanya gue ke salah satu ibu disini.
Lagi moto tapi difoto | Dok Pribadi
Gue baru tau, ternyata proses pengolahan kopi dari cherry sampai green beans itu bisa dibilang zero waste. Seperti yang kita tau, untuk mendapatkan green beans, cherry kopi perlu dipisahkan dari kulitnya. Nah kulit cherry ini kemudian ditimbun yang kemudian secara alami menjadi kompos. Kompos dari cherry kopi ini kemudian digunakan untuk pupuk pohon-pohon kopi. Dari pohon kopi kembali ke pohon.

Kata Bang Jafar, saat ini banyak yang datang kemari untuk membeli kopi tidak hanya yang sudah diproses, tapi yang cherrynya juga. Hal ini tak lepas karena fonomena "wine coffee" dan banyaknya orang yang berburu belajar memproses kopi sendiri. Salah satunya gue. Saat itu gue membungkus 2,5 kg cherry kopi untuk gue proses wine.

Oke temen kamu (Bang Jafar) keren. Aku suka sama anak muda yang punya pemikiran kaya dia - tutur si mas.

Setelah membungkus 2,5 kg cherry 1200 mdpl langsung dari petani kopinya dan 2 kg green beans Enrekang Nating semi wash process dari Coffee Santai Baraka, gue dan si mas pamit untuk pulang ke Makale. Malam Minggu bulan Juni 2019 kali ini kami habiskan di jalan, berbeda dengan Malam Minggu bulan Maret 2019 yang kami habiskan dengan duduk di bawah alang Tongkonan Kale Landorundun. Nggak ada dinner romantis! Hahaha.
Bang Jafar saat mengantar 'Jurnal Kopi' ke perkebunan kopi | Dok Pribadi
Menarik banget kan perjalanan gue kali ini. Dimana dari Coffee Santai Baraka gue bisa mengunjungi Desa Bone-bone dan perkebunan kopi disini. Bang Jafar pemilik kedai Coffee Santai Baraka lah yang bener-bener racun kali ini. Hahaha. Jadi kapan nih mau ngopi santai di Coffee Santai Baraka?

Makasih loh semuanya!

Bicara kopi di Sulawesi Selatan, ternyata tidak bisa dilepaskan dari Enrekang. Di sinilah kopi kalosi lebih dulu terkenal, jauh sebelum nama Toraja naik daun di dunia, tumbuh hingga ratusan tahun.
PS
Peluk dari jauh
Kedai Coffee Santai Baraka Saat Malam | Dok Pribadi


COFFEE SANTAI BARAKA
Instagram : @coffee_santai
Jam buka : DM instagramnya aja ya hehehe
Share:
Continue Reading →